
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Mia dengan penasaran karena Saga terus melihat ke monitor laptopnya
"Ah ya kau kan dulu alumni SMA Adiwangsa bukan, apa kau tahu tentang artikel ini. Kau juga tertulis di dalam sini." kata Saga dengan menunjukkan monitor laptopnya.
"Saya tidak tahu. Kenapa kamu penasaran? Lebih baik kamu fokus saja pada sekolahmu." kata Mia dengan membuang muka.
"Aku hanya penasaran saja kenapa banyak sekali kematian murid di tahun ini." kata Saga.
"Jangan penasaran. Itu kisah lama, lebih baik kamu fokus sama masa depan kamu saja dan jangan mengungkit lagi. Itu sangat beresiko bagi kamu." kata Mia membuat Saga heran dan semakin penasaran
"Resiko? apakah ada suatu kejadian yang mungkin tidak banyak orang ketahui soal artikel ini. Apakah kau mengenal orang yang membuat artikel ini." kata Saga dengan antusiasnya.
"Tidak. Jangan bertanya lagi pada saya, saya tidak tahu." ujar Mia
"Aku tahu kau tahu banyak tapi aku tidak akan memaksa mu dan aku akan mencaritahu sendiri." kata Saga .
"Jangan." kata Mia.
"Kenapa?" tanya Saga bingung.
"Kenapa kamu membuang-buang waktu untuk hal seperti itu. Lagian berita itu juga belum tentu benar." jawab Mia dengan menatap ke langit-langit rumah.
"Berikan alasan yang jelas lalu aku tidak akan mencaritahu." kata Saga namun Mia hanya diam saja tidak merespon.
"Andai kamu tahu kenapa saya sekarang saya ada disini. saya tidak bisa mencampuri urusan manusia." batik Mia dengan raut wajah sendunya.
"Kau tidak bisa bukan." kata Saga dengan berdecak.
Karena rasa penasarannya, Saga benar-benar mengorek informasi tentang SMA Adiwangsa yang dulu. ia mendapatkan banyak sekali artikel namun hanya satu yang membuatnya tertarik tapi sayangnya artikel itu tidak bisa di buka namun Saga mencari tahu siapa penulisnya dan akhirnya dia pun menemukannya.
"Hah ini dia...." kata Saga dengan tersenyum.
Ceklekk...
"Loh aga kamu belum tidur nak." kata Sari dengan membuka kamar Saga.
"Hehehe belum bund ini mau tidur. Ada apa bund?" tanya Saga dengan menutup laptopnya.
"Bunda tadi ke dapur dan sengaja ke kamar kamu. Ini sudah malam loh kamu tidur ya bunda juga mau tidur ini." kata Sari.
"Iya bund aga habis ini tidur kok." kata Saga.
"Yaudahh bunda tutup pintunya ya. Ingat jangan begadang." kata Sari dengan menutup pintu.
Saga ke kamar mandi lebih dulu sebelum akhirnya ia mulai tidur. Baru saja ia memejamkan matanya ia merasa bayangan hitam dan besar kembali datang dan menimpa tubuhnya.
"Allahuakbar... Astaghfirullah hal'adzim..." ucap Saga dengan mata terbuka sempurna.
Bayangan hitam itu sangat besar dan menindih tubuhnya. Ia sudah membaca banyak doa namun bayangan itu tak kunjung pergi hingga ia merasakan sebuah tepukan keras di bahunya.
"Saga...Saga..." kata Mia yang membuat Saga langsung membuka matanya dengan nafas terengah-engah.
"Kamu kenapa?" tanya Mia
Rupanya itu hanya mimpi saja tapi Saga merasa itu benar-benar nyata sekali. Ia jelas melihat sosok bayangan hitam yang menindih tubuhnya sangat besar.
