
Mereka terus mengawasi siswa yang sudah di garis merah oleh Saga dengan memantau dari kejauhan. Mereka juga bersikap seperti biasanya agar tidak membuat curiga yang lainnya hingga mereka menemukan suatu keanehan yang di lakukan sasa sehingga mereka memutuskan untuk mengikutinya sepulang sekolah.
Sasa terlihat pergi ke sebuah rumah kecil yang kemungkinan besar adalah rumahnya. Dini dan Alin memperhatikan dari kejauhan dan terlihat wanita yang sudah terlihat cukup tua menyusul Sasa keluar dengan menahan tangan Sasa namun gadis itu malah menepis dan mendorong wanita itu.
"Sepertinya mereka terlihat pertengkaran. Apa kita kesana saja Lin." kata Dini yang akhirnya merekapun menghampiri Sasa dan ibunya.
Melihat kehadiran Alin dan Dini yang merupakan anggota OSIS di sekolahnya membuat Sasa sedikit terkejut dan mencoba meraih tasnya dan langsung berlalu pergi begitu Saja.
"Kalian teman Sasa ya...?" tanya Wanita itu.
"Benar Bu." jawab Alin.
"Ibu minta tolong jangan biarkan Sasa pergi dengan pacarnya. ibu takut akan terjadi apa-apa dengan Sasa." kata ibu Sasa dengan memohon yang membuat mereka hanya saling menatap saja namun mengiyakan saja.
Mereka berlari dan mencoba mencegah Sasa pergi tapi gadis itu sudah pergi menaiki angkutan umum sehingga membuat keduanya bingung dan akhirnya menyetop angkot juga. Karena jalanan yang sangat macet dan mereka kehilangan jejak Sasa. mereka berjalan melewati trotoar dan mencari angkot dengan nomor plat yang di ingat Alin.
"Kalian mengikuti ku?" tanya Sasa dengan terkejutnya.
"Sa, ibumu menyurumu untuk pulang." kata Alin.
"Ck apa-apaan sih kenapa kalian juga mau saja di suruh ibuku. Aku ada urusan yang harus aku selesaikan dulu. Sudah lah lebih baik kalian turun saja dan jangan ikut campur masalahku." kata Sasa tapi keduanya tidak menurut dan tetap ikut Kemana Sasa pergi.
Karena tidak ingin membuat Sasa terus merasa tidak nyaman akhirnya Dini dan Alin pun sedikit menjaga jarak dengannya. Terlihat Sasa menuju ke sebuah kosan dan di sana ada dua sandal pria dan wanita. Terlihat sekali raut wajah Sasa yang bingung dan ia memeriksa sandal wanita tersebut.
Tanpa mengetuk pintu kosan, ia langsung masuk begitu saja yang kebetulan pintu kosan tidak terkunci. Alin dan Dini mengikuti dan melihat bagaimana Sasa mengamuk di dalam kosan pria yang bernama Rangga yang kemungkinan besar adalah pacarnya.
"lu bilang lu cinta gue Rangga...terus ini apa hah. Lu tidur sama wanita lain." kata Sasa dengan marahnya.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan sayang. percayalah..." kata Rangga yang beberapa kali memberikan kode pada wanita selingkuhannya agar segera pergi dari kosannya.
Terjadi pertengkaran hebat di dalam kosan tersebut dan wanita yang menjadi selingkuhan Rangga ingin kabur namun dengan segera di tahan oleh Sasa dan di tampar beberapa kali sehingga membuat wajah dan bibir wanita itu bengkak dan berdarah.
Plakkk.....
Melihat Sasa di tampar oleh Rangga membuat Alin terkejut dan langsung mendorong Rangga hingga terjatuh. Ia juga tersulut emosi dengan pria itu. Bagaimana bisa ia bermain tangan dengan seorang wanita.
Sasa pergi dengan air mata dan amarah yang masih memenuhi hatinya. segera mereka mengejar Sasa dan menahannya untuk menenangkan gadis itu.
