
Hari ini Saga dan Raja ingin menemui narasumber yang membuat artikel sekolahnya dulu. Mereka berangkat bersama sekitar pukul 10 pagi. Walaupun tidak tahu pasti dimana rumahnya namun mereka tetap pergi dah bertanya pada orang-orang yang mereka temui di jalan
Setelah satu setengah jam berkendara kini mereka tiba di salah satu rumah yang ada di perumahan XXX. mereka turun dan memastikan jika alamat yang mereka tuju sudah benar. Setelah Raja menekan bel, keluarlah seorang pria yang mungkin usianya hampir sama dengan ayah Saga.
"Ya ada yang bisa saya bantu?" tanya Raharja pada mereka.
"Kami siswa dari SMA Adiwangsa pak." kata Raja .
Mendengar perkataan Raja membuat Raharja langsung membukakan pintu dan mempersilahkan keduanya untuk masuk. Ia sudah menunggu saat saat seperti sekarang. Ia langsung menembak inti dari pembicaraan yang akan mereka lakukan sehingga membuat Saga dan Raja terkejut bukan main.
"Apa yang ingin kalian ketahui?" tanya Raharja.
"Emm jika boleh kami tahu, kenapa bapak menulis artikel tersebut?" tanya Saga.
"Hufftt ceritanya panjang nak bapak tidak bisa menceritakannya pada kalian, biarlah itu menjadi masalalu kelam sekolah kalian." kata Raharja.
"Apakah bapak tahu jika di sekolah kami sekarang sering terjadi kematian yang tidak wajar?" kata Saga membuat Raharja terkejut.
"Mungkin memang sudah takdirnya nak. Tidak ada yang tahu bukan kapan kematian akan datang." ujar Raharja.
"Saya banyak menemukan kejanggalan pak, dan kasus yang mereka alami rata-rata sama. mereka korban broken home yang pada akhirnya mengalami depresi dan tekanan." kata Saga.
"Dari mana bapak bisa menyimpulkan semua menjadi artikel ini? Saya rasa bapak tidak mungkin membuat hal yang bertentangan dengan fakta atau hanya sekedar mengarang cerita saja. Karena semua disini tertulis lengkap." kata Saga.
"Huffftt ya kalian memang benar. dulu putriku juga mengalami tekanan dari ibunya. Kami bercerai setelah masalah yang tidak ada selesainya. putriku sering mengurung diri di kamar dan pada hari Kamis pukul 9 malam dia di temukan tewas tertabrak kereta." kata Raharja dengan tatapan sendunya.
"Saat itu aku menemukan beberapa hal aneh yang tidak di sadari orang lain lalu aku mencari tahu dan aku mendapatkan sebuah fakta yang sangat mengejutkan tentang sekolah tersebut dan aku juga tahu kematian putriku memang sudah di rencanakan. beberapa hari setelah aku menulis artikel tersebut istriku dan anak pertamaku meninggal. Aku di datangi seseorang yang sangat misterius di mimpiku. kematian mereka seperti sebuah peringatan bagiku agar aku tidak terlalu ikut campur dan menyudahi apa yang tengah aku lakukan. mungkin jika aku berbicara terlalu banyak dan memberitahu fakta mengejutkan tersebut setelah ini aku akan mati tapi aku tidak akan melakukannya karena semua akan berimbas kepada kalian. jadi saranku kalian fokus saja belajar dan jangan penasaran tentang hal apapun." lanjutnya.
Perkataan bodoh macam apa itu, bagaimana bisa orang tidak penasaran setelah cerita tersebut. Mungkin hanya orang bodoh saja yang akan langsung menurut namun tidak dengan Saga, ia justru semakin penasaran dan ingin mengungkapkan kasus 2005 tersebut.
"Ziya....cantik bukan nama putriku." ucap Raharja yang membuat keduanya saling tatap.
Walaupun mereka tahu jika kasus 2005 itu memang benar adanya tapi Saga masih belum puas karena dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Masih banyak pertanyaan dan teka-teki sulit untuk di pecahkan.
"Raja..." kata Agam ketika Raja ingin pergi.
