MIIA

MIIA
Ke Rumah Pak San



Saat jam istirahat Saga bermaksud ingin menemui Pak San dan menceritakan mimpi yang menurutnya aneh padanya. Karena rumah pak San terletak di belakang sekolah persis jadi tidak perlu memerlukan waktu yang lama untuk sama di rumahnya.


pemandangan pertama yang ia lihat saat sampai di rumah pak San adalah kebun kecil yang di tanami sayuran dan beberapa bunga yang tumbuh dengan indahnya disana. Suasananya benar-benar tenang dan damai.


Sebenarnya Saga sedikit ragu ketika ingin mengetuk pintu. Ia melihat sekelilingnya yang memang hanya dia sendirian disana, dan ia selalu merasa jika ia selalu di perhatikan oleh seseorang namun ia buru-buru menepis pemikirannya.


"Assalamualaikum...." ucap Saga dengan mengetuk pintu.


"Wa'alaikumsalam...iya nak ada apa?" ucap seorang wanita paruh baya yang Saga yakini jika itu adalah istri dari pak San.


"Pak San di rumah Bu?" tanya Saga


"Oh bapak lagi keluar nak. Ada apa? nanti saya sampaikan barangkali ada yang penting." kata wanita paruh baya itu dengan ramahnya.


"Ah ya hanya hal kecil saja buk. kira-kira pulangnya jam berapa ya?" tanya Saga.


"Tidak tentu nak tapi biasanya kalau sore hari bapak di rumah. Atau kalau tidak nak siapa ya namanya..." kata wanita itu.


"Saya Saga Buk." jawab Saga dengan tersenyum.


"Oh ya Nak Saga, kamu kesini saja sore nanti pasti bapak sudah di rumah." kata wanita itu dengan tersenyum


"Baiklah Bu, nanti sampaikan saja pada pak San jika saya datang. Kalau begitu saya permisi dulu ya assalamualaikum." kata Saga


"Baik nak wa'alaikumsalam." jawab wanita itu.


"Kamu ngapain ke rumah itu?" tanya Mia yang tiba-tiba muncul.


"Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan pada pak San." jawab Saga.


"Kenapa tidak bercerita saja sama saya. Dia tidak akan mendengarkan kamu." kata Mia.


"Apakah kau dapat ku percaya? bukankah semua jin dan setan itu sama saja selalu menyesatkan manusia." kata Saga.


"Tidak semuanya. Saya jin muslim dan tugas saya membantu dan menolong manusia, lain halnya jika saya jin kafir. kamu harus bisa membedakan jin kafir dan muslim." kata Mia yang membuat Saga menganggukkan kepalanya paham.


"Beberapa hari ini aku bermimpi aneh dan itu selalu sama. Disana ada pak San juga tapi dia hanya menatap ku dan tidak menolong sama sekali ketika aku di tindih oleh bayangan hitam itu." kata Saga.


"Kamu sudah sering mimpi seperti itu?" tanya Mia.


"Sudah 3 kali dan itu semuanya mimpi yang sama." jawab Saga.


"Semua mimpi itu karena kamu sudah terlibat di dalamnya." kata Mia.


"Terlibat apa? Apakah ini tentang kematian Luna dan Dwi ataukah kejadian dulu di SMA ini?" tanya Saga.


"Saya tidak tahu, tapi sepertinya ini seperti sebuah peringatan agar kamu tidak terlibat lebih jauh lagi pada apa yang sedang kamu lakukan dan cari." kata Mia.


"Kau menyuruhku untuk tidak mencaritahu lagi begitu?" tanya Saga.


"Lebih baik kamu jangan penasaran lagi, yang di katakan Mang Jaya itu benar kamu harus fokus pada studimu saja." kata Mia.


"Mang jaya?" tanya Saga bingung


"saya mendengar pak San di panggil mang jaya." ujar Mia dengan berjalan lebih dulu.


Sampai di kelasnya, ternyata Saga sudah mendapatkan tatapan aneh dari Raja namun ia tidak menghiraukannya.


"Dari mana kau?" tanya raja


"Dari toilet kenapa?" jawab Saga yang membuat Raja menaikkan alisnya


"Yayaya aku tau itu." jawab Raja dengan malasnya.


Sorenya semua OSIS berkumpul di ruangan khusus. Mereka membicarakan kegiatan yang akan di laksanakan besok. Sebagai bentuk kelancaran kegiatan, tentu mereka juga harus bekerja lebih keras.


Rapat OSIS selesai pukul 5 sore, semuanya sudah pulang kecuali Saga yang memilih untuk mendatangi lagi rumah pak San


Suasana menuju ke rumah pak San cukup membuat Saga merinding entah itu karena dua baru pertama kali lewat atau bagaimana. dengan reflek ia mengucapkan nama Mia yang membuat gadis itu langsung muncul membuat Saga terlonjak kaget.


"Assalamualaikum dulu!!!" seru Saga.


"Assalamualaikum... Kamu terkejut? Padahal kamu yang memanggil nama saya." kata Mia.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Saga dengan datarnya


"Kamu merasa ada yang memperhatikan kamu ya?" tanya Mia.


"Dari mana kau tahu?" tanya Saga .


"Kamu lihat disebelah sana." kata Mia dengan menunjuk ke arah pohon mangga dimana disana ada seseorang perempuan rambut panjang dengan pakaian seragam namun sudah penuh dengan darah.


"Astaghfirullah hal'adzim." seru Saga dengan memalingkan wajahnya.


"Kamu bisa melihatnya kan? Dia tatin murid sekolah kamu dulu. Dia mati gantung diri di sebelah sumur sana." kata Mia


"Sudah diam!" kata Saga dengan nada sedikit keras dan buru-buru mempercepat jalannya.


"Heii tunggu saya!!' teriak Mia dengan mengejar Saga.


Sampai di depan rumah pak San, Saga langsung di persilahkan masuk oleh istri pak San. Ketika dia berada di dalam rumah pak San, tatapan tertuju pada sebuah lukisan kuno. Ia menghampiri dan menyentuhnya serta menerka apa artinya


Di meja juga tersusun beberapa foto seorang gadis cantik serta pak San dan istrinya. Ada sebuah bingkai dengan foto 4 orang gadis yang menurut Saga salah satu dari wajah ke empat gadis itu tidak asing. Ia juga melihat ada sebuah kotak seperti peti yang membuat dia penasaran apa isinya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" sebuah suara membuatnya terkejut dan menoleh.


"Ahh ya pak maaf saya sedang melihat saja." ucap Saga dengan canggungnya.


"Duduk dulu." kata pak San.


"Ada apa?" tanya Pak San tanpa bas basi.


"Emm begini pak ada yang ingin saya ceritakan pada bapak." kata Saga


"Soal mimpimu?" kata pak San yang membuat Saga terkejut.


"Bagaimana bapak bisa tahu." tanya Saga.


"Hanya menebak saja. Sudahlah kamu jangan berfikir yang aneh-aneh kamu fokus pada studimu saja. mimpi itu hanya bunga tidur." kata pak San.


Saga sungguh bingung ingin menjawab apa karena kata-kata pak san seakan membuatnya benar-benar terpojok dan kehabisan kata-kata.


"Saya hanya ingin mendengar cerita SMA yang dulu." kata Saga.


"Kenapa kamu ingin mendengar?" tanya pak San.


"Karena saya ingin tahu lebih dalam soal sekolah saya saat ini." jawab Saga yang membuat pak San menatapnya dengan dalam.


"Ya seperti sekolah pada umumnya tapi kalau sekarang sudah maju dan pembangunan gedung juga sudah bagus." kata pak San.