
Setelah pulang sekolah, Raja, Alin dan Dini langsung menuju ke rumah Saga. Kebetulan rumah Saga sedang tidak ada orang jadi mereka sedikit bebas membicarakan hal tersebut walaupun Saga tau jika ayahnya juga sudah tahu.
Saga menceritakan semuanya tanpa ada yang dia sembunyikan sedikitpun. Tentu teman-temannya merasa kaget dan entah harus percaya atau tidak karena dari cerita yang mereka dengar sangat mirip dengan film dan novel pada umumnya.
"Apakah dia sekarang ada disini?" tanya Alin.
"Dia ada di atas kulkas." jawab Saga .
"Sebentar aku membawa sesuatu." kata Alin dengan mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Mia yang tengah fokus membenahi rambutnya tiba-tiba hidungnya mencium aroma kesukaannya yang selalu membuat dia lapar. Dilihatnya jika Alin membawa satu bungkus bunga melati yang membuat Mia langsung melayang menghampiri gadis itu dengan raut wajah girangnya.
"Wahh apa ini buat saya?" tanya Mia yang akan langsung mencomot bunga itu tapi dengan segera di tepis oleh Saga.
"Kenapa kau membawa bunga melati?" tanya Raja.
"Kalian akan melihatnya sendiri. Sebenarnya aku sudah curiga dari lama saat beberapa kali melihatmu berbicara sendiri. Jadi sekarang aku akan memastikannya." kata Alin.
"Aku membawakan ini untukmu, makanlah." kata Alin yang membuat Mia kegirangan.
Dalam hitungan detik bunga melati itu semakin berkurang dan membuat mereka tercengang tidak percaya melihatnya. Beberapa kali Raja mengucek matanya berharap ia hanya salah lihat tapi itu benar adanya dan terjadi di depan matanya sendiri.
Alin juga mengeluarkan sebuah boneka berukuran kecil yang mirip seperti seorang bocah dengan rambut bewarna pirang. Walaupun hanya boneka tapi tetap saja hal itu terasa begitu berbeda.
"Kenapa kau membawa boneka ini?" tanya Raja.
"Bukankah teman kita membutuhkan sebuah media agar dia bisa hidup kembali. Kita juga akan melihatnya sendiri dan menjadi teman sama seperti yang di lakukan Saga." jawab Alin.
"Saya suka bonekanya." kata Mia dengan mata berbinar.
"Dia bilang dia suka bonekanya." kata Saga yang membuat Alin mengangguk tersenyum.
Mia mengambil boneka itu yang membuat boneka itu melayang sehingga membuat semuanya terkejut dan percaya jika Mia memang benar-benar ada hanya saja dia tidak bisa di lihat oleh sembarang orang.
"Kalungku sudah berada di tangannya dan mau tidak mau aku harus menghadapinya secara langsung. Mungkin untuk sementara semuanya akan baik-baik saja tapi cepat atau lambat dia akan mulai bertindak lagi untuk membangkitkan iblis itu." kata Saga.
"Membangkitkan? Bukankah kita sudah mengalahkannya?" tanya Raja.
"Saat ini dia terkunci di dalam kalung itu dan akan segera di keluarkan lewat ritual besar dengan melibatkan banyak korban. Yang sebelumnya terjadi bukan apa-apa, kita harus bisa mencegah dan menggagalkan semua rencananya." jawab Saga.
"Lalu bagaimana kita bisa tahu siapa orangnya?" Alin menimpali
"Aku curiga jika yang melakukannya adalah salah satu dari para guru. Coba kalian pahami lagi, korban selalu siswa perempuan dengan tanggal yang berurutan, siapa yang lebih tahu data siswa jika bukan guru, karena mereka yang mengetahui semua data semua siswa sekolah itu." kata Raja.
"Aku sepemikiran denganmu dan aku sudah mencurigai 3 orang." ujar Saga.
"3 orang? Siapa?" tanya Alin.
Saga pun menunjukkan buku coretan nya yang berisi semua yang ia pikirkan. ketiga temannya membacanya dengan seksama dan ya mereka cukup terkejut dengan kesimpulan itu.
"Aku merasa aneh dengan sikap pak San selama ini dan merasa ia perlu di curigai." kata Saga.
"Kita selidiki saja lagi." kata Dini.
"Bersikaplah seperti biasa karena aku rasa pak San orangnya cukup jeli." kata Saga.
Malam harinya Saga berbicara dengan kakeknya karena banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada kakeknya tersebut. Merekapun terlihat pembicaraan yang cukup serius hingga tak terasa hari sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Semua dugaanmu tentang Sanjaya salah, dia adalah teman kakek." kata Pak Saqub yang membuat Saga mengangguk.
"Apakah kakek tahu siapa dalangnya?" tanya Saga
"Tidak. Jika kakek tahu sudah dari lama tragedi ini berhenti." jawab pak Saqub.
"Sudah malam lebih baik kau tidur saja. Jangan terlalu memikirkannya dan fokus pada sekolahmu ya. Apa yang kakek katakan barusan jadikanlah sebagai bahan dari rencanamu. besok kakek akan kembali dan mungkin ibumu juga akan pulang ke rumah. Nenekmu sudah baik-baik saja jadi jangan khawatir." kata pak Saqub.
"Baiklah kek. Jika aku butuh bantuan aku akan minta tolong pada kakek." kata Saga.
"Ya itu harus. Jika kau luang temui lah Sanjaya dan katakan jika kau adalah cucuku." kata pak Saqub dengan tersenyum kemudian beranjak keluar.
Saga melihat Mia yang tengah duduk di meja belajar dengan boneka Sisil yang ada di depannya dan terus menerus dia tatap tanpa henti. Terlihat sekali jika Mia sangat senang dengan boneka itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Saga.
"Saya sudah tidak sabar ingin mengakhiri semuanya." kata Mia yang membuat Saga langsung mengerutkan keningnya.
"Jika saya masuk ke sini pasti rasanya sangat seru." kata Mia.
"Kenapa tidak masuk saja?" tanya Saga bingung.
"Saya tidak bisa masuk sekarang. Lagi lupa sekarang belum waktunya. Saya akan masuk jika sudah waktunya." jawab Mia.
"Lalu kapan waktunya?" tanya Saga penasaran namun hanya di balas senyuman misterius oleh Mia.
Kling....
"Ada pesan nih." kata Mia dengan menoleh ke komputer milik Saga.
Saga beranjak dan memeriksa pesan apakah dan dari siapakah, tapi tidak ada nomor dan hanya ada tanda titik satu saja yang membuat Saga heran dan juga bingung. Isi pesannya pun membuat dia semakin bingung.
"Apa maksudnya?" tanya Saga yang membuat Mia langsung membaca pesan itu.
"Wahh ternyata kamu diam-diam punya penggemar ya hahaha." kata Mia dengan meledek Saga.
"Tidak Mia bukan begitu maksud dari pesan ini. Coba kau pahami setiap katanya." kata Saga yang membuat Mia membacanya dengan serius.
"Biasa saja tuh kamu saja yang sok teliti." ujar Mia dengan malasnya.
"Ahh sudahlah." kata Saga dengan kesalnya.