MIIA

MIIA
Kadita



Mereka kembali mencari Dini di hutan Dengan berbekal lampu senter dan ada beberapa warga yang membawa obor atas perintah pak Ghani. Suasana hutan di malam hari benar-benar sangat gelap dan menyeramkan, tapi tidak membuat mereka menyerah. Mereka juga tidak bisa bergerak dengan bebas tanpa instruksi dari pak Ghani.


"Dini...." teriak mereka dengan terus mencari.


"Nak, boleh bapak bertanya sesuatu?' tanya Pak Ghani pada Saga .


"Iya pak boleh." jawab Saga.


"Oh ya panggil gadis yang satunya lagi karena bapak rasa kamu tidak tahu." kata Pak Ghani dengan tersenyum


"Alin.." kata Saga yang membuat Alin mendekat.


"Sepertinya temanmu melanggar pantangan desa ini. Sebelumnya maaf, apakah temanmu sedang...." ucap Pak Ghani dengan menatap Alin namun dengan cepat Alin langsung paham.


"Benar pak." jawab Alin yang membuat pak Ghani tersenyum kecil.


Sebuah penglihatan membuatnya terkejut dan langsung menyuruh semua untuk pergi ke arah air terjun pengantin. tentu semuanya panik ketika mendengar itu. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam dan mereka masih belum bisa menemukan keberadaan Dini.


Jalan yang mereka lalui untuk sampai ke air terjun pengantin cukup ekstrim. rintik hujan pun mulai turun membuat jalan yang mereka lalui sangat licin dan harus ekstra hati-hati. Pemandangan kanan dan kiri mereka hanyalah pohon dan kegelapan malam saja.


Beberapa kali Saga merasakan getaran pada kalungnya. Ia juga memanggil Mia namun entahlah kenapa gadis hantu itu tidak muncul.


"Saga, cepat! Temanmu dalam bahaya." kata Mia yang tiba-tiba saja muncul membuat Saga terkejut bukan main.


"Aku merasakan getaran pada kalungku beberapa kali Mia." kata Saga dengan suara pelannya.


"Ya aku tahu karena dia juga yang terlibat paling utama." ujar Mia membuat saga terkejut sekaligus benar-benar ingin segera mengakhiri semuanya.


tatapan mata Mia bertemu dengan tatapan mata pak Ghani. Mereka bertatapan cukup lama seolah sedang berbicara dalam hati, setelah itu Mia menghilang lagi. Pak Ghani juga menatap Saga dengan tatapan sulit di artikan.


Dari kejauhan Raja melihat seorang gadis yang tengah berjalan memunggungi dan nampak jelas jika itu adalah Dini. Dengan cepat ia berlari dan memanggil dini membuat semuanya menoleh ke arah Raja berlari. Namun ketika sampai di belakang gadis itu bertapa terkejutnya ketika gadis itu berbalik.


"Hihihihihi kau mencari ku?? Kau harus ikut denganku hihihihi...." ucap wanita misterius yang ternyata adalah makhluk tak kasat mata.


"Astaghfirullah hal'adzim..." teriak Raja dengan terkejut sehingga tanpa sengaja ia terpeleset dan hampir saja terjatuh ke jurang.


"Arrgghhhhhh pak tua kenapa kau selalu menggangguku." teriak wanita misterius itu dengan frustasinya kemudian menghilang.


Segera semua menolong Raja yang kini tengah berpegangan pada sebuah akar yang menjalar. ia naik di bantu Saga dan beberapa pemuda. Kakinya terkilir yang membuatnya sulit berjalan namun ia tetap memaksa untuk berjalan agar dini segera ketemu.


"Kau yakin." kata Saga dengan memegangi Raja.


"Ck singkirkan tanganmu itu. Kau pikir aku sangat lemah." kata Raja dengan menepis tangan Saga.


"Ayoo cepat waktu kita tidak banyak. temanmu sedang dalam bahaya." kata pak Ghani dengan raut wajah khawatirnya.


"Dini....." teriak Alin dengan mata berkaca-kaca.


