MIIA

MIIA
Menemukan Rumah Bu Lilis



Mereka sampai di tempat tujuan dan juga menemukan bapak-bapak tua yang menjual bensin eceran. Karena memang benar-benar hampir habis akhirnya Raja pun membeli semuanya sehingga membuat bapak-bapak tua itu gembira bukan main.


"Jarang sekali ada anak sekolah kesini." kata Pak Aziz yang penasaran.


"Begini pak, kami ingin ke rumah Bu Lilis yang dulu pernah menjadi kepala sekolah di SMA Adiwangsa. apakah bapak tahu persis dimana rumahnya karena menurut alamat yang kami baca, kami sudah sampai, tapi kami tidak tahu dimana rumahnya." kata Raja.


"Oh saya tahu Bu Lilis ya... rumahnya ada di paling ujung cat biru, kamu lurus saja dari sini nanti kalau ada pertigaan belok ke kiri dan rumah biru paling pojok adalah rumah beliau. Tapi sepertinya rumah itu sudah lama kosong dan warga disini tidak tahu kemana perginya Bu Lilis." kata Pak Aziz.


"Apakah bapak tahu keluarganya atau saudaranya?" tanya Saga.


"Setahu saya Bu Lilis hanya tinggal sendirian, dia sangat tertutup dan tidak suka berbaur dengan warga disini nak." jawab Pak Aziz.


"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu pak. Terimakasih atas informasinya pak assalamualaikum." ucap Saga dengan mengangguk tersenyum.


"Wa'alaikumsalam nak. Kamu coba saja kesana siapa tahu masih ada orang." kata pak Aziz..


Mereka pun segera menuju ke rumah Bu Lilis seperti arahan dari pak Aziz sehingga kini mereka sampai di depan sebuah rumah yang lumayan besar dan luas bercat biru namun seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.


"Besar sekali rumahnya..." gumam Dini dengan takjubnya.


"Iya tapi sayang sudah tidak di tempati lagi." timpal Alin.


Mereka pun masuk ke pelataran rumah Bu Lilis karena memang tidak di beri pagar. Raja mengetuk pintu berulang kali namun tidak ada siapapun yang keluar ataupun yang datang sehingga membuat mereka yakin jika rumah itu memang sudah tidak di tempati.


"Sedang apa kalian disini?" tanya seorang yang membuat mereka terkejut dan berbalik.


Dilihatnya seorang pria paruh baya menatap mereka dengan tatapan datarnya sambil memegang sebuah gunting taman dan mereka langsung bisa menebak jika pria paruh baya itu adalah tukang kebun yang mengurusi rumah Bu Lilis.


"Ah ya perkenalkan saya Sa..." ucap Saga namun ucapannya langsung di potong oleh pria itu.


"Ada apa kalian kesini?" tanya Pria itu dengan wajah dinginnya seakan kedatang Saga dan teman-temannya membuatnya tidak nyaman.


"Kami kesini ingin bertemu dengan Bu Lilis. Kalau boleh tahu siapa anda?" tanya Raja dengan nada suara yang terdengar kesal sehingga membuat Saga langsung menyenggolnya agar Raja tidak membuat suasana menjadi buruk.


"Kau bertanya siapa aku? Lebih baik kalian pulang saja karena disini tidak ada yang orang dengan nama yang kalian sebutkan itu." kata pria itu dengan berlalu pergi.


"Tunggu sebentar..." kata Saga yang membuat pria itu menoleh.


"Apakah bapak benar-benar tidak tahu karena kami ada sesuatu penting yang ingin di bicarakan dengan beliau." lanjutnya.


"Aku bilang tidak ada jadi pulanglah." kata pria itu dengan nada suara tidak bersahabat.


"Kami datang dan bertanya dengan baik-baik jadi setidaknya berkatalah dengan semestinya." kata Raja dengan kesalnya.


"Jaga cara bicaramu." kata pria itu dengan menunjuk wajah Raja sehingga membuat Raja langsung tersulut emosi.


"Beraninya kau menunjuk-nunjuk gue..." kata Raja


"Raja apa yang kau katakan hah " seru Saga ketika melihat Raja yang sudah tersulut emosi.


