
Mumpung sedang sepi Tuan Chan mengumpulkan semua pegawainya.
"Aku mengumpulkan kalian karena ada hal yang ingin aku sampaikan pada kalian." Tuan Chan memulai kalimatnya.
"Mulai besok, cafe kita ini akan beroperasi dari pukul tujuh pagi sampai pukul delapan malam. Dan untuk sistem shift-nya akan diberhentikan. Jadi, kalian semua akan bekerja di satu waktu yang sama," kata Tuan Chan.
Aira mengangkat tangan. "Maaf, Tuan. Tidakkah itu berarti cafe akan kelebihan pegawai? Apabila semua pegawai masuk di waktu bersamaan?" tanya Aira.
"Sebelum aku memutuskan hal ini, sudah ada beberapa pegawai yang mengundurkan diri. Aku berpikir daripada mencari pengganti mereka mungkin lebih baik memangkas waktu operasional saja. Lagipula melihat pantauan ku beberapa waktu ini pengunjung sangat sepi di atas pukul sembilan malam. Menutup cafe lebih awal tidak akan membuat rugi," jelas Tuan Chan.
"Maaf, Tuan, bagaimana dengan gaji?" giliran Dae Ho bertanya. Semua pegawai ikut menimpali dengan menganggukkan kepala.
Tuan Chan tertawa. "Gaji akan disesuaikan dengan jam kerja yang bertambah. Kalian juga akan mendapatkan hari libur dua kali setiap bulan," jawabnya.
Para pegawai nampak bergumam senang mendengarnya. Setelah pemberitahuan selesai, semuanya kembali bekerja dengan semangat.
Cafe sedang ramai sore ini. Semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Yun-bi membawa pesanan ke meja pengunjung. Kemudian beralih ke meja lain yang baru ditinggalkan untuk dibersihkan. Selesai dengan satu meja dia beralih ke meja berikutnya. Hyun Su yang selesai dengan tugasnya segera menghampiri.
"Biar aku yang bersihkan. Kau antar pesanan pengunjung saja," kata Hyun Su.
Yun-bi tak menanggapi. Dia langsung berjalan pergi. Yun-bi sampai di meja Noel untuk mengambil minuman yang sudah jadi.
"Sungguh tidak menyangka akan menjadi teman satu kerja ya, Yun-bi?!" ucap Noel sambil meletakkan cangkir ke nampan.
"Oppa, jangan mengejekku!" kata Yun-bi.
"Aku tidak mengejekmu. Siapa sangka akhirnya akan menjadi seperti ini?" ucap Noel.
"Tidak ada." Yun-bi mengangkat nampan yang sudah berisi cangkir minuman untuk dibawa kepada pengunjung.
Jam kerja selesai. Yun-bi dan Aira berjalan keluar dari cafe bersama. Sampai di luar keduanya berpisah karena jalan pulang mereka berlawanan arah. Hyun Su mengejar Yun-bi.
"Yun-bi!" panggilnya.
Yun-bi menoleh. "Mau apa?" tanyanya judes.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Hyun Su pelan.
"Tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi," jawab Yun-bi. Kemudian dia berjalan pergi.
Hyun Su tak bisa menghentikannya. Dia hanya diam saja melihat Yun-bi berjalan menjauh. Namun pelan-pelan dia berjalan di belakang wanita itu. Menyadari Hyun Su masih mengikutinya, Yun-bi pun berhenti dan menoleh.
"Kau mau apa lagi? Kenapa masih terus mengikuti ku?" tanya Yun-bi sebal.
"Aku tidak mengikuti mu. Jalan pulang menuju rumah kita memang searah, kan?" jawab Hyun Su seadanya.
'Benar juga. Aduh, apa ini berarti setiap hari aku harus dibuntuti olehnya?' batin Yun-bi.
Yun-bi tak ingin menanggapi. Dia langsung membuang muka dan kembali melanjutkan langkah. Hyun Su masih tetap berjalan di belakangnya. Sampai di persimpangan jalan barulah keduanya berpisah.