"Aku tidak papa." jawab Saga dengan mengusap wajahnya
"Mangkanya kalau mau tidur tuh baca doa." kata Mia
"Kau pikir aku tidak pernah baca doa. Tapi itu benar-benar nyata sekali. Hufftt astaghfirullah hal'adzim...ada apa denganku, kenapa beberapa hari ini aku bermimpi buruk terus." kata Saga
"Semakin kamu mencegah ku semakin aku penasaran ada apa dengan SMA Adiwangsa." kata Saga yang langsung ke berlalu ke kamar mandi.
"Aku tahu semua ini bukan suatu kebetulan." gumam Mia dengan tersenyum smrik.
.
.
.
"Ga tugasmu sudah selesai?" tanya Raja
"Sedikit lagi." jawab Saga dengan menoleh ke arah pintu dimana Mia tengah berdiri di samping pintu kelas sambil memperhatikan para siswa yang berlalu-lalang.
"Kau suka Tyas?" kata Raja dengan nada menggoda karena memang kebetulan Tyas tengah berdiri di jendela samping pintu pas dan raja salah mengartikan tatapan Saga.
"Tidak ada." jawab Saga dengan cueknya.
"Heh kamu kenapa kesini dan mengikutinya." seru Mia yang membuat Saga menoleh dengan terkejut.
Saga melihat ada seorang gadis pucat pasi yang berada di belakang Alin sementara alin cuek dan seakan tidak tahu apapun. Saga menggelengkan kepalanya masih belum percaya dengan apa yang dia lihat.
"Lin, dari mana kamu?" tanya Saga
"Aku dari toilet ga. Kenapa?" jawab Alin
"Ah ya itu tidak ada." jawab Saga yang tidak tahu harus bagaimana.
"Sana pergi." kata Mia dengan mengusir sosok gadis yang mengikuti alin.
"Kenapa saya harus pergi, saya suka wanginya." jawab gadis itu yang terus ingin mendekati alin namun Mia dengan cepat mendorongnya keluar.
"Lin, kamu pakai parfum?" tanya Saga yang membuat alin sedikit heran dengan pertanyaannya.
"Ehh kok kamu tahu... memangnya sangat wangi ya..." ucap Alin dengan mencium bau badannya
"Sedikit...lain kali jangan lagi ya." kata Saga dengan tersenyum kecil.
"Iya aku lupa...kamu kan ketua OSIS. Baiklah-baiklah lain kali tidak hehehe." ujar Alin dengan tersenyum canggung.
"Oh jadi kamu sudah tahu sebelum saya menjelaskan ya bagus bagus. Ingatkan juga yang lainnya jangan memakai parfum saat di toilet jika tidak dia akan mengikutinya." kata Mia yang sudah duduk di meja guru.
Saga baru tahu jika di sekolahnya ada hal semacam itu. Berapa banyak yang tidak dia ketahui tentang sekolahnya sekarang. rasa ingin tahunya tentang sekolahnya yang dulu sampai sekarang pun semakin bertambah. Ia benar-benar ingin menggali lebih dalam tentang sekolahnya dan beberapa artikel yang mengganggunya belakangan ini.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Mia.
"Banyak sekali salah satu adalah kau. Kenapa kau terus mengikuti ku?" tanya Saga.
"Bukankah sudah saya bilang jika saya dan kamu sudah terikat. Kamu yang membuat ikatannya bukan saya. Saya hanya mengikutinya saja. lagian kan saya tidak mengganggu kamu dan saya akan membantu kamu." kata Mia.
"Membantu apa?" tanya Saga
"Ya apa saja saya pasti akan melindungi kamu, tapi sekarang saya lapar." jawab Mia yang membuat Saga berdecak kesal.
"Makanlah apa saja kenapa harus bunga melati." kata Saga.
"Jika saya manusia saya bisa memakan apa saja tapi saya kan setan mana bisa...yang ada semua makanannya akan basi jika aku sentuh." kata Mia yang membuat Saga menatapnya dengan sinis.