"Kau bisa ku percaya bukan." kata Saga.
"Tenang. Kita cari solusinya bersama-sama." ujar Raja dengan mengangguk.
Saat akan menyalakan motornya, ia merasa tengkuknya tiba-tiba merinding. Dilihatnya Saga sudah masuk ke dalam kemudian ia melihat sekelilingnya dan ekor matanya menangkap sosok merah yang kemudian menghilang.
"Ahh mungkin hanya perasaan ku saja." kata Raja kemudian pergi.
"Ziya meninggal tepat sebelum kau. Jadi bisa di simpulkan kau adalah korban terkahir dari kasus tersebut." kata Saga dengan menatap Mia.
"Ya menurut kamu..." ucap Mia.
"Apa kamu benar-benar ingin tahu?" tanya Mia dengan raut wajah serius.
"Ya aku ingin tahu." jawab Saga.
"Pegang tangan saya." kata Mia membuat Saga bingung.
"Ingat bukan muhrim." ujar Saga yang membuat Mia berdecak kesal.
Mia pun akhirnya memegang pundak Saga dan seketika ingatan masalalu Mia terlintas di pikiran Saga.
FLASHBACK...
Hari ini adalah ulang tahun Mia yang ke 17 tahun. Ia menunggu kepulangan ibunya dari kantornya. Karena menunggu terlalu lama dan bingung harus melakukan apa, akhirnya Mia pun memutuskan untuk berkeliling di rumahnya entah apa yang akan dia lakukan.
Ia sudah menelpon ibunya untuk merayakan ulang tahunnya di cafe kesukaannya namun sampai malam ibunya juga belum datang. ia masuk ke kamar ibunya karena ia jarang ke kamar tersebut dan entah sebab apa ibunya melarang Mia untuk masuk ke kamarnya.
Ceklekk...
Ia melihat kamar ibunya yang terlihat begitu bersih dan nyaman, namun walaupun begitu ia merasa panas dan seperti kesulitan bernafas. ada satu benda yang membuatnya tertarik sehingga dia mengambil dan melihatnya dengan seksama. Di antara yang lain hanya benda tersebut yang begitu mencolok. Disisinya ada sebuah buku kuno dengan sampul yang bertuliskan tulisan yang entah apa Mia juga tidak tahu.
Ia membukanya dan terkejut melihat isi di dalamnya. Syok dan tak terasa air matanya pun menetes membacanya. Pintu terbuka dan menampakkan sepasang kaki jenjang putih dan langsung merebut buku tersebut dari Mia.
"Bukankah mama sudah bilang jangan masuk kamar mama kenapa kau lancang sekali hah." bentak Lily dengan marahnya.
"Ma, apa ini? kenapa mama melakukannya? kenapa ma?" tanya Mia dengan tidak percayanya.
"Itu tidak ada urusannya denganmu. Jangan ikut campur." kata Lily.
"Bunuh saja dia karena itu akan menghambat tujuanmu." sebuah suara berbisik di telinga Lily membuat wanita itu langsung murka dan berusaha untuk menghabisi Mia anaknya sendiri.
"Ma sadar ma!! Mama sudah di pengaruhi oleh iblis." kata Mia.
"Persetan dengan iblis, kau harus mati Mia karena kau sudah mengetahui segalanya. Kau akan menjadi penghambat tujuanku jika kau tetap hidup." kata Lily dengan sorot mata yang berbeda.
"Keluar kau dari tubuh ibuku." teriak Mia.
"Hahaha matilah kau!" kata Lily dengan mencekik Mia namun anehnya malah tangan Lily yang terasa seperti terbakar.
Ia melihat kalung yang di pakai Mia membuat Lily bertambah murka. Ia berusaha membunuh Mia dengan benda tajam namun ketika darah sudah keluar dari leher Mia, Lily berteriak dan semakin bertambah murka.
"Arrrrkhhhhhhhh berani-beraninya kau!!!" teriak Lily.
"Aku bersumpah aku akan menghentikanmu" kata Mia sebelum akhirnya dia benar-benar menutup matanya.
FLASHBACK END...