MIIA

MIIA
Menemukan Dini



Hanya tinggal menunggu satu kata saja yang keluar dari mulut Dini, semuanya akan langsung berakhir dan Dini tidak akan pernah kembali lagi. Kadita bisa melihat jelas keraguan di mata Dini dan ia harus sebisa mungkin meyakinkan Dini agar dia mau menuruti perkataannya.


"Bagaimana kau masih bisa percaya pada mereka setelah kau melihat semua ini Dini. Disini ada aku, bukankah dulu kita pernah saling berjanji untuk selalu percaya satu sama lain." kata Kadita dengan raut wajah memelasnya.


Dini berfikir keras dan semakin ia berfikir semakin ragu hatinya dan merasa jika semua yang ia lihat bukankah hal yang sesungguhnya terjadi. Ia menatap Kadita dan menggelengkan kepalanya untuk memastikan apakah dirinya dalam keadaan sadar atau tidak.


"Aku...." ucap Dini dengan bingungnya.


Bertepatan dengan itu, sebuah suara yang tidak asing di telinga Dini terdengar membuat Dini langsung mendongak namun berbeda dengan Kadita yang justru terlihat marah dan memaksa Dini agar dengan cepat mengatakan iya.


"Saga....dia sudah datang. Aku akan kembali dan jika ada waktu lagi aku akan main ke rumah mu lagi Dita. Sampai jumpa." kata Dini dengan girangnya namun mendadak kakinya tidak bisa di gerakkan dan ia tidak bisa berbicara ataupun melakukan apapun.


"Aku sudah melakukan semuanya untukmu tapi kau tidak mau mengatakannya dan malah lebih memilih mereka yang jelas-jelas sudah mengkhianati mu. Apakah ini yang di sebut janji Dini, kau menghancurkan hatiku Dini. Kau tidak boleh pergi kemanapun dan harus tetap disini bersamaku." kata Kadita yang membuat Dini memberontak namun ia tidak bisa melakukan apapun.


Di hutan, saat semuanya tengah bingung dan putus asa karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih dan Dini belum juga di temukan serta pak Ghani juga sudah tidak bisa melakukan apapun, sebuah suara lantunan adzan yang begitu indah dan menenangkan berkumandang di tengah sunyi nya hutan.


Semuanya menoleh ke arah seorang laki-laki yang tengah berdiri dan melantunkan adzan dengan begitu indahnya. Lantunannya benar-benar membuat semua yang mendengar larut dalam ketenangan. Beban mereka seolah hilang ketika mendengar adzan yang di kumandangkan Saga.


Lantunan adzan yang pernah dia dengar di mimpi dan ia melantunkannya sekarang berharap Dini akan mendengar suaranya dan kembali lagi bersama mereka. Dalam lantunan adzan yang begitu dalam, tak terasa air mata Saga menetes begitupun juga orang-orang yang mendengarnya.


Alin semakin menangis begitupun Raja yang merasa gagal dalam menjaga temannya.


Dalam detik terakhir adzan Saga yang hampir selesai, seorang warga berteriak membuat semuanya menoleh. Mereka langsung menuju ke tepi sungai tempat Dini tergelak tak sadarkan diri.


"Allahuakbar Allahuakbar la Ilaha illallah." ucap Saga dengan mengakhiri adzan nya kemudian langsung berlari menyusul yang lainnya.


Mereka membawa Dini ke rumah pak Ghani. Beliau sendiri benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat tapi juga bersyukur karena Dini kembali. ia mengajak Saga berbicara empat mata karena saat pertama kali ia melihat Saga ia langsung merasakan sesuatu yang membuatnya sangat tertarik untuk tidak menanyakannya.


"Siapa itu?" tanya Pak Ghani yang membuat Saga bingung.


"Maksud bapak apa?" tanya Saga.


"Gadis yang berbicara denganmu di hutan." jawab Pak Ghani.


"Oh maksud bapak Alin." ujar Saga membuat pak Ghani tersenyum saja.


