
Mereka berdua memeriksa dengan seksama meja tersebut dan mendapati adanya sebuah simbol dan bekas seperti sebuah darah yang sudah mengering. Aroma di tempat tersebut juga membuat mereka tidak nyaman dan harus beberapa kali menahan nafasnya.
"Satanic ga. Iya gue inget gue tahu ini." kata Raja ketika memperhatikan simbol yang ada di meja tersebut.
Mendengar hal itu tentu saja membuat Saga langsung teringat dengan simbol segitiga yang berada di sobekan kertas sebagai petunjuk dimana juga ada sebuah titik kecil di tengah segitiga tersebut.
"Illuminati?" ucap Saga yang di angguki Saga.
Mereka benar-benar terkejut ketika mengetahui fakta tersebut. salah satu yang ada di pikiran keduanya hanyalah siapa sebenarnya yang ada di balik semua ini karena Illuminati juga masih di sebut dengan teori konspirasi dan juga tentu mereka tidak pernah mengira jika memang ada seseorang yang melakukannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Raja ketika melihat Saga menaruh sesuatu di bawah meja ritual tersebut.
"Sesuatu yang akan menghentikan semuanya. Oh ya lebih baik kau taburi garam di bawah juga usahakan jangan sampai terlihat." kata Saga
"Alin juga memberikan ini padaku. Entah apa isinya tapi dia bilang jika ini adalah darah ayam cemani. Setahuku ya memang juga berhubungan sih." ujar Raja yang di angguki Saga dan segera beraksi.
Ia meneteskan darah ayam cemani itu di meja dan sekitarnya, Saga juga terlihat tengah menyematkan sesuatu di sela-sela meja tersebut seperti sebuah duri. bertepatan dengan itu tiba-tiba hawa di dalam sana terasa sangat pengap dan sesak. Suara langkah kaki yang semakin jelas pun mulai terdengar.
Mereka segera meninggalkan tempat tersebut dan berlari. langkah kaki itu juga terdengar mengikuti mereka namun di arah yang berlawanan. sangat sesak, itulah yang mereka rasakan tapi mereka tetap harus bertahan dan sesegera mungkin menemukan jalan keluar.
"Ga..." kata Raja dengan berhenti ketika melihat sebuah bayangan besar tak jauh darinya tepatnya ada di depan lorong kanan jalan yang akan mereka lalui.
"Pilih kiri." kata Saga dengan berlari ke lorong sisi kiri.
Ia sadar jika mereka dalam bahaya karena sosok berjubah merah benar-benar mengejar mereka. Entah jalan yang mereka pilih benar atau tidak yang terpenting sekarang mereka harus bisa menemukan jalan lain atau mereka harus menghadapi sosok tersebut.
"Kalian pikir bisa lari setelah mengacaukan semuanya. Akan ku buat kalian merasakan akibatnya aaaaarrghhhh." kata sosok tersebut dengan suara lantangnya. Seperti suara seorang wanita namun juga seperti seorang pria.
Tak sengaja tangan Raja menyentuh kalung Saga dan terkejut karena kalung itu bergetar begitu hebat dan terasa dingin. Saga pun tidak terlalu menghiraukan Raja dan terus berlari. Tiba-tiba Raja menabrak punggung Saga yang tiba-tiba berhenti. Saga melangkah mundur begitupun juga dengan Raja.
Sebuah tangan Panjang tiba-tiba meraih leher mereka berdua dan mencekiknya dengan sangat kuat. Seakan mata mereka hampir lepas dari tempatnya dan juga lidah mereka yang sudah menjulur keluar.
"Kau pikir dengan kalung itu kau bisa membunuhku. Tidak akan bisa. Kau salah mencari lawan. Bukankah sudah ku peringatkan dengan baik-baik jangan mencampuri urusanku hah!!" teriak sosok tersebut dengan menggema .
"Yallah jika memang hidup ku hanya untuk menyelesaikan masalah ini aku ikhlas tapi musnahkanlah sosok seperti dia agar tidak membuat kekacauan lagi." ucap Saga di dalam hati karena ia merasa jika ajalnya sudah dekat.
