
"Bukankah kau bilang jika ibumu sudah meninggal satu tahun setelah kepergian mu?" kata Saga.
"Ya benar. Kematian ibu saya di rahasiakan bahkan sampai sekarang tidak ada yang tahu jika ibu saya masih hidup." kata Mia yang membuat Saga bingung.
"Apa maksudmu?" tanya Saga yang merasa jawaban Mia tidak masuk akal
"Halahh kenapa kamu sekarang jadi seperti si tengil itu. bodoh sekali." kata Mia yang membuat Saga mengangkat alisnya.
"Jika ibu saya sudah mati kenapa saya merasakan jika dia masih hidup. Kamu tidak tahu bagaimana ruh yang sudah mati bisa bertemu dengan ruh yang sudah mati juga ya. Saya merasakan jika ibu saya masih hidup dan ada di suatu tempat. Rencana Kematiannya memang di buat sangat jernih seperti kematian pada umumnya hanya saja itu di rahasiakan." kata Mia.
"Lalu apa kau tahu dimana ibumu sekarang?" tanya Saga.
"Saya tidak tahu dimana dia sekarang." jawab Mia.
"Dari yang aku baca, ibumu dulu adalah kepala sekolah SMA Adiwangsa." kata Saga yang di benarkan oleh Mia.
"Memang benar ibu saya dulunya adalah kepala sekolah." jawab Mia
"Sampai sekarang pun yang aku tahu kepala sekolah masih seorang wanita, apakah itu bisa di curigai jika wanita itu adalah ibumu?" Kata Saga.
"Jangan langsung menyimpulkan sesuatu terlebih dahulu. Kamu harus mencari tahu agar bisa mencurigai seseorang." ujar Mia.
Apa yang di katakan Mia memang benar, ia harus mencari tahu lagi agar bisa memasukkan siapa saja yang pantas ia curigai walaupun sebenarnya dia sudah mendapatkan dua orang yang ia curigai sebagai dalang kejadian 2005 itu.
"Ga sebentar nak!" teriak Sari memanggil Saga .
"Iya bund kenapa?" tanya Saga yang nampak heran melihat dua tas besar yang terletak di lantai.
"Loh bund, bunda mau kemana?" tanya Saga.
"Bunda sama ayah mau jenguk nenek kamu katanya sakit. ayah hanya dua hari saja kok kalau bunda mungkin nunggu nenek baikan dulu." kata Sari yang membuat Saga mengangguk.
Sebenarnya Saga juga sudah merindukan nenek dan kakeknya hanya saja karena masih sibuk dengan urusan sekolah jadi hanya menunggu libur panjang saja. Rencananya saat libur panjang Saga akan berkunjung ke rumah neneknya walaupun sendirian.
"Ya bund. Saat libur panjang Saga akan ke rumah nenek. Bunda berangkat jam berapa?" tanya Saga.
"Nunggu ayahmu lama sekali." kata dengan menghembuskan nafasnya.
"Ayo bund...ga kamu jaga rumah ya papa cuma dua hari saja." kata Ilsan dengan memakai sepatunya.
"Iya yah. hati-hati di jalan dan katakan pada nenek aga sangat merindukannya." ujar Saga dengan ikut keluar.
"Jangan lupa pintunya di kunci kalau ingin pergi." kata Sari .
"Iya bund, tenang saja." jawab Saga dengan mengacungkan jari jempolnya.
Setelah mobil ayahnya pergi ia melihat sesuatu yang tak asing di matanya ketika mobil sudah menjauh. Mia tertawa dengan melambaikan tangannya ke Saga. ia duduk di atas mobil yang membuat Saga hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Memang agak lain makhluk satu itu." kata Saga yang kemudian mengendarai motornya.
Sesampainya di sekolah, semenjak Saga dan Raja menjadi partner mereka sering berbicara berdua di kelas, kantin bahkan perpustakaan. Seperti sekarang ini, rupanya kedatangan Saga sudah di tunggu oleh Raja.
