MIIA

MIIA
Akhir Dari Awal



Sampai di rumah terlihat ayah Saga tengah berada di meja makan dan memang seperti tengah menunggunya. Ketika melihat Saga masuk raut wajahnya pun berubah. Ia memperhatikan Saga dari atas sampai bawah yang membuat Saga sedikit tidak nyaman.


"Kau baik-baik saja. Bukankah sudah ayah katakan stop hal itu ayah tidak mau kamu kenapa-kenapa. Kamu pikir ayah tidak tahu." kata Ilsan dengan raut wajah khawatirnya.


Seorang Pria tua keluar yang membuat Saga terkejut. Ia menatap Saga dengan tersenyum tapi juga menggelengkan kepalanya mengingat bagaimana ia sangat tahu sifat cucunya itu. Padahal setelah ujiannya selesai Saga berencana ingin mengunjungi kakek dan neneknya di desa tapi malah sanga kakek sudah datang lebih dulu.


"Kapan kakek datang." kata Saga dengan memeluk sang kakek.


"Kau itu sudah benar seharusnya kau pandai membuat orangtuamu tidak khawatir. Kau lihat kakek sampai datang kesini." kata kakek Saga dengan menyentil telinga Saga pelan.


"Bagaimana dengan temanmu yang satunya?" tanya Kakek Saga.


"Ya seperti itulah. Jadi kakek datang karena Aga begitu? Apakah nenek juga datang kesini? Nenek sudah sembuh?" tanya Saga yang terlihat begitu bersemangat.


"Tentu saja karena kau siapa lagi. Mana mungkin kakek datang kesini hanya untuk menemui ayahmu ck malas sekali. Nenekmu sudah sehat mungkin besok akan kesini bersama ibumu." ujarnya yang membuat Saga tersenyum.


"Ada yang ingin kakek tanyakan padamu, tapi sekarang kau istirahat saja dulu." lanjutnya dengan mengelus punggung Saga yang membuat laki-laki itu mengangguk dan segera ke kamarnya.


Baru saja membuka pintu kamarnya, Saga sudah melihat pemandangan yang membuatnya semakin kesal dan langsung melemparkan tasnya ke arah seorang gadis yang tengah tidur terlentang di kasurnya sehingga membuat gadis itu langsung terkejut dan melompat sembari membuat gerakan seperti orang yang sangat pintar bela diri.


"Kamu tuh ngapain sih! kaget tau saya!!" kata Mia dengan kesalnya sembari menatap Agam seperti sedang menantang


"Kau tahu apa yang terjadi denganku saat melawan sosok berjubah merah itu? Aku hampir mati dan kau malah tidur disini seperti orang tak berdosa." kata Saga yang entah kenapa dia tiba-tiba marah dengan Mia.


"Saya tidak tidur tahu justru saya membantu kamu." kata Mia yang tak ingin kalah dengan Saga.


"Membantu apa? aku tidak melihatmu membantuku sama sekali." kata Saga dengan nada suara yang mulai merendah.


"Walaupun saya tidak berhasil menghentikan semuanya tapi saya melakukannya agar perjalanan kamu dan teman-temanmu tidak terhambat." kata Mia.


"Ck alasan saja. Buktinya tetap ada gangguan dalam perjalanan itu." ujar Saga dengan duduk di meja belajarnya.


"Apa kamu pikir setan disana itu hanya 5 atau 10 saja? ratusan bahkan lebih, dan saya tidak bisa menghentikan semuanya karena kekuatan mereka ada yang lebih jauh di atas saya, saya tidur karena memulihkan energi saya, jika tidak begitu maka saya tidak akan bisa ada disini lagi karena di hukum sudah mencampuri urusan manusia. Kamu pikir dengan saya memberikan beberapa petunjuk pada kamu itu tidak melanggar hukum? Kamu tidak tahu di waktu tertentu saya akan kesakitan karena di hukum." kata Mia yang membuat Saga menoleh dan langsung merasa bersalah.


