MIIA

MIIA
Memberitahu Raja



Di dalam kegelapan dengan minim udara, Saga berdiri sendirian dengan bingungnya kenapa tiba-tiba dia bisa berada di tempat seperti itu. tidak ada suara apapun namun lama-kelamaan seperti ada sebuah suara langkah kaki yang berjalan menuju ke arahnya namun kemudian suara langkah kaki itu sudah tidak ada lagi.


"Assalamua....akhhhhhh....." baru saja ia ingin mengucapkan salam tiba-tiba ada sebuah tangan yang mencekik lehernya.


Ia membuka matanya dengan keringat sebesar biji jagung. Nafasnya tidak beraturan dan juga ia langsung memegang lehernya yang terasa sakit. Itu terasa sangat nyata tapi ia mengalaminya di mimpi.


"Saga Saga...kenapa kamu begitu ceroboh. dengan kamu mengajak Si Raja itu artinya kamu menantangnya." kata Mia yang membuat Saga menoleh.


"Apa yang yang kau maksud?" tanya Saga.


"Ambil ini..." kata Mia dengan menyerahkan liontin berbentuk api pada Saga.


"apa ini?" tanya Saga.


"Kamu tidak lihat jelas-jelas ini liontin kenapa masih bertanya. Pakai ini dan jangan lepas, ini akan membantu kamu jika kamu menghadapi bahaya yang besar." kata Mia.


"Ini milikmu?" tanya Saga.


"Iya, itu milik saya, ibu saya memberikan itu sebagai hadiah ulang tahun saya, tapi..." ucap Mia dengan memalingkan wajahnya.


"Tapi apa?" tanya Saga Penasaran.


"Sudahlah kamu pakai saja tidak perlu banyak tanya." kata Mia.


.


.


.


.


Suara sepeda motor berhenti tepat di depan rumah Saga. Saga yang memang tengah berada di luar pun mendongak dan ternyata teman sekelasnya Raja. Ia membukakan gerbang agak Raja langsung masuk. Raja melihat apa yang tengah di lakukan Saga. Tidak biasanya seorang laki-laki muda menyirami tanaman bunga


"Setahuku di rumahmu tidak ada bunga. Kau yang menanamnya?" tanya Raja dengan tersenyum kecil.


"Apa? ibuku sangat menyukai bunga. Tidak ada salahnya kan." ujar Saga dengan malasnya.


"pffffttt tidak tidak lanjutkan saja." kata Raja dengan menahan tawanya.


"Hei kenapa dia tertawa apakah itu lucu. Dia belum pernah merasakan di bakar hidup-hidup." kata Mia yang membuat Saga terkejut kemudian memberikan isyarat Agar Mia tetap diam.


"Kamu beneran mau ngajak bocah tengil ini?" tanya Mia.


"Ayo masuk." kata Saga dengan mengajak Raja.


"Saat kau memutuskan untuk sekolah di SMA kita sekarang, apa yang kau pikirkan?' tanya Saga yang membuat Raja bingung.


"Rekomendasi papaku." jawab Raja.


Saga pun langsung menunjuk tampilan monitornya agar Raja tahu. Walaupun sebenarnya raja juga bingung namun ia tetap membacanya. Terkejut? Tentu saja karena dia juga tidak tahu.


"Kau serius?" tanya Raja.


"Sebentar ada yang ingin aku tanyakan padamu." kata Raja.


"Apa?" tanya Saga.


"Aku merasa aneh dan sering kali aku melihatmu berbicara sendiri. dan saat di rumah sakit mengantar jenazah Dwi, aku melihat kau mengambil sesuatu dari sakunya. apakah yang kau ambil adalah hal serupa seperti kemarin?" tanya Raja.


"Ya...ada banyak sekali kejanggalan yang terjadi karena itu aku mencari dan menggali lebih dalam lagi. Kasus Beberapa tahun lalu yang mengerikan terjadi di sekolah kita, mungkin dalam waktu dekat ini aku ingin menemui orang yang menjadi sumber dari artikel ini." jawab Saga.