"Aku tidak mau mati sekarang." ucap Raja di dalam hati juga dengan tatapan mata tertuju pada Saga yang sama kesakitan seperti dirinya.
Tiba-tiba saja sosok itu tangannya menyentuh kalung tersebut dan langsung berteriak seperti orang kesakitan. Mereka pun terduduk lemas di lantai dengan menahan rasa sakit yang begitu menyakitkan. Saga melepaskan kalungnya dan di lemparkannya ke arah sosok berjubah merah itu sehingga membuat sosok tersebut menatap marah ke arah Saga dan hampir meraih Saga dan Raja lagi namun usahanya sia-sia karena kalung itu dengan cepat mengunci jiwanya.
"Kau akan mati!!!" teriak Sosok berjubah merah sebelum akhirnya seperti tersedot pada kalung yang tadi Saga lemparkan ke arahnya.
"Ayo kita cari jalan keluar." ucap Saga dengan berdiri begitupun juga dengan Raja.
Mereka berjalan dengan langkah tertatih-tatih dan lunglai. Di tambah di lorong tersebut minim oksigen. Mereka juga tidak tahu apakah jalan yang mereka pilih benar atau justru akan membuat mereka menetap di dalam sana.
"Aku tidak ini benar atau tidak." kata Saga .
"Aku yakin padamu. Apapun keadaannya kita harus tetap bertahan dan menemukan jalan keluarnya. Masalah kita sudah terselesaikan dengan dia masuk ke dalam kalangmu. Masih ada banyak hal yang harus aku tanyakan padamu, kau harus ingat itu." kata Raja yang membuat Saga mengangguk dengan malasnya.
"Hmm baiklah. setelah kita keluar rasa penasaranmu akan terjawab." ucap Saga.
"Pastikan jalan yang kau ambil benar karena aku tidak ingin mati dengan seribu rasa penasaran." kata Raja.
Mereka terus berjalan entah kemana dengan berbekal korek api sebagai penerangan mereka. hp mereka juga mendadak habis baterai dan hanya bisa menggunakan korek api yang di bawa Saga.
Ada sebuah lubang cahaya tepat di atas mereka. merekapun memeriksa apakah ada semacam tangga untuk di gunakan sebagai alat agar mereka bisa sampai ke atas dan memeriksanya.
Tiba-tiba raja menyentuh sesuatu dan ia memastikannya lebih dulu apakah itu tangga atau tidak karena keadaan yang benar-benar sangat gelap dan hanya sebuah api kecil yang jadi penerangan mereka.
"Ga sini." kata Raja yang sudah naik ke anak tangga 2.
Saga pun berbegas memberikan penerangan dan saat sudah mentok di atas Raja pun langsung mengangkat dan sebuah cahaya terang serta oksigen pun ia dapatkan. Ia naik dan membantu Saga juga. Mereka seperti cacing kepanasan dengan berbaring di tanah. keadaan mereka benar-benar kacau.
"Dimana kita?" gumam Saga .
Ada sebuah suara kereta api yang membuatnya langsung paham dimana dia sekarang.
"Syukurlah kita berhasil mengalahkannya." kata Raja .
"Tulang leherku rasanya remuk." ucap Saga dengan mengelus lehernya yang memerah.
Berbeda dengan Raja yang justru lehernya sudah memar dan persis membentuk tangan. setelah itu mereka merapikan penampilan mereka dan tak lupa Saga sengaja membuka lipatan baju di lehernya agar menutupi bagian yang memar walau tidak semuanya tertutup.
"Kau terlihat sangat aneh." ucap Saga dengan tersenyum kecil melihat bagaimana penampilan Raja sekarang.
"Diamlah kau. Kau pikir aku mau seperti ini." kata Raja dengan suara kesalnya.
"Bukankah sudah aku bilang...."
"Hahh sudahlah diam aku ingin pulang dan beristirahat." potong Raja saat Saga menimpalinya.