"Ga cepetan kesini." kata Raja dengan tidak sabaran.
"Buka hp mu." kata Raja yang terlihat kesal.
"Kau bodoh atau bagaimana hah!!!" seru Raja dengan kesal.
Saga yang langsung paham pun langsung mengecek ulang dan memperhatikan dengan seksama wajah-wajah tersebut. ada satu wajah yang sangat familiar sekali namun ia tidak bisa mengingat dimana dia pernah melihatnya. Ternyata Raja sangat ahli dalam bidang seperti itu, ia juga sangat cekatan.
"Kau tahu alamatnya?" tanya Saga
"Tentu saja. apa pulang sekolah langsung kesana?" tanya Raja
"Ya itu lebih baik." jawab Saga
"Aku ikut." celetuk Alin membuat keduanya Menoleh.
"Ikut apa Lin?" tanya Dini penasaran.
Raja menatap Saga dengan bingung dan meminta penjelasan darinya. memang Saga belum menceritakannya pada Raja jika alin sudah tahu karena dia lupa.
"Oh ayolah...apa yang ingin kalian lakukan?" tanya Alin.
Merekapun akhirnya duduk dan berbicara bersama. Dini yang mendengar cerita alin pun cukup terkejut namun tidak di pungkiri dia juga merasa janggal dengan semua yang terjadi tapi karena tidak tahu harus mulai dari mana jadi dia hanya sekedar penasaran saja.
"Bukankah aku sudah bilang jika aku siap membantumu. Aku sudah memikirkan konsekuensinya." kata Alin dengan penuh keyakinan.
sepulang sekolah merekapun berangkat bersama menggunakan mobil Raja. Cukup membuat ketiganya terkejut jika raja bisa menyetir mobil dan sudah mendapatkan SIM. Dengar berbekal alamat yang entah benar atau tidak, mereka dengan penuh keyakinan berangkat. Mereka melewati kebun teh dan perkopian, dan alamat yang tengah mereka tuju cukup jauh.
"Kau yakin dengan alamat ini ja?" tanya Saga .
"Sudahlah diam saja, mana mungkin aku salah." kata Raja.
"Saga, kamu beneran ingin ke sana? Seharusnya kamu bicara dulu sama saya tahu!!" kata Mia yang membuat Saga mengangguk.
"Jangan hari ini, cuaca sedang tidak bagus, lebih baik suruh si tengil itu pulang." kata Mia
"Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi di sana bukan. Lihatlah cuaca saja seperti tidak mendukung kamu untuk kesana." lanjutnya yang membuat Saga bingung.
"Raja kau tidak salah jalan bukan?" tanya Alin dengan khawatirnya.
"Tidak.lihatlah aku di pandu maps." jawab Raja.
"Kenapa harus percaya Maps, kau tidak takut jika maps menyesatkan. Sudah banyak yang seperti itu loh." timpal Alin.
"Lalu aku harus percaya pada siapa? kalian? Kalian tahu pasti di mana rumahnya? Atau kau saja yang menyetir aku duduk di belakang." kata Raja yang terdengar kesal.
"Sudah-sudah kenapa jadi ribut. Kau juga fokus saja menyetir aku percaya padamu." ujar Saga menengahi keduanya.
Gerimis mulai turun dan perjalanan mereka pun masih 45 menit lagi. Mereka terus bertemu dengan perkebunan dimana jarak antara desa satu dengan desa lainnya lumayan jauh dan yang membuat bingung raja adalah sepanjang perjalanan mereka tidak menemukan adanya pom bensin karena Raja lupa mengisi dan sekarang tinggal sedikit entah mereka akan menemukan atau tidak.
"Aku lupa mengisi bensin." kata raja yang membuat semuanya terkejut.
"Lalu bagaimana!! Apakah masih cukup? Ku lihat dari tadi tidak ada yang jualan bensin sama sekali." kata Saga.
"Bagaimana ini..." ucap Dini dengan paniknya.