Malam harinya keempat remaja itu sudah berada di sekolah dan suasananya cukup berbeda seakan-akan akan ada sesuatu yang terjadi di sekolah tersebut. mereka menunggu cukup lama hingga sebuah suara dentuman yang sangat keras membuat mereka terkejut dan mencari asal suara.
"Lin tungguin." ucap Dini yang merasa merinding.
lampu sekolah tiba-tiba padam semua yang membuat mereka harus menyalakan lampu flash di hp mereka. Malam itu mereka benar-benar merasa seperti uji nyali.
"Ga apa tidak masalah jika kita ke tempat itu?" tanya Raja.
"Aku tidak bisa menjamin." jawab Saga
"Lin ah tanganmu usil sekali." kata Dini dengan kesalnya karena terus merasakan jika ada yang menyentuh punggung dan kepalanya
"Lin jangan bercanda dong." kata Dini yang merasa ketakutan.
"Suer Din. Udahlah mungkin cuma perasaanmu saja." kata Alin.
Raja menemukan sebuah bungkusan putih saat akan ke belakang sekolah. Karena mereka penasaran mereka juga pergi ke sumur terbengkalai itu. Terkejut? Tentu saja dengan segera mereka langsung menghancurkan apa yang mereka lihat.
"Jadi benar ga, ini tempat yang di jadikan untuk ritual." kata Raja.
Sebuah teriakan perempuan yang sangat keras membuat semuanya terkejut sehingga langsung berlari dan mencari dimana asal suara yang baru saja mereka dengar.
"Lin sumpah nih gue udah ngga nyaman." kata Dini.
"Gimana? Kau tunggu di depan atau bagaimana?" kata Alin.
"Allahuakbar...." teriak Dini ketika melihat penampakan sebuah potongan tangan yang melompat dari punggungnya dan berjalan di lantai dengan begitu cepatnya.
"Din, jangan kosongkan dirimu ya." kata Saga yang di angguki Dini.
"Kau yakin suaranya berasal dari atas?" tanya Raja.
"Ya sepertinya begitu." jawab Saga.
Ia mengingat kejadian bagaimana ia bisa bertemu dengan Mia. Membicarakan Mia, saat ini gadis itu tengah berjaga di sekitar Saga dan teman-temannya tapi ia tetap memberi beberapa petunjuk untuk memudahkan Saga.
"Pintu Gudang terbuka..." gumam Raja
Tentu mengherankan ketika melihat pintu gudang terbuka apalagi sudah malam. Saat mereka akan masuk, mereka di kejutkan dengan seorang pria yang keluar dari dalam gudang, ia adalah penjaga sekolah tapi tatapannya datar sekali dan hanya tersenyum kecil saja pada mereka.
"Membetulkan lampu." kata Penjaga sekolah yang langsung pergi begitu saja.
"Aneh sekali... biasanya harus basa basi dulu." kata Raja.
Beberapa saat kemudian kalung Saga bergetar pelan dan langsung berhenti. ia mulai waspada dengan kemungkinan apa yang akan terjadi. Mereka melihat dari atas balkon apakah ada orang lain yang datang ke sekolah selain mereka atau tidak.
"Sttttsss stttssss lihat itu ada yang datang." kata Alin ketika melihat seseorang dengan memakai jaket hitam.
Mereka mengikutinya dan tiba-tiba lampu padam lagi, suasananya kembali seperti tadi yang sangat mencekam. Dari sekilas Alin melihat wajah Sasa tapi ia tidak terlalu yakin karena memang suasana yang gelap.
Orang misterius itu menuju belakang sekolah. Mereka berlari dan akhirnya bisa menahan orang itu. Seperti dugaan Alin jika orang itu adalah Sasa. Tiba-tiba Sasa langsung pingsan di tempat yang membuat mereka langsung membawa Sasa ke klinik terdekat.
"Syukurlah...kita berhasil menyelamatkan Sasa." ucap Alin bernafas lega.
"Dia tidak akan bisa Karena kita sudah mengacaukan tempat ritual itu." kata Raja.
"Tapi tetap saja jangan lengah. Aku masih penasaran dimana jalan menuju ke bawah tanah. Oh iya ada yang ingin aku katakan pada kalian tapi besok saja." kata Saga yang di angguki semuanya