MIIA

MIIA
Tak Terduga



Seperti yang sudah di rencanakan beberapa Minggu terakhir, sekolah Saga akan mengadakan studi tour ke beberapa tempat terkenal yang di hanya di ikuti oleh semua siswa kelas 12 Saja mengingat mereka akan segera menerima kelulusan setelah beberapa Minggu studi tour di lakukan.


Ada 3 bus pariwisata besar yang akan membawa rombongan tersebut dan kini semua sudah berbaris rapi di depan sekolah itu. semua siswa sangat berantusias untuk mengikuti studi tour itu. Sementara kelas yang lainnya di liburkan beberapa hari.


Saat ini Saga dan Dini tengah berada di rumah Raja dan mereka akan ke rumah Alin karena kondisi gadis itu tak cukup baik untuk beberapa hari terakhir. Terakhir kali saat Alin menelpon Raja dan setelah itu tiba-tiba sakit demam sampai hampir seminggu lamanya tidak ada perubahan.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Saga dengan melihat kondisi Alin yang terlihat semakin kurus.


"Aku baik-baik saja. Syukurlah kalian semua ada disini." jawab Alin yang membuat semua teman-temannya bingung.


"Kau tidak bosan berbaring terus di situ Lin? ayolah lekas sembuh aku kaya orang idiot di sekolah tidak punya temen." kata Dini dengan menghibur Alin.


"Bukankah hari ini keberangkatan Tour kelas 12? Apa mereka sudah mengecek semuanya? Keselamatan adalah nomor 1." kata Alin.


"Entahlah tapi mungkin sudah lah mana mungkin tidak di pastikan keselamatannya apalagi membawa banyak nyawa." kata Raja.


"Seharusnya mereka tidak berangkat hari ini..." ucap Alin yang tiba-tiba menangis sehingga membuat mereka bingung.


"Kau baik-baik saja? Ada apa kenapa kau tiba-tiba menangis seperti ini?" tanya Saga dengan bingung namun juga khawatir.


"Dari kemarin dia terus berceloteh tidak karuan, aku saja sebagai ibunya bingung apa yang sebenarnya dia katakan. Dia terus berbicara tentang keselamatan. Alin sayang kau belum minum obat. Ayo minum dulu." kata Bu Yuni ibu Alin.


Ketiganya hanya saling menatap saja. antara bingung dan juga pemikiran mereka langsung tertuju pada satu hal. Khawatir? Tentu saja itu yang mereka rasakan tapi mereka tidak tahu dan hanya bisa berdoa saja.


"Emm kenapa tidak di rawat di rumah sakit saja Bu?" tanya Dini.


"Dia tidak mau dan merasa lebih aman berada di rumah. Aku sampai bingung dengannya, apa yang sebenarnya terjadi... bukannya turun dan lekas membaik justru makin hari makin sakit dan demamnya makin tinggi. aku sudah memanggil dokter tapi tidak ada apapun yang terdeteksi dan dia di nyatakan baik-baik saja. Aku sungguh bingung." kata Bu Yuni


Setelah dari rumah Alin, mereka pun singgah sebentar di cafe terdekat dan mengobrol ringan. Mereka juga mencoba mengerti apa yang di katakan Alin tapi mereka tidak bisa langsung mengatakan hal yang belum mereka ketahui pastinya.


"apakah ini ada hubungannya dengan iblis itu? Ga kenapa aku merasa khawatir ya. Aku merasa akan ada sesuatu yang akan terjadi." kata Raja


"kita berdoa saja dulu agar semua yang kita takutkan tidak terjadi dan mereka dalam lindungan allah." ujar Saga yang merasakan hal yang sama seperti Raja.


"coba kau hubungi Si Bima." kata Raja yang membuat Saga langsung mengangguk


Saga menghubungi Bima dan menanyakan apakah keadaan disana baik-baik saja dan seperti harapan Saga jika semuanya baik-baik saja.


Sejak Saga menelponnya dan menanyakan keadaan disana, Bima terus menerus merasa gelisah karena ia tahu bagaimana Saga dan entah kenapa dia selalu merasakan perbedaan Saga dengan anak yang lainnya.


"Pak bisa kita berhenti sebentar lagi, kita istirahat dulu lagi." kata Bima pada pak Surya.


"Bukankah baru saja kita beristirahat Bim, ini sebentar lagi hampir sampai loh. apa kau merasa tidak enak badan?" tanya pak Surya yang di jawab gelengan kepala oleh Bima.


Pak Surya yang melihat wajah Bima yang terlihat gelisah pun juga nampak heran, ia berulang kali menanyakan keadaan remaja itu tapi jawabnya tetap sama.


Dari kejauhan salah satu siswi merasa aneh ketika menatap ke tebing-tebing yang mereka lalui itu seperti akan longsor tapi ia menepis pemikiran negatifnya tapi tetap saja ia menjadi meras gelisah apalagi rute yang mereka lalui memang melewati tebing yang curam dan tinggi karena tujuan mereka berada di gunung.


kebetulan sekali gadis itu duduk di sebelah Bima dan karena Bima adalah ketua OSIS jadi dia pun mengatakan kegelisahannya. mendengar hal itu tentu membuat Bima bertambah tidak tenang.


Posisi bus mereka berada di nomor terakhir sementara kedua bus yang di depan mereka sedang menuju ke tebing dimana siswi itu melihat jika akan terjadi longsor.


"sudahlah mungkin hanya perasaan kita saja." kata Bima


"kita?? apakah kau juga merasakan hal yang sama Bim?" tanya Indira dengan terkejut.


"ya begitulah." jawab Bima dengan tersenyum kecil.


Beberapa menit kemudian semua orang yang berada di bus tersebut merasakan adanya getaran hebat sehingga membuat semua panik dan berteriak. mata Bima dan Indira di buat melotot terkejut ketika pepohonan di tebing itu bergerak turun apalagi bus nomor 1 sudah sangat dekat dan hampir di bawahnya.


"Longsor." kata Indira dengan suara agar kerasnya dan berlari ke arah jendela depan dengan wajah pucatnya.


Kegelisahan yang di rasakan kedua siswa itupun terjawab, Bus nomor 1 tidak bisa menghindari tanah longsor yang terjadi secara tiba-tiba itu. bus nomor 1 itupun hampir tertimbun Tanah tapi beberapa saat kemudian akhirnya terguling ke jurang karena sebuah batu besar yang terus menerus jatuh.


Bus nomor dua hanya terkena efeknya saja tapi berhasil menghindar kecelakaan tersebut.


Semuanya menangis histeris melihat kecelakaan di depan mata mereka apalagi maksud kedatangan mereka hanya untuk bersenang-senang dan melepaskan penat mereka setelah 3 tahun itu menimba ilmu tapi naasnya sesuatu terjadi tanpa di duga-duga, bukannya bersenang-senang justru malah sebaliknya.


Mereka berlari melihat bus nomor 1 yang sudah berada di dalam jurang dengan keadaan benar-benar rusak parah. tidak tahu kondisi semua siswa dan guru yang berada di dalamnya karena kemungkinan untuk selamat sangat kecil dan mereka hanya bisa berdoa dan berharap yang terbaik untuk semua korban.


Saga dan teman-temannya masih berada di cafe dan mereka hampir 5 jam berada di sana karena banyak sekali perbincangan yang mereka lakukan. melihat Bima menelpon membuat Saga langsung mengangkatnya namun sedikit kemudian keterkejutannya tidak bisa ia tutupi.


"innalilahi wa Innailaihi raji'un...." ucap Saga dengan mata yang berkaca-kaca membuat semua teman-temannya bertanya-tanya.