
"Bagaimana ini?? Aku tidak mau terjebak disini." kata Dini dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Mereka terus mencari jalan keluar tapi semakin mereka mencari justru mereka malah selalu menemukan jalan buntu. hingga akhirnya merekapun duduk dengan raut wajah bingung dan frustasinya.
"Ahhh siall semua ini karena pria itu. Seharusnya aku tidak langsung percaya begitu saja..." kata Raja dengan kesalnya.
"Sudah!! Berhenti berbicara kasar semua ini tidak akan terjadi jika kau masih bisa mengontrol cara bicaramu." kata Saga
"Jadi kau menyalahkan ku. Kau pikir aku mau hah!!" kata Raja tak ingin kalah.
"Sudah!! Kenapa jadi ingin bertengkar. Tidak ada gunanya. Lebih baik kita cari jalan keluar sekarang dan kau Raja bersikaplah yang baik dan jaga cara bicaramu mulai sekarang aku tidak mau kata-kata mu itu mengundang hal yang tidak kita inginkan lagi. Jika kau tidak bisa mengontrol emosi dan cara bicaramu lebih baik kau diam saja." kata Alin yang juga ikut kesal.
Dalam hati Saga terus memanggil-manggil Mia namun entah kenapa gadis hantu itu tidak muncul-muncul atau dia tidak mendengarkan panggilan Saga atau bagaimana Saga juga tidak tahu.
Di tengah kebingungannya tiba-tiba datang segerombolan orang dengan membawa 3 buah kendi dan bunga melati yang tengah berjalan ke arah mereka dengan tatapan tajam sehingga membuat keempat remaja itu berlari.
"Ayo cepat, mereka mengejar kita." kata Dini dengan Beberapa kali menoleh ke belakang.
Seseorang yang sudah masuk ke desa itu tidak akan pernah bisa keluar karena penduduk desa itu sudah menyiapkan sesuatu agar orang yang masuk tidak akan bisa keluar lagi.
Dalam hati Saga terus berdoa memohon petunjuk agar segera bisa keluar dalam keadaan selamat bersama teman-temannya. mereka terus berlari mengikuti langkah kaki yang tanpa tujuan, namun tetap saja sekeras apapun mereka berusaha mereka tetap masih berada di desa itu dan sekarang mereka telah di kepung penduduk desa itu salah satunya adalah pria yang menawarkan bantuan pada mereka.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Alin dengan paniknya.
"Tenang dan berdoa pada Allah. Jangan lepaskan tangan satu sama lain, apapun yang terjadi kita harus tetap bersama-sama." kata Saga.
Mereka berpegangan tangan dengan begitu erat dan saling membelakangi. dengan arahan Saga, mereka memejamkan matanya dan berdoa. sangat jelas mereka mendengar suara pria tadi dan di susul dengan tertawaan semua penduduk desa itu seakan memandang remeh mereka.
"Nak...." sebuah suara yang tak asing di telinganya membuat Saga membuka matanya dengan terkejut.
"Kakek..." ucap Saga dengan suara yang hampir tidak terdengar orang lain dan memandang lurus ke depan dimana ada sebuah cahaya samar.
"larilah ke dalam cahaya itu dan bawa teman-temanmu keluar. Waktumu tidak banyak, atau kamu dan teman-temanmu akan disana selamanya. Ayo lari."
"Dalam hitungan ke tiga, berlari ikuti aku dan jangan lepaskan pegangan tangan kalian." kata Saga yang membuat ketiganya mengangguk paham.
"Bismillahirrahmanirrahim...1..2...3...." kata Saga dengan berlari sekencang-kencangnya begitupun dengan ketiga temannya.
Mereka membelah penduduk desa itu sehingga membuat mereka tersungkur dengan berteriak kesakitan. Pria yang menawarkan bantuan itu hanya tertawa saja melihat tingkah keempat remaja itu namun sedetik kemudian dia melemparkan batu kerikil namun sudah terlambat karena Saga dan teman-temannya sudah masuk ke dalam cahaya tersebut.