"gadis dengan rambut kepang dua dan kebaya merah." kata pak Ghani yang membuat Saga terkejut.


"Dia teman saya yang juga menjadi salah satu korban di kasus 2005 di sekolah saya." jawab Saga dengan menghela nafasnya.


"Apakah kalung yang kamu pakai juga pemberiannya?" tanya pak Ghani yang di jawab anggukan kepala oleh Saga.


"Sudah ku duga. perlu kamu ketahui, dulu aku juga sama seperti kalian tapi karena semakin aku akan menemukannya orang-orang yang aku sayang meninggalkan ku. Aku menyudahinya karena aku tidak ingin semua orang yang aku sayang meninggalkan ku. Seharusnya sebelum kamu bertindak kamu harus memikirkannya terlebih dahulu. apa yang tengah kamu lakukan sangat beresiko tinggi. Sebelum semuanya terlambat lebih baik kamu berhenti saja." kata pak Ghani.


"Tidak akan pak. Saya tidak akan melakukan sesuatu yang membuat orang lain merasakannya bagaimana rasanya kehilangan orang yang mereka sayangi lagi. Saya akan tetap meneruskannya bahkan jika dengan nyawa saya bayarannya, saya akan tetap melakukannya dan mengakhiri semuanya." jawab Saga tanpa keraguan sedikitpun.


"Bapak sangat terkejut mendengar ucapanmu barusan, apalagi kamu masih remaja tapi tekadmu benar-benar sangat besar dan nyata. Kamu sadar bukan lawan yang kamu hadapi bukankah lawan biasa." kata Pak Ghani.


"Saya paham betul dan teman saya sudah memberitahu saya beberapa hal jadi bapak tidak perlu khawatir dengan itu. Doakan saya saja semoga apa yang tengah saya lakukan segera selesai dan mengakhiri semuanya sehingga semua orang bisa hidup dengan tenang tanpa terbayang-bayang tragedi tragis itu." ujar Saga.


"Bapak salut dengan kamu. Jika temanmu sudah sadar ajak mereka untuk menemui ku ada sesuatu yang ingin aku katakan pada kalian semua." kata pak Ghani yang membuat Saga mengangguk.


Alin dengan setia duduk di samping Dini dengan terus memegangi tangannya berharap gadis itu sadar. Saat merasa adanya pergerakan ia langsung menatap wajah dini dengan seksama. Gadis itu membuka matanya perlahan sehingga membuat Alin bersyukur dan langsung memeluk Dini.


"Aku pikir kita tidak akan bersama lagi Din. Syukurlah kau sudah sadar. Minum dulu." kata Alin dengan mengambilkan segelas air hangat untuk Dini.


"Apa yang kau katakan, tentu saja kita akan bersama. Bagaimana? Apakah mereka berhasil menemukan sesuatu tentang Bu lilis?" tanya Dini yang membuat Alin berdecak kesal.


"Nyawamu hampir saja melayang Din dan kau masih sempat-sempatnya menanyakannya hal itu?? Sudahlah kita urus nanti saja yang terpenting kau sudah siuman. Sumpah aku tidak tahu harus mengatakan apa pada orangtua mu jika kau pulang dalam keadaan terluka seperti ini." kata Alin


"Din, kau sudah sadar Alhamdulillah..."kata Raja yang datang di susul oleh Saga.


"Bagaimana keadaan mu." tanya Saga.


"Bagaimana bisa dia mengatakan hal buruk tentang kalian. Aku baik-baik saja berkat kalian. terimakasih sudah menolong ku." kata Dini.


"Saga..." kata Raja dengan menatap Dini.


"Aku tahu itu suara Saga tapi kalian juga membantunya. Terimakasih sekali lagi, aku belum pernah mendengar suara semerdu itu." ucap Alin.


Setelah beberapa saat Dini beristirahat kini mereka pun menemui pak Ghani untuk membicarakan sesuatu. Mia sendiri karena memang dia tahu siapa itu pak Ghani, tentu ia juga ikut dalam pertemuan itu dan ingin mendengar apa yang mereka bicarakan.