
Apa yang di lihat Saga benar-benar seperti nyata. Ia juga ada di sana melihat bagaimana Mia di bunuh dengan sadisnya, namun anehnya ia sama sekali tidak bisa menolongnya. Ketika Mia melepaskan pegangannya seketika Saga kembali ke kesadarannya dengan nafas yang tidak teratur dan keringat yang sudah mengalir.
"Saya tidak perlu rasa kasihan kamu, jadi jangan menatap saya seolah-olah saya adalah yang paling menyedihkan, walaupun sebenarnya saya memang seperti itu, tapi saya tidak suka jika ada orang yang menatap saya seperti itu." kata Mia dengan wajah datarnya.
"Darah..." ucap Saga yang langsung memahaminya.
"Sekarang kamu sudah tahu bagaimana kematian saya dan sekarang saya ingin tahu apa yang ingin kamu lakukan?" kata Mia.
"Aku masih tidak mengerti...dia terkena darahmu namun seperti darahmu menyakiti dan membuatnya marah." kata Saga.
"Bukankah kamu punya partner, kenapa tidak berdiskusi dengannya saja." kata Mia dengan menggigit jarinya.
Tiba-tiba ia terlintas sesuatu di pikirannya dan ia segera beranjak kemudian mulai fokus pada laptopnya. Ia mencari sesuatu dan membacanya dengan seksama kemudian menatap Mia dengan ekspresi terkejut membuat Mia menatapnya dengan aneh.
"Darah gadis....ataukah itu artinya dulunya kau...." Saga Tersadar jika ucapannya seharusnya tidak ia keluarkan karena terlalu tidak enak untuk di dengar.
Ia pun mulai penasaran dengan masalalu Mia apalagi ketika ia melihat wujud Mia yang begitu mengerikan. ia mencoba mengorek informasi dari Mia sendiri namun ia terus menolak karena dunia mereka berbeda dan tidak seharusnya saling ikut campur, tapi setelah Saga mendesak akhirnya Mia memberikan beberapa petunjuk untuk mengetahui masalalu Mia lebih lagi dan menemukan inti permasalahannya.
"Kamu baik-baik saja nak?" tanya Sari pada Saga yang terlihat seperti sedang sakit.
"tidak Bun hanya sedikit pegal saja mungkin salah posisi tidur." jawab Saga dengan tersenyum padahal yang terjadi sebenarnya bukan itu.
"Kamu fokus belajar saja ga jangan bermain-main." kata Ilsan yang membuat Saga menatapnya.
"Iya yah aku tahu." jawab Saga dengan mengangguk.
"Kesukaan saya tuh. saya mau dong." kata Mia yang ingin menyentuh sambal telur sehingga Saga langsung refleks memukulnya membuat orang tuanya terkejut.
"Ga kenapa memukul meja?" tanya Ilsan.
"Lalat yah hehe maaf ya." ucap Saga dengan menatap kesal Mia begitupun juga dengan Mia.
"Saya lapar tau!!" seru Mia kemudian menghilang entah kenapa.
Setelah itu Saga berangkat ke sekolahnya namun sekarang Mia tidak ikut seperti biasanya, entah wanita hantu itu marah padanya atau memang sedang ada urusan lain, tapi Saga merasa bersalah.
"Mia..." ucap Saga dengan menatap spion sepeda motornya.
Ia memanggil beberapa kali hingga akhirnya muncul dengan raut wajah di tekuk dan bisa di pastikan jika Mia memang marah padanya.
"Kau marah?" tanya Saga namun Mia hanya diam saja.
Alin Menatap Saga dan Raja dengan anehnya ketika melihat bagaimana interaksi keduanya yang jauh berbeda dari sebelumnya. Karena penasaran dengan apa yang terjadi, alin pun menghampiri keduanya.
"pemandangan yang sangat langka hahaha ada apa dengan kalian?" tanya Alin
"Kenapa wanita sangat ingin tahu sekali dengan urusan kami para lelaki." kata Raja dengan malasnya kemudian kembali ke tempat duduknya.
Saat istirahat terlihat mereka berdua juga duduk di bangku yang sama dengan terus mengobrol yang membuat Alin dan dini makin penasaran karena jika keduanya sudah klop dan care pastinya akan ada sesuatu.
"Kau merasa aneh tidak dengan mereka berdua?" tanya Dini
"Menurutmu??" ujar Alin.
"Darah perawan?" tanya Raja dengan suara pelannya agar tidak di dengar oleh orang lain
"Ya. aku menyimpulkan darah perawan. Kau tahu bukan tumbal darah perawan untuk mempercantik dan tetap membuat awet muda seseorang." kata Saga membuat Raja berfikir sambil manggut-manggut.