Di sebuah tempat bak istana kerajaan, Dini tengah terbaring dengan mata terpejam namun sedetik kemudian ia membuka matanya dan bingung melihat pemandangan di depannya.


"Kau sudah bangun gadis manis?" tanya seorang wanita cantik dan elegan pada Dini.


"Siapa kau?" tanya Dini dengan penuh waspada.


"Kadita, panggil aku Dita atau apapun itu terserah kau saja. Teman-temanmu bilang aku harus menjagamu karena kau sedang sakit. mereka akan segera menjemputmu ketika urusan mereka sudah selesai." kata Wanita cantik yang ternyata bernama Kadita itu dengan tersenyum manis.


"Benarkah?" tanya Dini dengan menatap curiga.


"Bukankah temanmu bernama emm sebentar siapa ya aku sedikit lupa hahaha...Ahh iya Saga." kata Kadita dengan tersenyum


"Kau belum makan bukan. Aku sudah menyiapkan banyak makanan enak untukmu. kau harus cepat pulih agar bisa kembali bersama teman-teman mu." lanjutnya.


Dini di ajak ke sebuah ruangan yang sangat indah dengan berbagai makanan kesukaannya yang tersedia disana. Banyak para wanita yang berbaris rapi dengan kepala menunduk di sepanjang jalan. Ia di perlakukan bak putri dongeng.


Entah kenapa ketika mendengar wanita itu menyebut nama Saga, Dini langsung percaya dan yakin dengan wanita itu. Karena memang dia belum makan, akhirnya ia pun makan dengan lahapnya. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan makanan yang sangat lezat seperti yang tengah ia makan. ia juga di suguhkan dengan berbagai macam minuman enak dan ia mencicipi semuanya.


Setelah kenyang dia di ajak ke sebuah kolam renang dengan air hangat bertabur berbagai macam Bunga dengan aroma yang begitu menenangkan. Ia memejamkan matanya dan merilekskan tubuhnya. Ia benar-benar terlena dengan semua kenikmatan dan kenyamanan yang di dapat sehingga enggan untuk beranjak sedikit saja.


"Apakah kau sudah selesai?" tanya Kadita dengan menghampiri Dini


"sebenarnya siapa kau? Kenapa kau melakukan ini padaku? Apakah sebelumnya kita pernah saling kenal?" tanya Dini.


"Ya tentu saja. Dulu kita berteman sangat baik, apakah kau ingat?" jawab Kadita yang membuat Dini mengangguk.


"Baiklah aku masih ada beberapa urusan lagi, lakukan apapun yang kau mau disini dan anggap saja ini sebagai rumahmu." lanjutnya dengan berlalu pergi


"Ahh aku tidak ingin pulang rasanya...." gumam Dini dengan memejamkan matanya.


"Mereka sedang memasuki wilayah kita." kata seorang wanita yang merupakan dayang Kadita


"Aku tidak akan membiarkan siapapun menganggu rencanaku lagi termasuk Ghani brengsek itu." kata Kadita dengan mengepalkan tangannya.


Ia menghampiri Dini dan mengajaknya ke suatu tempat. Ia memperlihatkan kejahatan semua teman-temannya dan sifat asli saat di belakang Dini. tidak perlu waktu lama kini hati dini sudah di butakan dengan kebencian pada ketiga temannya, tapi masih ada sedikit rasa keraguan pada hati Dini tentang semua yang dia lihat.Tapi tentu itu semua hanyalah ilusi yang di buat Kadita untuk mempengaruhi Dini.


"Setelah melihat ini apakah kau masih menganggap jika semua teman-teman mu baik padamu." kata Kadita dengan tersenyum smrik.


"Aku tidak menyangka mereka bisa berbuat seperti itu di belakangku. Padahal aku sangat percaya pada mereka tapi mereka malah melakukan itu. mereka mengkhianati kepercayaan ku." ucap Dini dengan raut wajah yang sudah berubah.


"Kau mau bukan jika kau tetap disini bersamaku karena aku tidak punya teman lagi selain dirimu." kata Kadita membuat Dini menatapnya.