MIIA

MIIA
Tidak Terduga



Seperti biasa sebelum tidur Saga selalu melakukan ritual menyapu tempat tidur dan berdoa. Ia merasa bisa bernafas lega karena ia sudah berhasil menyelamatkan Sasa dan memberantakkan tempat yang tadinya akan di jadikan tempat ritual.


"Apa kamu ingin tidur?" tanya Mia.


"Ya. Kenapa?" tanya Saga.


"Tidak ada. Kamu yakin jika kamu sudah berhasil menggagalkannya?" tanya Mia yang membuat Saga menatapnya dengan bingung.


"Ahh sudahlah kamu tidur saja." kata Mia yang tiba-tiba menghilang.


Saga hanya mengangkat bahunya cuek saja dan kemudian mulai berlalu ke alam mimpinya. Baru saja terlelap ia sudah berada di dalam kegelapan yang sangat minim dengan oksigen. Ia tidak tahu berada di mana tapi sebuah suara langkah kaki yang terdengar tengah menghampirinya membuat Saga segera berlari menjauh.


Ia terus berlari tanpa tahu dimana ia akan berhenti. Kalungnya bergetar dengan hebatnya saat ia tengah berlari. Suara langkah kaki yang tadinya pelan pun ikut berlari mengejar Saga hingga Saga sampai di jalan buntu dan suara langkah kaki itu mulai pelan lagi.


"Yaallah apa yang terjadi...dimana aku..." gumam Saga sambil memegangi kalungnya.


Suaranya langsung tercekat dan ia tidak bisa bernafas saat tangan pucat dengan kuku yang panjang mencekik leher Saga dengan begitu eratnya. ia melihat jelas jika kepala sosok tersebut berada di depan namun tubuhnya menghadap ke belakang.


"Lepas...kan...a...a...ku." ucap Saga dengan kesulitan bicara.


Tangan itu semakin erat mencekik Saga dan setelah itu melemparkan tubuh Saga ke dinding dengan kerasnya. Dalam rasa kesakitan, Saga tetap memaksa agar matanya tetap terbuka dan sadar.


Ia membaca berbagai doa dan dzikir berharap sosok tersebut akan pergi tapi justru sebaliknya. anehnya Saga tidak bisa melihat wajahnya karena sosok itu terus menyembunyikan seakan tidak ada yang boleh tahu bagaimana wajahnya.


"Permainan mu terlihat sangat mudah." ucap sosok itu dengan suara beratnya kemudian tertawa menyeramkan.


Langkah kakinya terdengar menghampiri Saga membuat laki-laki itu sebisa mungkin untuk berdiri dan mencoba melawannya walaupun ia tidak tahu bagaimana ia harus melawannya.


Lagi-lagi tangan itu kembali mencekik Saga dan mengangkat tubuhnya. Saga merasa jika kematiannya benar-benar sudah dekat. ia sudah tidak bisa melawannya dan hanya berdoa dalam hati entah bagaimana nasibnya dan teman-temannya.


"Aarrrhgghhhhh...." teriak sosok tersebut dengan melepaskan tangannya dan berteriak seperti orang gila.


Sebelum subuh Saga sudah terbangun lebih dulu dan saat di kamar mandi betapa terkejutnya melihat lehernya yang bewarna merah kebiruan dengan bekas tangan di sana.


"Semuanya nyata....dia datang untuk memberiku pelajaran karena telah merusak ritualnya." gumam Saga dengan mengelus lehernya.


"Dia datang lagi ke mimpi kamu kan?" tanya Mia dengan duduk di kasur Saga.


"Tapi nyatanya apa yang kamu lakukan semua tidak ada hasilnya karena ia lebih pintar dari yang kamu kira." lanjutnya


"Apa maksudnya?" tanya Saga dengan bingungnya namun Mia hanya mengangkat bahunya acuh.


"Bunda pulang kapan yah?" tanya Saga yang sudah ingin berangkat sekolah.


"4 hari lagi. Nunggu nenekmu sembuh dulu karena disana tidak ada yang merawatnya. makan dulu ayah sudah pesankan makanan." kata Ilsan yang membuat Saga mengangguk.


"Tidak ada masalah di sekolah bukan?" tanya Ilsan di sela-sela makannya.


"Semuanya baik-baik saja yah." jawab Saga.


"Fokus dengan studimu saja jangan memikirkan apapun." kata Ilsan.


