
Setelah terbangun di tengah malam, Saga tidak langsung tidur lagi, ia lebih memilih untuk melakukan solat tahajud dan menenangkan dirinya. setelah solat selesai ia pun membuka laptopnya dan tiba-tiba saja tangannya mengetik sesuatu untuk ia cari tahu.
Sebenarnya tadi saat Saga ada di ruang kerja ayahnya, ia membaca sebuah artikel tentang sekolahnya dulu namun ia tidak sempat membaca karena ia sudah mendengar suara mobil ayahnya yang pulang, karena itu dia memutuskan untuk mencari tahu lewat google.
Setelah dia mengklik SMA Adiwangsa dulu, langsung tertera berbagai informasi seputar sekolah negeri tersebut. Namun sebuah artikel membuatnya tertarik dan penasaran. Ia membacanya dengan seksama dan betapa terkejutnya ketika dia membaca banyaknya kematian siswa pada tahun 2005 apalagi disana ada nama Mia, gadis yang selalu mengikutinya.
Ia membaca keseluruhan dan ternyata masih ada pro kontra tentang artikel tersebut. semua itu tentu membuatnya bingung dan akhirnya dia mencari siapa yang sudah menulis artikel itu dan bermaksud untuk menanyakan langsung padanya.
"Kenapa aku mendadak menjadi tertarik dengan kasus ini...apa lebih baik aku tanyakan saja pada ayah sebelum menemui narasumbernya." gumam Saga
Pagi itu di meja makan Saga bermaksud ingin menanyakannya pada ayahnya, namun ayahnya sudah berangkat lebih dulu, alhasil dia pun hanya bisa menunggu saja.
"Aihhh dimana dasi dan topiku, perasaan aku selalu menaruhnya disini tapi kenapa tiba-tiba tidak ada." gumam Saga dengan mencari dasi dan topinya namun tak kunjung ketemu.
Karena jam sudah agak siang dan ia tidak ingin terlambat akhirnya ia pun terpaksa memakai dasi dan topi lamanya. saat ia akan keluar, pandangannya langsung tertuju pada Mia yang sedang bercermin membenarkan topinya.
"Pantas saja aku mencarinya tidak ada. hihhh dia benar-benar...." kata Saga dengan kesalnya.
"Dari mana kau mendapatkan topi dan dasi ini?" tanya Saga ketika melihat Mia yang sudah berada di atas motornya memakai dasi dan topi layaknya anak sekolah.
"Oh iya tadi saya pinjam. Ini punya kamu kan." kata Mia
"Lain kali kalau mau pinjam barang orang bilang terlebih dahulu." kata Saga dengan datarnya.
"Saya sudah bilang tapi kamu tidak dengar." kata Mia tak ingin kalah.
"Lalu kenapa kau memakai itu semua?" tanya Saga.
"Tentu saja saya mau ikut upacara bendera. Saga ayo berangkat nanti kamu terlambat loh. bukankah kamu jadi pemimpin upacara." Kata Mia yang membuat Saga berdecak kesal namun ia hanya bisa menghela nafasnya saja.
"Hihihi aku rasanya seperti anak muda lagi." kata Mia dengan terkikik yang membuat Saga merinding.
"Oh iya saya lupa kamu kan takut dengan suara ketawa saya." ujar Mia dengan terus menyentuh dasi dan topi yang dia pakai.
Belum sampai di sekolah, saat Saga melihat ke kaca spionnya, ia sudah tidak melihat Mia lagi, entah kemana perginya gadis hantu tersebut ia juga tidak tahu.
Saat ia berjalan di halaman dan akan menuju kelasnya dia melihat jika Mia sudah sampai lebih dulu dan berdiri tepat di depan tiang bendera.
Upacara pun di mulai dengan begitu khidmatnya. Saat amanat, ada beberapa pesan dari pembina upacara yang membuat siapa saja tersentuh. Namun berbeda dengan Saga ia justru tidak fokus mendengarkan dan justru malah terus fokus pada Mia yang berpindah-pindah tempat.
