
Saga dan teman-temannya yang tengah menuju kantin di buat heran dengan banyaknya siswa siswi yang berlali menuju ke kelas 11 A. Karena rasa penasarannya merekapun akhirnya juga menuju ke sana.
"Maaf, ada apa ya?" tanya Alin dengan bertanya pada salah satu siswa.
"Kesurupan lagi kak." jawabnya yang membuat Saga terkejut dan langsung menerobos kerumunan itu.
"Panggil guru cepat." kata Raja yang juga panik.
Benar saja di dalam suasana sudah tidak terkondisikan. hampir semua murid kelas 11 A kesurupan. Mereka meraung tidak jelas dan ada salah seorang murid yang mendekati Saga dengan tatapan centilnya.
"Heh kamu!!! Pergi sana dasar gatel!!' seru Mia dengan mendorong keras yang membuat murid tersebut jatuh tersungkur dan pingsan.
"Bunuh dia atau kalian yang akan mati hihihihi...."
"Dia iblis hihihihi...."
"Astaghfirullah hal'adzim... semuanya keluar dulu." kata pak Miftah yang juga disana sudah ada pak San.
Lagi-lagi pak San menatap Saga dengan tatapan yang tak biasa sehingga membuat Saga sedikit tidak nyaman dan menjauh dari pria paruh baya itu.
"Terus berdzikir dan pikiran kalian jangan kosong." kata pak Miftah.
Pak San membacakan doa dan dalam sekejap semuanya pun jatuh pingsan namun kemudian sadar dengan kosong dan linglung.
"Kenapa akhir-akhir ini sekolah kita sering kali mengalami kesurupan padahal dulu tidak ada sama sekali." kata Aldo yang membuat teman-temannya juga menyetujuinya.
"Iya benar. Aku menjadi takut untuk pergi ke sekolah." timpal yang lainnya.
"Semuanya sudah baik-baik saja anak-anak dan tidak ada yang perlu kalian khawatirkan." kata Pak Miftah dengan meyakinkan semua siswa.
Saat akan pulang sekolah, tak sengaja Saga berpapasan dengan pak San yang juga masih sama seperti tadi menatapnya dengan tatapan yang membuat Saga tidak nyaman.
"Sore pak." ucap Saga dengan ramahnya.
"Iya..." jawab Pak San dengan cueknya.
"Pak tunggu sebentar...." kata Saga yang membuat pak San berhenti dan menoleh ke belakang.
"Ada apa?" tanya pak San.
"Emm kenapa Bapak menatap saya seperti itu? Maaf jika mungkin terkesan bagaimana, hanya saja saya merasa penasaran karena setahu saya, saya tidak pernah melakukan kesalahan ke bapak. Atau jika mungkin secara tidak sengaja saya melakukan kesalahan pada bapak mohon di maafkan." kata Saga."
"Yang terpenting kamu harus fokus dengan sekolahmu dan jangan mencari tahu apapun. Bapak yang pergi dulu ya masih banyak urusan. Assalamualaikum." kata Pak San dengan berlalu pergi namun membuat Saga benar-benar bingung.
"Kamu kenapa?" tanya Mia yang tiba-tiba muncul membuat Saga terlonjak kaget.
"Hihh kau!!!" seru Saga dengan kesalnya.
"Hehehe maaf kamu terkejut ya." ucap Mia dengan cengengesan tanpa dosa.
"Aku merasa ada yang aneh dengan Pak San." kata Saga yang membuat Mia menatapnya.
"Aneh kenapa?" tanya Mia
"Entahlah tapi aku merasa ada yang aneh saja." kata Saga.
"Caaa tunggu!!!" teriak beberapa siswi yang membuat Saga menoleh ke arah mereka yang tengah mengejar Caca.
"Kenapa kamu berdiri saja, cepat hentikan dia atau dia akan mati." kata Mia yang membuat Saga terkejut dan berlari.
"Pak tolong hentikan Caca pak!!" teriak teman-temannya dengan panik membuat penjaga gerbang sekolah dengan sigap menghadang Caca dan memeganginya.
