
Mereka menuju ke rumah duka bersama-sama. keluarga Luna benar-benar sangat terpukul dengan kepergian Luna yang tidak terduga apalagi Luna adalah anak tunggal.
"Kami semuanya turut berdukacita yang sedalam-dalamnya, semoga bapak dan keluarga diberikan kesabaran , keikhlasan dan ketabahan seluas lautan." kata Pak Hasyim dengan menyalami ayah Luna .
"Terimakasih banyak pak sudah datang. Saya benar-benar merasa sangat sedih." kata pak Burhan ayah Luna.
"Saya paham pak kematian memang tidak ada yang tahu dan tidak bisa di hindarkan. Bapak yang tabah dan sabar ya pak." ujar pak Hasyim dengan mengelus punggung ayah Luna.
Setelah sampai di sekolah, Dini langsung menceritakan apa yang dia dengar saat tadi mereka ada di rumah duka karena menurut dini cerita yang ia dengar dari ibunya Luna ada sedikit keanehan.
"Kau dengar juga bukan Lin tadi?" tanya Dini.
"Ya aku mendengar, menurut cerita ibunya, setelah pulang dari mujahadah kemarin sikapnya bukan seperti Luna, tatapannya pun juga berbeda. Tapi kata ibunya saat Luna berpamitan ingin solat subuh di masjid beliau juga merasa semakin aneh karena Luna selalu melakukan solat subuh di rumah dan anehnya lagi berapa kali ibunya memanggil tidak di hiraukan sama sekali oleh Luna dan tetap pergi." timpal Alin.
"Apakah saat kejadian itu ada orang yang melihatnya?" tanya Raja.
"Entahlah tidak tahu, tapi aku yakin jika di sekitar sana ada cctv." jawab Dini.
"Aku penasaran, apa nanti kita kesana saja." kata Alin.
"Boleh. Sepulang sekolah kita kesana saja." timpal Saga namun tatapannya tidak pernah lepas dari gadis yang selalu berpindah-pindah tempat duduk di atas punggung teman sekelasnya.
Saga juga kerap kali melihat reaksi teman sekelasnya yang mengeluh jika tubuhnya terasa pegal dan sangat berat.
"Al kau kenapa?" tanya Saga pada Aldi .
"Entahlah ga tubuhku tiba-tiba terasa sangat berat sepertinya aku masuk angin." jawab Aldi dengan menyentuh pundaknya.
"Mungkin kau lupa baca doa." kata Saga
"Doa apa?" tanya Aldi.
"Ih kamu mah tidak asik Saga. Saya lagi duduk nih." kata Gadis itu dengan berdecak kesal.
"Doa apapun itu sebisamu saja." kata Saga tanpa menghiraukan perkataan gadis yang kini duduk di pundak Aldi
Tanpa rasa curiga Aldi pun mengiyakan dan membaca doa keselamatan. Beberapa detik setelah dia membaca itu rasa pegal dan berat di tubuhnya pun menghilang. Saga juga melihat bagaimana gadis itu menghilang. Ia sebenarnya merinding tapi mau bagaimana lagi ia hanya bisa membiasakan diri saja
"Alhamdulillah ga rasanya sudah lebih baik." kata Aldi dengan meregangkan otot-ototnya.
"Nahh itu jangan lupa berdoa dimanapun kau berada dan dalam keadaan apapun." kata Saga.
"Hehehe iya tadi lupa ga." ujar Aldi dengan tersenyum canggung.
Dalam sekejap, gadis tadi muncul kembali, namun sekarang ia duduk di meja guru yang tepat berada di depan meja Saga. Laki-laki terkejut melihat kemunculan tiba-tiba gadis itu sampai ia tak sadar membuat teman-temannya menatapnya dengan heran.
"Ga kau kenapa?" tanya Raja.
"Ah tidak tidak tadi hanya ingat sesuatu yang belum ku selesaikan. Aku ke toilet sebentar ya." kata Saga dengan beranjak namun matanya menatap gadis itu dengan datarnya.
"Kamu meminta saya untuk ikut?" tanya gadis itu
"Ada apa?" tanya Gadis itu.
"stop mengikuti ku." kata Saga.
"Saya tidak mengikuti kamu, kamu sendiri yang meminta saya untuk tetap berada di dekatmu." jawab gadis itu dengan menatap Saga
"Aku tidak pernah memintamu. Dunia kita berbeda dan aku tidak tahu bagaimana kau bisa tiba-tiba ada disini. Tapi aku minta tolong padamu jangan mengikuti ku lagi." kata Saga.
"Tidak bisa karena kita saling terikat. saya tidak akan merepotkan kamu dan justru saya sebaliknya, saya akan melindungi kamu." ujar gadis itu.
"Terikat apa?" tanya Saga bingung.
"Kamu tidak ingatkah saat kamu berada di kelas 10 dan tanganmu berdarah? Kamu tahu alasanku bisa keluar dari cermin itu?" kata Gadis itu yang membuat Saga tidak mengerti.
"Yang terpenting saya tidak bisa meninggalkan kamu begitupun sebaliknya karena kita sudah terikat. Kamu tenang saja, saya berjanji tidak akan membuat masalah dan akan melindungi kamu oh ya satu lagi yang pasti aku akan membantu kamu. Jadi biarkan saya tetap seperti ini." lanjutnya.
Saga mendengarkannya dengan bingung. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang di katakan gadis itu dan ia mencoba memahami apa yang di katakannya.
"Percayalah pada saya, saya akan melindungi kamu." kata gadis itu namun Saga hanya diam saja dan memilih pergi.
Ia menoleh ke belakang dan ternyata gadis itu tetap mengikutinya. Ia berjalan cepat gadis itu juga berjalan cepat, ia lambat gadis itu juga ikut lambat. tentu saja ia kesal, kemudian saga pun berjalan cepat namun sedetik kemudian ia berhenti yang membuat gadis itu menabrak punggungnya.
"Aduh!!! Kamu bagaimana sih jalan kok kaya pembalap ontel, mendakak mengerem." kata gadis itu dengan berdecak kesal.
"Mangkanya jangan mengikuti ku terus." kata Saga dengan berjalan kembali.
"Memang saya salah?" tanya gadis itu dengan polosnya.
"Tentu saja. Kita ini beda dunia dan tidak seharusnya kau ada disini." jawab Saga.
"Emmm beda dunia ya...ahh saya punya ide, begini saja, saya 5 langkah di belakang kamu bagaimana. Ada jarak loh, kan kata kamu beda dunia. lihat ini pembatasnya." kata Gadis itu dengan melukis garis pembatas di lantai dengan kayu.
"Ahhh terserah kau saja lah. Jangan dekat-dekat denganku." kata Saga dengan berlalu pergi.
"Aku tidak salah lihat kan? Dia bicara sendiri?" gumam seorang laki-laki tinggi dan tampan yang melihat kejadian itu kemudian ia berjalan menuju kelasnya.
Ia terus menerus memperhatikan Saga hingga akhirnya rasa penasarannya itu tidak tertahankan lagi
ia pun menghampiri Saga yang tengah duduk membaca buku.
"Ga...." kata Raja yang membuat Saga mendongak
"Kenapa?" tanya Saga namun Raja akhirnya mengurungkan niatnya dan mengalihkan pembicaraan
"Ahh itu apa yang kau baca, boleh ku pinjam." kata Raja canggungnya.
Saga menatapnya dengan heran namun tetap memberikan bukunya, sementara gadis yang tengah duduk di meja guru itu tiba-tiba ikut menimbrung
"Dia tuh tadi melihat kamu bicara dengan saya." kata gadis itu yang membuat Saga melirik