"Iya yah Aga tau kok." jawab Saga.


"Ayah serius, apa yang sedang kamu lakukan tidak seharusnya kamu lakukan." ujar Ilsan yang membuat Saga menatap ayahnya.


"Kamu pasti tahu apa maksud ayah Ga. Hentikan sebelum semuanya terlambat. Ayah tidak mau kamu kenapa-kenapa, biarlah kisah itu terpendam seperti dahulu. " kata Ilsan dengan seriusnya.


"Ayah tahu kamu masuk kedalam kantor ayah mencari sesuatu kan. Kamu tidak tahu betapa berbahayanya tentang semua yang tengah kamu lakukan itu." lanjutnya.


"Ayah tenang saja tidak perlu khawatir aga bisa jaga diri kok." kata Saga.


"Tidak sesimpel yang kamu pikirkan Ga. ayah minta kamu hentikan semua itu sebelum terlambat. Kamu pikir ayah tidak tahu kamu mencarinya selama ini. Temanmu juga bukan? ayah minta sekali lagi hentikan kamu fokus saja pada studimu. Ayah sudah terlambat, ayah berangkat dulu. Assalamualaikum." kata Ilsan dengan beranjak dan Saga pun menyalaminya.


Perkataan Ilsan cukup membuat Saga terkejut tapi tentu ia akan memikirkan ulang apa yang ayahnya katakan. Ia juga yakin jika ayahnya tahu banyak soal kasus itu.


"Tungguin saya." teriak Mia dengan suara kerasnya membuat Saga berdecak kesal saja.


"Cepetan." kata Saga.


"Iya iya. sudah ayo jalan." ujar Mia dengan menaiki motor Saga.


Entahlah apa yang ada di pikirannya gadis hantu itu kenapa lebih memilih menebeng di motornya dari pada menghilang dan langsung sampai ke tempat tujuan mengingat dia adalah hantu.


Sesampainya di sekolah, Saga melihat wajah teman-temannya yang tak seperti biasanya. Ia duduk di bangkunya dan langsung di hampiri oleh mereka.


"Kau sudah tahu?" tanya Raja dengan wajah seriusnya.


"Tahu apa?" tanya Saga dengan bingungnya.


"Rara meninggal Ga." timpal Alin yang membuat Saga terkejut karena Rara adalah siswa yang ia garis merahi.


"Bagaimana bis.... innalilahi wa Innailaihi raji'un... bagaimana bisa? Kenapa? Bukankah kita sudah." kata Saga menatap ketiganya.


"Dia kecelakaan di stasiun kereta itu sama seperti alm Dwi." jawab Raja membuat Saga terduduk lemas.


"Jadi rupanya dia mempermainkan kita." gumam Saga dengan mengusap wajahnya kasar.


"Lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Jika kamu ingin bermain-main dengannya maka kamu harus bisa memegang kendali atas permainan itu. Dia sangat cerdik jauh dari dugaanmu kamu selama ini." Mia menimpali


"Kenapa lehermu merah?" tanya Raja yang membuat Saga langsung menutupinya.


"Tidak papa." jawab Saga seadanya karena tidak ingin teman-temannya tahu jika tadi malam sosok misterius itu mendatanginya.


Saga benar-benar di buat marah dengan permainan sosok misterius itu. Seperti perkataan Mia tadi jika mulai sekarang dia akan memegang kendali atas permainan tersebut dan mengehentikan semuanya.


"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Raja.


"Aku akan memikirkannya lebih dulu. Jangan bertindak apapun sebelum aku mengatakannya karena ini terlalu berbahaya untuk kita." kata Saga dengan memutar otaknya.


Sepulang sekolah dia pun ke lokasi kecelakaan Rara. Ia benar-benar merasa aneh dengan semua yang terjadi dan ia harus bisa memecahkan semua teka teki tersebut.


Saga sampai rumah dan langsung membuka kertas yang ia dapat dari para korban. Ia memperhatikan dengan seksama dan beberapa kali memutar otaknya karena menurutnya kertas itulah bagian dari petunjuknya.


"Kenapa? Kamu pusing ya?" tanya Mia namun tidak mendapatkan jawaban dari Saga.


"Apakah kau tidak punya petunjuk lagi selain ini aku yakin ada sesuatu lagi yang mungkin tidak aku sadari." kata Saga.