Mereka jatuh tersungkur di tanah dan melihat sekelilingnya dimana itu hanya hutan belantara dengan suasana gelap dan dingin.
"Ayo cepat." kata Saga dengan berdiri dan membantu raja berdiri.
"Kalian baik-baik saja?" tanya pak Budi.
"Alhamdulillah pak kami baik-baik saja. Apa yang bapak lakukan disini?" tanya Saga dengan mengatur nafasnya.
"Apa kalian masuk ke desa itu? Ahh begini saja ini sudah malam lebih baik kalian menginap saja di tempatku, bapak khawatir jika kalian pulang malam hari." kata Pak Budi yang di setujui mereka berempat.
Akhirnya malam itu mereka memutuskan untuk menginap di rumah pak Budi. Mereka di suguhi teh manis hangat dan singkong rebus serta pisang goreng. .
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa kalian bisa masuk ke sana?" tanya pak Budi
"Emm sebelumnya saya minta maaf pak karena perkataan kasar saya yang tidak sopan dan tidak seharusnya saya bersikap seperti itu pada bapak." kata Raja .
"Tidak masalah yang terpenting kalian kembali dalam keadaan baik-baik saja bapak sudah bersyukur dan jadikan pelajaran untuk kedepannya ya." kata Pak Budi.
"Apakah memang sering terjadi hal ini pak?" tanya Dini.
"Ya dan sampai sekarang orang yang masuk ke desa itu tidak pernah kembali lagi." jawab Pak Budi.
"Sebelumnya aku sudah merasa aneh kenapa tiba-tiba ada sebuah perkampungan di hutan itu karena jelas-jelas saat berangkat kesini aku melihat disana hanyalah hutan saja. tapi entahlah karena perasaan dan kakiku tiba-tiba melangkah kesana." timpal Alin.
Mereka tidur dengan beralas tikar sederhana dan selimut kecil yang hanya muat satu orang saja. Saga dan Raja memutuskan untuk tidur di kursi karena memang rumah pak Budi yang tidak terlalu luas.
Saga masih memikirkan kenapa kakeknya tiba-tiba datang dan seolah-olah tahu jika Saga sedang dalam bahaya. ia menjadi penasaran dan ingin segera bertemu dengan kakeknya untuk berbicara dengannya.
"Ga, lu denger sesuatu tidak?" kata Raja yang membuat Saga menoleh.
"kenapa?" tanya Saga dengan menajamkan Indra pendengarannya.
"Sudah tidur saja hanya perasaanmu saja. aku tidak mendengar apapun." ujar Saga walaupun sebenarnya dia mendengar sesuatu juga.
Semakin lama suara anak ayam yang di dengar Raja semakin menjauh namun entah kenapa bulu kuduknya malah berdiri semua dan dia merasa gelisah dan sedikit takut namun juga penasaran. Alhasil dia menyibak sedikit gorden dan tepat di depan matanya ada wajah hancur dengan darah yang sudah menghitam serta mata yang menyeramkan dengan senyum smirk.
"Anji**...." teriak Raja membuat semuanya terbangun
"Bukankah sudah aku bilang, tidur dan jangan hiraukan apapun. Dan lagi jaga cara bicaramu jika kau tidak ingin hal seperti tadi terulang lagi." kata Saga dengan malasnya.
"Ada apa raja?" tanya Alin.
"Hahaha tidak ada sudah ayo tidur." kata Raja dengan wajah pucat pasi dan nafas yang terengah-engah membuat kedua gadis itu melihatnya dengan heran
Raja mengusap wajahnya dengan kasar karena ingatan itu terus saja muncul dan memenuhi pikirannya. pertama kalinya dalam hidupnya dia melihat wujud asli makhluk tak kasat mata. Entah dia akan berani tidur atau tidak setelah itu.