"Tunggu sebentar, aku masih belum paham." kata Raja yang mencoba mencerna perkataan Saga.


"Aku menemukan kertas-kertas ini di saku mereka. Kasus yang terjadi pada Luna juga sama. Seseorang mengatakan padaku ini bukanlah kertas kosong." kata Saga.


"Hah?" Raja benar-benar tidak mengerti apa yang sedang Saga katakan.


"Kau ingat kenapa kemarin kita sadar sudah berada di rumah pak San?" kata Saga.


"jangan memberitahu dia semuanya itu akan berakibat buruk pada kalian terutama kamu." kata Mia dengan mengingatkan Saga.


"Kenapa?" tanya Raja


"Nanti kau akan tahu sendiri." jawab Saga yang membuat Raja berdecak kesal


"Aku mendapatkan kabar dari teman-teman Dwi jika dia memilih mengakhiri hidupnya karena tekanan dari orangtuanya. orangtuanya memilih bercerai karena masalah yang tidak terselesaikan. Kata temannya, sebelum Dwi mengakhiri hidupnya beberapa hari dia mengalami depresi berat dan mencoba untuk mengakhiri hidupnya di rumahnya." kata Raja.


"Kau ingin ikut tidak?" tanya Saga.


"Kemana?" tanya Raja.


"Aku ingin ke rumah alm Luna, aku ingin menanyakan sesuatu." jawab Saga yang membuat Raja mengangguk paham


Keduanya pun pergi bersama dengan mengendarai motor Raja. Setelah hampir 25 menit mereka berkendara kini akhirnya merekapun sampai di rumah Luna. Terlihat wanita paruh baya tengah duduk di teras rumahnya sambil memegang Koran.


"Assalamualaikum Bu..." ucap Saga yang membuat wanita tersebut mendongak.


"Ya wa'alaikumsalam." jawabnya


"Kami teman alm Luna Bu..." kata Saga.


"Benarkah...ada apa kalian kesini? oh ya lebih baik kita masuk saja kita berbicara di dalam jauh lebih nyaman." kata wanita itu dengan ramahnya.


Saga dan raja pun berbasa-basi agar tidak terlalu mencolok. Secara tidak langsung semua perkataan Saga membuat ibunya Luna membuka mulut bagaimana seorang Luna. Ia pun akhirnya mendapatkan jawabannya setelah ibunya Luna berkata panjang lebar.


"Dwi depresi dan Luna juga depresi.... sebenarnya apa yang sedang terjadi." kata Raja.


"Bukankah aku bilang ini bukanlah suatu kebetulan, semuanya sudah di rencanakan." kata Saga.


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Raja.


"Nanti kau juga akan tahu sendiri." ujar Saga.


Saat mereka berhenti di lampu merah, tiba-tiba saja Saga merasakan perasaan gelisah dan dadanya bergetar hebat. entah kenapa ia merasa sangat tidak nyaman dengan suasana tersebut.


"Ga, kau kenapa?" tanya Raja heran.


"Tidak papa." jawab Saga.


"Coba lihat sekeliling kamu." kata Mia yang duduk di tepat di depan Raja.


Ia melihat sekelilingnya dan menemukan seorang wanita cantik muda tengah menatapnya dengan tersenyum membuat Saga mengangguk Saja. sesampainya di rumah, Saga meminta Mia untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Saya sudah bilang kan kalung itu akan melindungi kamu." kata Mia.


"Sosok berjubah merah?" tanya Saga.


"Saya tidak tahu yang pasti kalung itu bisa mendeteksi adanya bahaya besar saat dia bergetar." kata Mia.


"Gempa bumi? Gunung meletus? Tsunami? Banjir? Tanah longsor?" kata Saga yang membuat Mia menatapnya dengan datar


"Ya maksud saya bukan itu. Ah kenapa kamu jadi seperti si bocah tengil itu." cebik Mia dengan kesalnya membuat Saga hanya terkekeh kecil .