Melodies Of Rain

Melodies Of Rain
#TUJUH



Hari sudah memasuki petang, suasana sedikit lebih ramai daripada tadi. Hyun Su dan Yun-bi juga sepertinya belum puas berkeliling. Ya, namanya juga kencan pertama. Hyun Su merangkul Yun-bi dengan erat. Nampak senyum terukir di wajah keduanya. Di tengah keramaian tak menyangka akan bertemu Min Jun dan Siwon.


"Hyun Su! Yun-bi! Kalian juga di sini?! Jahat sekali tidak mengajakku, ya!" protes Min Jun.


"Kalau aku mengajakmu, bukankah kau hanya akan mengganggu saja?" desis Hyun Su.


"Bilang saja kau mau kencan dengan Yun-bi," balas Min Jun.


Yun-bi tersenyum. "Apa kalian juga sedang berkencan?" gurau Yun-bi. Melihat Siwon membawa boneka Dolphin kecil.


"Tadinya hanya ingin jalan-jalan sebentar. Iseng coba bermain dan dapat ini. Untukmu saja!" kata Siwon sambil memberikan boneka Dolphin pada Yun-bi.


"Wah, terima kasih! Benar untukku?" tanya Yun-bi sekali lagi.


"Ya, jika Hyun Su tidak keberatan," jawab Siwon.


"Aku tidak pernah merasa keberatan. Itu hak Yun-bi mau menerima atau tidak," ujar Hyun Su yang nampak biasa saja.


"Sudahlah jangan berdebat. Yun-bi, ambil saja bonekanya. Rejeki loh jangan ditolak!" timpal Min Jun.


Yun-bi pun mengambil boneka itu sambil mengatakan terima kasih pada Siwon.


Siwon membalasnya dengan senyum.


"Baiklah, kami pergi dulu, ya. Kami tak ingin mengganggu kalian. Selamat bersenang-senang!" pamit Min Jun sambil menarik Siwon. Yun-bi balas dengan melambaikan tangannya.


"Sudah mulai gelap, ya!" ujar Yun-bi.


"Apa kau sudah lelah?" tanya Hyun Su.


"Belum," jawab Yun-bi.


"Baguslah. Aku masih ingin mengajakmu ke satu tempat lagi!" kata Hyun Su.


Yun-bi nampak penasaran. "Ke mana?"


"Ayo!" Hyun Su meraih tangan Yun-bi.


Dari Jinhae, mereka pergi ke Cheonggyecheon Stream. Hyun Su memegang tangan Yun-bi sambil berjalan menyusuri sisi sungai Cheonggyecheon. Keduanya berhenti dan duduk di tepian sungai sambil menikmati pemandangan malam pusat kota Seoul.


"Aku baru tahu ada sungai seperti ini di pusat kota Seoul," kata Yun-bi.


"Kau harus lebih sering berkeliling di kota Seoul," ujar Hyun Su.


"Aku belum punya waktu menjelajahi kota Seoul. Aku bahkan belum sempat pergi ke manapun," timpal Yun-bi.


"Sekarang aku bisa membawamu pergi ke manapun. Selama kau punya waktu," kata Hyun Su.


"Ah, itulah masalahnya. Waktu!" ujar Yun-bi.


Hyun Su tertawa. "Aku paham."


Yun-bi ikut tersenyum. Ia menatap wajah Hyun Su. "Hyun Su!"


"Eng?" Hyun Su menoleh.


"Terima kasih untuk hari ini!" ucap Yun-bi sambil tersenyum.


Hyun Su mengusap kepala Yun-bi. "Kau ini bicara apa?"


Yun-bi hanya tersenyum malu-malu. Hyun Su merogoh sesuatu dari sakunya.


"Berikan tanganmu!" suruhnya.


Yun-bi mengulurkan tangannya lalu Hyun Su mengaitkan sebuah gelang silver dengan hiasan payung di tengah rantai. Yun-bi memperhatikan gelang unik itu.


"Untukku?" tanyanya.


"Ya. Apa kau suka?" jawab Hyun Su.


"Iya, aku suka. Terima kasih!" ucap Yun-bi sambil mengagumi gelang di tangannya itu. "Tapi, kenapa hiasannya payung?" tanyanya.


"Karena kita bertemu ketika hujan," jawab Hyun Su.


Yun-bi kembali tersenyum. Ia sangat senang. Ia terus memperhatikan gelang yang melingkar di tangannya.


...☂️☂️☂️...


Hyun Su sedang memeriksa kondisi motornya. Saat seorang wanita yang tiba-tiba datang entah dari mana memeluknya dari belakang. Hyun Su yang kaget sontak menoleh. Wanita yang memeluknya itu tersenyum.


Hyun Su langsung terbangun dari tidurnya. Sinar matahari pagi sudah menerobos masuk melalui sela kaca jendela. Ia mengusap wajahnya.


"Mimpi apa itu barusan?!" tanyanya pada dirinya.


...☂️☂️☂️...


Seorang wanita cantik berkulit putih mulus dengan rambut pink ombre panjang berjalan keluar dari bandara Incheon. Sambil menyeret koper besarnya, bibir merah mungilnya terus berceloteh dengan seseorang melalui panggilan ponsel. Beberapa saat ia menunggu, terlihat Min Jun datang dengan tergesa-gesa menghampirinya.