"Ya memang rumah ini sudah sangat lama tidak di tempati dan aku yang mengurusnya sampai sekarang. Aku tidak bisa bercerita lebih lagi, hanya saja jika kalian mencari Bu Lilis disini, kalian salah. Bu Lilis sudah lama pergi setelah beliau sakit parah dan tidak ada yang merawatnya disini." kata pria itu.


"Apakah Bu Lilis ini memiliki keluarga?" tanya Saga.


"Entahlah aku tidak tahu. Itu sudah sangat lama dan aku sedikit lupa. Dia pergi bersama seorang wanita tua yang kemungkinan besar itu adalah ibunya atau neneknya." kata pria itu.


"Apakah bapak tahu dimana Bu Lilis pindah?" tanya Saga.


"Aku punya alamatnya tapi aku juga tidak bisa memastikannya jika sekarang beliau masih di tempat itu." kata pria itu dengan memberikan secarik kertas pada Saga.


"Ah ya terimakasih pak." ucap Saga dengan tersenyum.


"Tapi jika boleh tahu, apa yang membuat kalian ingin bertemu dengan Bu Lilis?" tanya pak Budi.


"Kami ada tugas sejarah dan kami membaca sebuah artikel yang menarik sehingga kami ingin tahu yang semestinya." jawab Saga yang membuat pak Budi menatapnya heran.


"Artikel apa?" tanya pak Budi yang merasa sedikit curiga dan Saga merasakan hal itu.


"Apakah bapak tahu tentang sebuah artikel kasus 2005 silam?" tanya Saga yang membuat pak Budi terkejut namun secepatnya ia berusaha untuk tetap tenang.


"Sedikit...tapi kenapa kalian memilih tema itu? Bukankah masih banyak tema yang seharusnya kalian kerjakan." tanya Pak Budi.


"Menurut saya sama saja pak." jawab Saga.


"Ahh begitukah...lebih baik kalian pulang karena sudah terlalu sore. usahakan kalian harus pulang sebelum malam tiba." kata Pak Budi.


"Baik pak saya mengerti. sekali lagi terimakasih pak, kami permisi dulu Assalamualaikum." kata Saga dengan beranjak pergi di susul dengan yang lainnya.


"Anak-anak itu tidak tahu betapa berbahayanya kasus itu. Kenapa mereka memilih itu untuk tugas mereka? Huffttt semoga kalian berhasil memecahkannya dan bapak berdoa kalian baik-baik saja dan di lindungi oleh yang maha kuasa." gumam pak Budi dengan menatap punggung keempat remaja itu.


Ya siapa yang tidak tahu kasus mengerikan yang terjadi di tahun 2005, dan sampai sekarang masih belum di ketahui penyebab pastinya apa dan tiba-tiba datang keempat anak remaja yang dengan polos dan entengnya ingin memecahkan misteri tersebut.


"Aku jadi mengingat gadis itu..." ucap pak Budi dengan mengingat seorang gadis yang dulu juga pernah bercerita tentang hal demikian.


Di dalam mobil Raja masih terus berkata kasar dan mengumpati pak Budi. Raja memang tipe orang yang tempramental dan itu membuat semua teman-temannya hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Saga suruh si tengil itu bicara yang baik. Semua penghuni disini sedang mendengarkan dan melihatnya. jangan sampai semua perkataan konyolnya itu mengundang bahaya untuk kalian semua." kata Mia dengan memberitahu Saga .


"Raja istighfar...kita sedang di desa orang jangan bicara sembarangan." kata Saga dengan memperingatkan Raja.


"Yang di katakan Saga benar Raja. lebih baik kau diam saja dan ingatlah perkataan pak Budi, kita harus secepatnya keluar dari sini sebelum malam tiba dan ini sudah jam 5 sore." kata Alin.


"Halahh perkataan apa, apakah dia tidak tahu attitude memperlakukan tamu. kita datang baik-baik dan dia menyambutnya seperti itu, anj** memang orang itu." kata Raja dengan menggebrak setir mobilnya dan bertepatan dengan itu mobil yang mereka tumpangi pun tiba-tiba berhenti.


Minal aidzin wal faidzin gaesss mohon maaf jika ada salah kata yang menyinggung kalian tapi percayalah author ngga bermaksud kok. Kita saling memaafkan di hari yang penuh dengan kemenangan ini.


love untuk klian deh❤️jangan lupa wait next Eps yaaa makasih udh dukung author sampai sekarang.