Sore harinya sepulang sekolah Saga mengajak Raja ke tempat dimana dia pertama kalinya melihat wujud Mia yang sesungguhnya. Saga memang tidak memberitahukan keberadaan Mia, dia hanya mengatakan apa yang terlintas di benaknya saja.
"Ada apa dengan pohon ini?" tanya Raja dengan bingung.
"Aku harus mencari tahu masalalu seseorang melalui pohon ini." jawab Saga membuat Raja bingung.
"Siapa?" tanya Raja.
Tanpa menjawab Saga langsung pergi begitu saja membuat Raja hanya mengikutinya saja. Ia menghampiri seorang pria dan mengeluarkan ponselnya serta menunjukkan sebuah foto di dalamnya.
"Siapa kau?" tanya Pria tersebut yang terlihat terkejut.
"Saya keluarganya pak. Apa bapak pernah melihat gadis ini disini sekitar 18 tahun yang lalu." kata Saga yang lagi-lagi membuat Raja tercengang.
"Sebenarnya dia waras atau tidak. Bagaimana mungkin kejadian 18 tahun yang lalu dia menanyakannya sekarang." batin Raja yang tidak habis pikir dengan Saga.
"Aku tidak tahu." jawab pria tersebut kemudian pergi namun sesaat kemudian dia kembali lagi dan mengajak mereka berdua singgah di rumahnya.
"Sebenarnya siapa kau?" tanya pria itu.
"Saya Saga dan ini teman saya Raja, begini pak...mungkin ada sesuatu yang belum terselesaikan oleh alm Tante saya, dia sering kali datang di mimpi saya dan meminta saya untuk membantunya." jawab Saga.
"Apa itu?" tanya Pria itu.
"Sebelum itu, apakah bapak kenal dengan Tante saya?" tanya Saga dengan menunjukkan kembali foto sekolah Mia.
Pria itu memandang foto Mia dengan mata yang berkaca-kaca. Semua ingatan masalalu nya kembali terlintas. melihat perubahan itu tentu membuat Saga semakin yakin jika pria itu memang mengenal Mia.
Pria itu tiba-tiba beranjak dan mengambil sesuatu dari kamarnya. Sebuah buku bersampul biru dengan tanggal istimewa, 1 Januari 2001, kemudian ia berikan pada Saga yang membuat Saga bertanya-tanya.
"Apa ini?" tanya Saga bingung.
"Buka saja." jawab pria itu membuat Saga langsung membukanya.
Di halaman pertama buku itu ada dua buah tanda tangan berbeda dengan inisial I dan M, kemudian di halaman berikutnya dan seterusnya hanya ada foto Mia dan pria itu. Rupanya buku itu adalah album kenangan pria itu dan Mia, sehingga makin jelas jika pria ini memiliki hubungan khusus dengan Mia.
"Dia wanita yang baik hanya saja semua orang tidak memahaminya termasuk ibunya." kata pria itu.
Tiba-tiba Mia muncul yang membuat Saga menatapnya bergantian dengan pria yang kini tengah bercerita masalalunya bersama Mia.
"Kenapa kamu menemuinya dan tidak bertanya pada saya dulu." kata Mia .
"Tepat di hari ulangtahunnya, aku ingin menemui dan meminta maaf setelah semua yang aku lakukan padanya. Walaupun saat itu usianya masih 17 tahun tapi entah kenapa aku bersikeras untuk menjadikannya dia yang pertama dan terakhir untukku. Aku sudah menyiapkan semuanya tapi malam itu aku mendapatkan kabar jika dia sudah tiada." ucap pria itu dengan wajah sendunya.
"Jangan bertanya lebih lagi saya mohon." kata Mia dengan memohon pada Saga. Bukannya apa-apa hanya saja Mia tidak ingin jika pria itu mengalami sakit yang sama lagi dan tidak mampu untuk melupakan semua yang sudah terjadi.
Untuk pertama kalinya Saga melihat Mia menangis dan melihat itu Saga juga merasakan sakit di hatinya. Ia melihat di mata keduanya hanyalah cinta.
"Saya minta tolong katakan jika saya ingin menyentuh sekali saja. Saya ingin agar dia bisa melupakan saya. Dunia saya dan dia sudah berbeda. jadi saya mohon katakan padanya." kata Mia.
"Bolehkah saya meminjam tangan bapak?" kata Saga membuat pria itu menatapnya begitu Raja yang terlihat bingung.
Tanpa mengatakan apapun pria itu meletakkan tangannya di paha Saga sementara Mia mulai menyentuhnya dengan lembut membuat pria itu terkejut dan menatap Saga dengan mata berkaca-kaca.
"Lupakanlah dia...itu yang ingin dia sampaikan padamu." kata Saga.