"Siapa yang menghukummu?" tanya Saga penasaran


"Kamu tidak perlu tahu siapa itu? Yang perlu kamu ketahui, saya belum mendapatkan tempat yang seharusnya karena kematian saya tidak waja dan jiwa kami di kumpulkan si tempat lain." jawab Mia dengan memalingkan wajahnya tidak ingin menunjukkan kesedihannya pada Saga


"A aku minta maaf, bukan itu maksud aku hanya bercanda saja tadi kenapa kau menganggap serius ucapanku." kata Saga dengan merasa sangat bersalah karena dia sudah memarahi Mia.


"Tidak papa saya paham apa yang kamu bicarakan." kata Mia.


"apa kau baik-baik saja?" tanya Saga pada Mia.


"Bukankah itu terbalik? Seharusnya aku yang bertanya pada kamu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, dia belum mati dan akan saya pastikan dia akan bangkit kembali karena yang kamu kalahkan hanya jiwa orang mati seperti saya, kamu belum membunuh wadahnya dan itu adalah bagian inti dari masalah ini. Kamu harus bisa membunuh orang yang di jadikan wadah iblis itu." kata Mia yang membuat Saga terkejut bukan main.


"Bukan sia-sia. untuk beberapa waktu kedepan kondisi akan tetap aman tapi entah cepat atau lambat akan ada korban yang lebih dramatis dari yang kamu kira untuk membangkitkan iblis itu." kata Mia.


"Hah???" Tentu saja Saga bingung sekaligus terkejut mendengar penuturan Mia karena dia tidak pernah menyangka akan menjadi sepanjang dan serumit ini, tapi ia juga tidak bisa berhenti karena sudah hampir selesai.


"Bukankah kamu sudah bertemu dengan iblis berjubah itu?" tanya Mia.


"Ya dia terlihat seperti wanita perkasa." kata Saga


"Kamu bisa menjadikan itu sebagai petunjuk jika wadah yang di gunakan juga sama." kata Mia.


"Seorang wanita maksudmu?" tanya Saga.


"Ya tentu saja dan mulai sekarang kamu harus bisa mengambil keputusan atas apa yang kamu curigai selama ini." kata Mia.


"Aku sudah mempunyai beberapa tersangka tapi mereka pria semua. aku yakin yang menjadi dalam dari semua ini sangat mengenal identitas semua siswa yang akan jadi korbannya dan aku berhak curiga pada semua guru wanita di sekolah." ujar Saga.


"Kamu hanya perlu mengawasi gerak gerik mereka Saga. mungkin waktunya sebentar lagi dan kamu jangan lengah karena justru dengan kamu mengalahkan iblis itu bukan berati kamu menang tapi justru pertarungan yang sesungguhnya akan di mulai." kata Mia yang membuat Saga paham dan memikirkan sebuah rencana.


"Apakah kamu menyimpan kalungnya? iblis itu terkunci di kalung itu dan selagi kamu masih memilikinya maka mustahil dia bisa di bangkitkan." kata Mia.


"Kalung itu ada di lorong." kata Saga dengan menatap Mia.


"Saya sudah tahu. Kamu sebenernya bodoh." kata Mia dengan menatap malas Saga.


"Besok aku akan mengambilnya lagi. Aku yakin masih ada di sana." kata Saga.


"Kamu yakin? Apa kamu tidak paham apa maksud dari ucapan saya barusan?' kaya Mia dengan menyilangkan tangannya.


"Ya kalung itu sudah di ambil." kata Saga dengan menghela nafasnya berat.


"Jadi mau tidak mau kamu harus mengambil jalan tersebut dengan bertarung dan membunuh wadahnya." kata Mia.


"Bukankah kau tahu membunuh itu dosa besar." kata Saga.


"Maksud kamu, kalau saya yang membunuh maka saya dapat dosa besar begitu? Hahaha." kata Mia dengan tertawa renyah.


"Kau?" Kata Saga bingung.


"Ya saya yang akan membunuhnya sendiri." Jawab Mia dengan tersenyum smrik.


"Bagaimana caranya bahkan kau saja tidak bisa di lihat." kata Saga yang semakin bingung menatap Mia.