"Astaga ca kau benar-benar. bukan seperti ini caranya. Jangan berfikir bodoh lagi ayo kembali ke ke kelas." kata Lalita dengan mengatur nafasnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Saga dengan bingungnya.
"Hehe biasa kak masalah anak muda. " jawab Lalita dengan tersenyum.
dengan wajah sembab Caca pun akhirnya mau kembali ke kelas lagi. Saga menatap Mia dengan tatapan sinisnya membuat Mia keheranan.
"Jangan menatap saya seperti itu nanti kamu suka loh sama saya." kata Mia
"Kalau bicara itu jangan ngawur." kata Saga kemudian berlalu pergi.
"Siapa yang ngawur. Saya tau kok dia bakal mati cepat atau lambat." gumam Mia dengan berdecak
Perkataan Mia benar-benar mengganggu pikiran Saga. Ia masih ingat betul kematian dua siswi yang masih membuatnya janggal dan penasaran. Ia pun memutuskan untuk menemui Caca ke kelasnya.
Melihat Saga yang masuk begitu saja kelas mereka, membuat semuanya kaget namun juga sangat gembira apalagi para siswi yang langsung heboh dan merapikan penampilan mereka.
Saga melihat Caca yang tengah duduk dengan tatapan kosong di temani Lalita dan Rindi. Melihat kedatangan Saga yang menghampiri mereka membuat mereka terheran-heran.
"Kenapa kak?" tanya Lalita.
"Bagaimana dengan teman kalian?" tanya Saga
"Entahlah kak." jawab Lalita.
"Ca...." ucap Saga dengan lembutnya membuat Caca langsung mendongak.
"Aku baik-baik saja kak." kata Caca kemudian berlalu pergi.
"Ca kau mau kemana?!" kata Rindi
"Aku ingin ke toilet jangan mengikuti ku. Aku baik-baik saja." kata Caca
Karena Caca pergi, akhirnya Saga pun ikut pergi. Hal itu menjadi perbincangan setiap siswa di kelas tersebut dan ada gosip baru jika Saga menyukai Caca bahkan ada yang mengatakan jika mereka berdua menjalin hubungan.
"Ca, tunggu sebentar." kata Saga yang membuat Caca berhenti.
"Kenapa kak? Jika kak Saga hanya ingin menenangkan ku seperti mereka, kakak hanya membuang-buang waktu saja karena semuanya sudah hancur kak." kata Caca dengan sesegukan.
"Kamu bisa menceritakannya padaku, mungkin aku bisa membantumu." kata Saga .
"Membantu apa? Bahkan rasanya aku sudah tidak ada alasan lagi untuk hidup kak." kata Caca yang masih enggan bercerita.
"Jangan bicara seperti itu ca, semuanya ada jalannya. Kamu bisa bercerita dulu aku berjanji aku akan membantumu sebisaku." kata Saga dengan meyakinkan
"Sudah kak makasih tapi ini bukan masalah kak saga , jadi kakak tidak perlu mencampurinya." kata Caca.
"Aku temanmu, kamu bisa bercerita sepuasnya padaku. Tapi jangan lakukan hal bodoh yang sedang kamu pikirkan. " kata Saga.
"Sudah kak aku ingin sendiri." kata Caca dengan berlalu pergi.
Melihat Caca pergi, entah kenapa perasaan Saga merasa tidak tenang. Mia dengan kejahilannya pun lagi-lagi membuat jantung Saga hampir copot di buatnya.
"Ada apa?" tanya Mia
"Sekali setan tetap setan." kata Saga dengan kesalnya
"Saran saya, jangan biarkan dia sendiri di keadaannya seperti sekarang. Bilang sama teman-temannya agar selalu berada di sampingnya." kata Mia namun Saga tidak menghiraukannya.
"Hei saya ini sedang bicara kenapa kamu sangat tidak sopan hah." seru Mia dengan berlari mengikuti Saga