
Saat ini Saga bersama Raja tengah berada di ruang lab untuk memastikan apa yang di katakan pak Budi memang benar adanya. Ya memang pak Budi tahu banyak tentang kasus 2005 tapi beliau tidak mengatakannya secara jelas sehingga mereka pun harus mencari dan memastikannya sendiri. Seperti sebuah teka teki yang tengah mereka pecahkan.
"Bu Lilis menjadi kepala sekolah cukup lama Ga, dan dari cerita pak Budi saat itu Bu Lilis juga tengah mengejar pendidikannya di luar kota. Beberapa bulan Bu Lilis hilang tanpa kabar dan tiba-tiba kembali, tapi bertepatan dengan kembalinya Bu Lilis kejadian mengerikan itu terjadi pada siswa di SMA Adiwangsa. Entah itu kebetulan atau memang ada hubungannya antara kembalinya Bu Lilis dan kejadian itu." kata Raja
Saga teringat perkataan Mia jika ibu Mia juga seorang kepala sekolah di SMA Adiwangsa tapi setelah Mia meninggal dunia, beberapa bulan setelahnya ibunya juga meninggal. Saga menyimpulkan dan yakin jika Bu Lilis adalah ibu Mia karena dia kepala sekolah yang meninggal di tahun 2005 begitupun juga kematian Mia yang terjadi di tahun yang sama dan setelah itu kepala sekolah di ganti oleh seorang pria.
Yang masih membuat Saga bertanya-tanya, jika Bu lilis adalah pelakunya tapi beliau sudah meninggal lalu kenapa Mia mengatakan jika ibunya masih hidup dan ada di suatu tempat yang tidak di ketahui orang lain.
Saga memang belum ingin memberitahu keberadaan Mia, tapi cepat atau lambat dia akan memberitahu teman-temannya tentang keberadaan Mia.
"Apa kita akan ke alamat yang di berikan pak Budi?"tanya Raja dengan menatap Saga.
"Ya, kita harus kesana." jawab Saga yang membuat Raja mengangguk
"Ternyata kalian disini hah aku mencari kalian sampai mataku hampir copot." sebuah suara membuat keduanya Menoleh.
Di lihatnya Alin bersama Dini yang datang. Mereka melihat apa yang tengah kedua laki-laki itu lakukan. Namun ada sesuatu yang menurut mereka penting yang ingin mereka tunjukkan pada keduanya.
"cepatlah." kata Alin.
Mereka menuju ke belakang sekolah tepatnya di sumur terbengkalai itu. Dilihatnya ada 4 ayam cemani yang tergelak tak bernyawa dan beberapa bunga 7 rupa yang sudah kering. Seperti ada sebuah ritual yang terjadi tadi malam.
"Hari ini hari Rabu kan? Itu artinya dia menjalankan aksinya lagi tadi malam. Tapi tidak ada kabar siswa yang meninggal hari ini." kata Alin dengan menatap mereka bergantian.
"Syukurlah." ucap Raja.
"4 Ayam cemani....kita..." ucap Saga yang membuat ketiganya menatapnya dengan bingung.
"Apa yang kau maksud?" tanya Raja bingung.
"Kau tidak ingat kejadian kemarin malam kita hampir terjebak di kampung Ghaib itu? Bisa jadi 4 ayam cemani itu adalah kita dan kau bisa lihat sendiri bukan semua bunga ini kering, itu semua karena kita selamat, mungkin jika kita benar terjebak disana semua bunga ini masih segar." kata Saga yang membuat ketiganya terkejut.
"Berarti dia sudah selangkah lebih maju dari kita. apakah dia memata-matai kita sehingga tahu apa yang kita lakukan." kata Alin
"Bukan selangkah lebih maju, dia hanya memberikan peringatan agar kita tidak terlalu ikut campur. Aku minta tolong pada kalian semua jangan ada yang melupakan dzikir dan setiap saat dimana pun kalian berada dan yang paling penting berdoa sebelum tidur." kata Saga yang membuat mereka mengangguk.
Seharian ini Saga terus mencari dan memanggil keberadaan Mia namun entah apa yang terjadi dengan gadis hantu itu kenapa tidak datang.
"Ada apa sih memanggil saya terus." kata Mia yang sudah duduk di atas lemari Saga.
"Kau itu kemana saja, ku panggil sampai mulutku hampir berbusa. kau kemana hah!!" kata Saga dengan kesalnya.
"Kamu tidak tahu kah saya di tangkap oleh mereka dan beruntung saya bisa kabur karena mendengar teriakan kamu barusan. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Mia.
"Apa ini ibumu?" tanya Saga dengan menunjukkan foto wanita berambut pendek sebahu.
"Iya benar ini ibu saya. Kenapa? Kamu menemukan sesuatu tentangnya?" tanya Mia dengan penasarannya.
"Besok aku akan ke rumahnya." jawab Saga.
"Loh bukannya kemarin kamu sudah ke rumahnya." kata Mia.
"Sudah pindah. kau kan anaknya, itu berarti kau juga ikut pindah dengan ibumu juga?" tanya Saga.
"Tidak. Saya hanya tinggal berdua bersama mbak saya. bukankah waktu itu saya sudah bilang jika ibu saya orang yang sangat sibuk." kata Mia.
"Pak Budi bilang ada anak perempuan yang juga mencari hal yang sama seperti ku dulu. Apakah itu kau?" tanya Saga dengan menatap Mia.
"Tidak tahu. Siapa itu pak Budi? paman kamu ya..." kata Mia
"Bukan lah sembarangan. Dia penjaga rumah Bu Lilis yang sudah tidak di tempati sekarang. Tapi kenapa aku merasa itu adalah kau..." ucap Saga dengan menatap curiga Mia.
"Tidak tahu saya lupa." timpal Mia dengan menggigit jarinya.
Ia kembali memandangi satu persatu foto kepala sekolah dari tahun 2005 sampai 2018. dalam benaknya ia memang merasa heran karena hanya satu pria saja yang menjadi kepala sekolah dan setelah itu wanita. Namun jika di lihat secara seksama semua wajah yang menjadi kepala sekolah hampir mirip dengan ibu Mia.
Ia juga masih penasaran bagaimana kakeknya bisa tahu jika dirinya sedang dalam bahaya. Memang kakek Saga di kenal sebagai sesepuh di desanya, tapi apakah mungkin jika beliau tahu apa yang tengah Saga lakukan adalah hal yang sangat berbahaya.
Saga memutuskan untuk kembali ke kantor ayahnya secara diam-diam untuk mengecek kembali data-data yang waktu itu tidak sempat ia baca. Ia pun tahu siapa yang menangani kasus 2005 dan ia bermaksud ingin menemuinya agar bisa mencari tahu lebih dalam lagi.
Ia juga masih terus mencari apa saja yang ada kaitannya dengan kasus 2005.