
Saga pulang dari rumah pak San hampir magrib, ia sangat tidak puas dengan jawaban yang di berikan pak San padanya dan ia merasa jika pak San sedikit aneh tapi ia tidak ingin mengambil pusing dan akhirnya memilih untuk pulang.
ia berjalan bersama Mia di belakangnya. namun tiba-tiba ia mencium bau seperti kemenyan dan dupa serta bau wewangian yang sangat menyengat. Saga menoleh ke belakang dimana Mia menatapnya dan menyuruhnya untuk tetap berjalan saja.
"Tidak usah hiraukan apapun. Turuti perkataan saya dan cepat pergi dari sini." kata Mia dengan nada bicara yang tidak biasa Saga dengar.
Dengan reflek, ia pun menurut saja karena ia merasa ada yang tidak beres di area tersebut. Dengan nafas terengah-engah, Saga pun duduk sebentar sementara Mia menatap Saga dengan datarnya.
"Kenapa kau menyuruhku untuk cepat pergi dari sana?" tanya Saga dengan mengatur nafasnya.
"Banyak tanya sekali. Sudah ayo pulang sebentar lagi magrib." kata Mia
"Kau tahu sesuatu bukan? Jika kau tidak bercerita aku tidak akan membelikanmu bunga melati lagi." kata Saga dengan mengancam.
"Iya iya nanti saya cerita tapi habis ini belikan saya melati ya." kata Mia.
Saga singgah sebentar di masjid untuk melaksanakan solat magrib, setelah itu dia pun langsung melanjutkan perjalanan untuk pulang.
"Tadi aku sudah membelikannya dan sekarang kau harus bercerita." kata Saga.
"Intinya, jika kamu mencium bau seperti tadi saat kamu di sekitar tempat itu cepatlah pergi dan jangan mendekati. Saya tahu kamu orang yang sangat penasaran sama sesuatu tapi saya tidak bercanda dengan ini." kata Mia yang membuat Saga bingung.
"Ada seseorang yang tengah melakukan ritual?" tanya Saga
"Saya tidak tahu." jawab Mia yang membuat Saga berdecak kesal.
Keesokan harinya Saga sudah siap dengan tas ransel besar berisi peralatan kemah. Ia berangkat dengan seragam Pramuka lengkap dan tak lupa Mia yang selalu duduk di belakang.
Di sekolah juga sudah terlihat begitu ramai. Semuanya nampak sangat bersemangat untuk mengikuti persami. Mereka melakukan upacara pembukaan sebelum akhirnya memulai kegiatan mencari jejak.
mereka melalui jalan dimana kanan dan kirinya hanyalah kebun kopi dan beberapa semak belukar. jalan pertama yang mereka lalui yaitu belakang sekolah.
Mata Saga pun langsung mencari sesuatu di beberapa tempat. Ia ingin memastikan apa yang dia cium kemarin malam saat pulang dari rumah pak San.
"Ayo cepat." kata Raja ketika melihat Saga yang tidak fokus .
Karena mendapat teguran dari ketua kelompok Saga pun hanya bisa menurut saja. Ya raja menjadi ketua kelompok di regunya dan ia ingin membalas dendam kepada Saga karena sering memerintahnya saat ada kegiatan OSIS.
Mereka sampai di pos ke 4 dan akan menuju ke pos ke 5 dimana itu adalah pos terakhir setelah itu mereka bisa istirahat dan melaksanakan solat dhuhur berjamaah.
Mereka sampai di sebuah sungai dan di sana sudah banyak regu lain yang juga sudah sampai lebih dulu. mereka di haruskan untuk menyebrangi sungai dengan sebuah bambu yang di bentangkan di sunga tersebut.
Ya pastinya mereka akan basah kuyup mengingat ada kakak kakak pembina yang sudah bersiap untuk menyirami di sepanjang bambu itu.
"Ayo Saga semangat kamu pasti bisa hahaha." teriak Mia dengan girangnya ketika regu Saga yang mendapatkan giliran untuk menyebrangi.
"Untung aja tidak ada pisang goreng." timpal Aldi yang membuat semuanya temannya bingung.
"Mana ada pisang goreng disini yang ada tai tuh banyak." celetuk Rehan .
"Ya itu yang aku maksud hahaha." ujar Aldi.
"Tidak ada tai disini wee ngaco aja kalian. Sungai kita ini bersih. lihat tuh." kata Raja dengan menimpali.
Setelah semua kegiatan selesai mereka pun beristirahat. Saat semuanya sedang sibuk dengan semua urusannya, Saga diam-diam menuju ke belakang sekolah untuk memastikan rasa penasarannya dengan di temani oleh Mia.
Ia benar-benar menelusuri seluruh kebun di belakang sekolahnya dan mencari sesuatu yang membuatnya penasaran. Beberapa saat setelah dia mencari ke seluruh tempat akhirnya dia menemukan sesuatu yang sedang dia cari.
Seperti sebuah tempat yang memang sudah di siapkan untuk ritual dan tempat itu terletak di paling ujung tepatnya di belakang sekolah persis di belakang toilet terbengkalai yg sudah bertahun-tahun tidak terpakai dan tidak ada orang yang menjamah tempat tersebut.
"Kenapa kamu nekat sih." kata Mia dengan kesalnya.
"Sebentar aku penasaran ada apa lagi di dalam tempat ini." kata Saga namun Mia buru-buru mencegahnya jika tidak sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Jangan, jangan mencari tahu tempat ini lagi Saga. Kamu jangan terlibat lebih jauh karena ini tidak baik. sudah ayo kembali saja." kata Mia dengan menyeret baju Saga.
Karena ia juga masih ada kegiatan ia pun akhirnya menurut saja. entahlah kenapa semakin lama, ia seperti sudah membuka diri ada Mia.
Malam itu cuacanya benar-benar sangat mendukung sekali untuk melakukan jerit malam sebagai kegiatan terakhir Persami yang merelakan. Hawa dingin dan kabut yang lumayan banyak membuat suasana benar-benar mistis sekali.
Berbeda dengan Mia yang sedari tadi terlihat cukup gelisah dengan terus memandang kesana kemari membuat Saga terheran-heran. ia pun mendekati Mia dan menyenggolnya membuat Mia terkejut.
"Apa sih kamu." seru Mia dengan kesalnya.
"Baiklah semuanya berkumpul bersama regu masing-masing dan kita akan memulai kegiatan malam hari ini. gunakan yang sudah saya berikan tadi dan ikuti arahan kakak pembina kalian, jika tidak kalian bisa saja tersesat." kata Azril dengan memberikan arahan pada semua regu.
Satu persatu regu berjalan dengan selisih waktu untuk regu selanjutnya sekitar 10 menit. Malam itu suasana benar-benar dingin dan terasa mencekam apalagi ketika melewati jembatan yang ada di belakang sekolah.
Regu Saga mendapatkan giliran ke 3, dengan Raja sebagai pemimpin mereka berjalan dengan teratur dan selalu memastikan jika semua anggota tidak ada yang tertinggal.
Mereka melewati kebun yang sudah tidak terurus, dari kejauhan terlihat cahaya lampu yang sangat mencolok karena itu hanya satu-satunya lampu yang menyala dan itu adalah lampu dari rumah pak San.
"Kenapa malam ini terasa sangat berbeda yaa..." ucap Reza dengan bergidik.
"Semoga saja tidak terjadi apapun." timpal Haris.
"Sudah jangan berfikir yang tidak tidak, kita harus sampai di pos 1 secepatnya." kata Ilzam