"Kenapa lama sekali? Kenapa kau yang datang? Di mana Siwon?" cecar wanita cantik yang biasa dipanggil Cassandra itu.


"Siwon sedang sibuk, jadi ia menyuruhku untuk datang menjemputmu!" jawab Min Jun dengan terengah-engah. Kemudian ia menatap Cassandra dari atas kepala sampai ujung kaki. Terkesima dengan penampilannya.



"Kau lihat apa?" tanya Cassandra dengan ketus.


"Hei, lama tidak bertemu kau jadi semakin galak saja! Bagaimana kalau kita berpelukan sebentar untuk melepas rindu!" Min Jun merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Cassandra. Namun langsung ditepis oleh wanita itu.


"Jangan bercanda! Cepat antar aku pulang! Aku sangat lelah!" perintahnya. Ia lantas berbalik berjalan mendahului Min Jun.


"Cassandra, tunggu! Kau benar-benar cantik sampai-sampai membuatku terkesima. Aku tidak bercanda!" seru Min Jun yang lantas mengejarnya.


Mobil yang dikemudikan Min Jun meninggalkan halaman parkir bandara. Cassandra duduk dengan cuek di sebelahnya sambil memencet ponsel.


"Cassandra, kau mau menemui paman Kim dulu?" tanya Min Jun.


"Tidak. Antar aku ke rumah!" jawab Cassandra.


Min Jun pun mengambil arah jalan menuju rumah Cassandra.


"Oh ya, Min Jun bagaimana kabar Hyun Su? Sejak aku di HK dia tidak pernah menghubungiku! Apa dia pernah bertanya sesuatu tentangku?" tanya Cassandra. Nada bicaranya lebih rendah dari pada sebelumnya.


"Dia baik-baik saja. Kau masih berharap dia akan menghubungimu setelah kau meninggalkannya begitu saja?!" singgung Min Jun.


"Aku tidak meninggalkannya. Dia juga tidak mencegahku pergi," balas Cassandra membela diri.


"Ya, itu kan menurutmu. Lagipula dia sudah punya pacar baru sekarang, jadi kau tidak perlu lagi mencemaskan nya!" tambah Min Jun.


"Seriously?" Cassandra tersentak.


"Tentu saja!" jawab Min Jun.


Cassandra hanya diam dan kembali menatap layar ponselnya. Di mana foto dirinya dengan Hyun Su tiga tahun yang lalu masih menjadi wallpaper di layar ponselnya. Di dalam foto itu Hyun Su menatap Cassandra dengan senyum di wajahnya.


Min Jun menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah. Rumah Cassandra hanya beberapa nomor dari rumah Min Jun. Ia tersenyum melihat kondisi halaman rumahnya yang sangat rapi.


"Siwon baru merapikan halamannya kemarin," jelas Min Jun.


"Oh ...," gumam Cassandra.


Namun begitu ia membuka kunci pintu rumahnya. Ia pun mundur beberapa langkah. Bau apek dan debu yang menumpuk langsung terasa menusuk indera penciumannya. Bahkan lantainya pun kotor. Ditambah suasana dalam rumah yang minim cahaya membuat rumah itu nampak horor. Cassandra menoleh pada Min Jun yang nampak santai saja.


"Kenapa? Mau ku bawakan kopernya ke dalam?" tanya Min Jun pura-pura bodoh.


"Kau gila! Apa kau menyuruhku tinggal di rumah yang kotor begini?" umpat Cassandra.


Min Jun melongok ke dalam rumah melihat kondisinya. Lalu berkata pada Cassandra. "Sorry. Kami tidak punya kunci dan tidak memiliki ijin masuk ke dalam rumah."


"Argh ...." Cassandra geram. Ia menarik kopernya dan berkata, "Aku tidak akan tinggal di sini sampai semuanya bersih! Jadi untuk sementara ini aku akan tinggal di rumahmu!"


"Aigo!" seru Min Jun. "Kenapa di rumahku? Seharusnya kau pulang ke rumah paman Kim!" protes Min Jun yang keberatan.


"Bukankah rumahmu dekat dari sini? Kalau aku tinggal di rumahmu aku bisa lebih mudah mengawasi orang yang keluar masuk di rumahku. Lagi pula kau pasti tidak mau kan kalau ku suruh membersihkan rumahku dengan sukarela?" cetus Cassandra dan Min Jun menggelengkan kepala.


"Jadi sebaiknya kita kembali ke rumahmu agar kau bisa secepatnya siapkan kamar untukku!" lanjut Cassandra dengan penuh kemenangan. Min Jun cuma bisa mengangguk pasrah.


Cassandra dan Min Jun sudah berteman lama. Min Jun sangat tahu sifat jelek Cassandra yang keras kepala, suka seenaknya dan bossy. Kalau Min Jun menolak pun Cassandra akan tetap melakukannya.


Setelah beres-beres sedikit, Min Jun kembali menemui wanita itu yang sedang menunggu di ruang tamu.


"Kau bisa pakai kamar Sunny. Kebetulan dia sedang pergi berlibur. Minggu depan dia baru kembali," jelas Min Jun.


"Oke," kata Cassandra. Ia langsung menarik kopernya menuju kamar yang dimaksud. Sementara Min Jun hanya bisa geleng-geleng kepala.


bersambung.....