Saat upacara hampir selesai, di barisan paling belakang terjadi keributan yang membuat semua guru langsung menghampiri kerumunan itu. Upacara masih berjalan namun beberapa saat kemudian Saga yang melihat kondisi benar-benar kacau ia pun langsung membubarkan barisan dan berlari ke kerumunan tersebut.
"Oh God...yang benar saja kesurupan lagi." kata Raja dengan terkejutnya.
"Saga saya minta kamu tetap berdoa ya." kata Mia yang berdiri di samping Saga seakan dia benar-benar sudah siap melindungi Saga.
"Apa yang sebenarnya terjadi..." bisik Saga Pada Mia.
Suasana benar-benar ricuh dan tak terkendali apalagi ketika pak San datang bersama pak Miftah, semua siswa yang kerasukan langsung berteriak seperti ketakutan melihat kedatangan mereka berdua.
Pak San langsung membacakan doa untuk semua siswa yang kerasukan. Beberapa saat kemudian semuanya pun mulai siuman kecuali satu orang yang terkesan seperti menantang pak San.
"Keluar kau dari tubuh anak ini." kata Pak San.
"Hihihihi aku tidak mau. Saya akan membawa tubuh anak ini bersamaku hahaha." kata siswi tersebut yang membuat pak San kembali membacakan doa.
"Aaaaarrghhhh kau!!! Kau akan mati hihihihi hahaha." kata siswi itu dengan menunjuk salah seorang siswi yang berdiri tak jauh darinya.
Tentu saja perkataan itu membuat semua orang terkejut bukan main. setelah mengatakan ucapan yang membuat semuanya bergidik ngeri, siswi itupun langsung jatuh pingsan.
"Karena semuanya sudah bisa di atasi bapak minta semuanya kembali ke kelas masing-masing karena pelajaran akan segera di mulai." kata Pak Danu
"Pak bagaimana kalau terjadi lagi?" tanya salah seorang siswa dengan wajah khawatir.
"Yang terpenting kalian berdoa sama minta perlindungan pada Allah insyaallah semuanya akan baik-baik saja." jawab pak Danu
Setelah itu semuanya pun kembali ke kelas masing-masing dan hanya menyisakan para guru dan beberapa anggota OSIS.
Ketika tatapan mata Saga bertemu dengan mata pak San, ia merasa ada sesuatu namun ia tidak bisa menyimpulkan begitu saja.
"Saga beliau adalah pak San, bisa di katakan dia adalah juru kunci dari sekolah ini." kata Pak Aldi yang membuat Saga dan teman-temannya bingung.
"Juru kunci?" tanya mereka dengan serempak.
"Ya karena dulunya sekolah ini di bangun di atas tanah yang tidak bisa di tempati oleh manusia dan beliau lah yang bisa membuat tempat ini akhirnya menjadi sekolah." jawab pak Aldi
"Sudah sudah tidak perlu di perpanjang lagi, lebih baik kalian semua belajar jangan mengurusi hal-hal seperti itu. Anggap saja tadi hanyalah sebuah pertunjukan drama." kata Pak San dengan raut wajah datarnya kemudian berlalu pergi setelah menganggukkan kepalanya pada pak Aldi.
"Bapak akan mengantar pak San dulu kalian masuk ke kelas ya." kata pak Danu
"Aku baru dengar kalau dulunya sekolah ini tidak bisa di tempati oleh manusia." kata Raja.
"Apa artinya, disini banyak hantu dan jin. Ahh pantas saja beberapa hari ini sekolah kita tidak tenang dan sering terjadi kesurupan. Atau jangan-jangan penunggu sekolah ini marah dan akan meminta tu...." kata Alin dengan bergidik ngeri namun langsung mendapatkan tepukan keras di bahunya.
"Kau bicara apa hah!!!!" kata Raja dengan kesalnya.