'Ah, akhirnya lepas juga dari orang itu,' batin Yun-bi.
Dia berjalan lebih semangat. Tiba-tiba ponsel di dalam tasnya berbunyi. Yun-bi mengeluarkan ponselnya. Belum sempat dia menerima panggilan dari nomor tak dikenal itu, panggilan langsung terputus. Saat Yun-bi fokus mengecek nomor panggilan tadi, tiba-tiba seorang remaja laki-laki yang datang terburu-buru dari arah depan menabraknya dengan kuat. Yun-bi dan remaja laki-laki itu seketika terjatuh bersamaan. Ponsel di tangan Yun-bi ikut terpental ke atas jalanan aspal. Begitu pula ponsel remaja yang menabraknya.
"Aduh ...." Yun-bi memegang pantatnya yang sakit akibat menubruk aspal.
"Maaf! Maaf! Noona, tidak apa-apa?" tanya remaja yang berusia sekitar tujuh belasan tahun itu.
Dia segera berdiri menghampiri Yun-bi dan membantu Yun-bi untuk berdiri.
"Kau ini, ya ... Kalau jalan lihat ke depan!" omel Yun-bi pada remaja yang masih mengenakan seragam sekolah itu.
"Maaf. Aku sangat terburu-buru sampai tidak memperhatikan jalan," ucap remaja itu dengan penuh sesal.
"Ya sudah, lain kali harus lebih hati-hati, ya!" pesan Yun-bi.
"Iya. Sekali lagi, maaf!" ucap remaja itu.
Yun-bi berjalan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas jalan. Kemudian melanjutkan perjalanannya sambil membolak-balikkan dan memperhatikan ponselnya untuk memastikan tidak ada yang lecet.
Remaja tadi juga memungut ponselnya yang jatuh dan memasukkannya ke dalam saku. Dia berjalan dengan cepat untuk segera sampai di rumah.
...☂️☂️☂️...
Yun-bi baru selesai mandi. Dia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Teringat dengan panggilan dari nomor tak dikenal tadi, lantas dia pun meraih ponselnya. Namun saat hendak menyalakan layar, dia tersentak.
"Eh, ini ...."
Wallpaper pada layar ponsel itu merupakan salah satu karakter anime. Di tambah lagi layar ponsel terkunci dengan kata sandi.
"Aku tidak pernah menggunakan karakter anime sebagai wallpaper ponsel. Aku juga tidak pernah mengunci ponsel dengan kata sandi. Ah, apa jangan-jangan ...."
Yun-bi teringat ponsel remaja yang menabraknya tadi juga ikut terjatuh. Namun dia tidak perhatikan ponselnya jatuh ke arah mana. Yun-bi menepuk keningnya.
"Aduh, bagaimana sekarang?"
Yun-bi mencoba mengutak-atik ponsel itu untuk membuka kunci sandinya. Tapi tentu saja itu tidak berhasil. Akhirnya sebuah panggilan telepon datang. Yun-bi memperhatikan nomor pemanggil yang sangat dihafalnya. Nomornya sendiri.
"Annyeong haseo!" Yun-bi mengangkat panggilan dengan segera.
"Annyeong haseo, noona! Ini aku yang menabrak mu tadi. Maafkan aku, sepertinya ponsel kita tertukar," kata remaja diseberang telepon.
"Bukan lagi sepertinya. Itu memang tertukar. Aduh ...," keluh Yun-bi sebal.
"Begini saja, besok setelah aku pulang sekolah kita bertemu di suatu tempat," usul remaja itu.
"Kau pulang jam berapa?" tanya Yun-bi.
"Jam 2 sore. Noona, punya waktu?"
"Aku masih bekerja. Kau datang saja ke cafe K&Q. Aku bekerja di sana. Kita bertemu di sana saja," kata Yun-bi.
"Oh, baiklah. Besok aku akan ke sana! Sungguh disesalkan ponsel kita malah tertukar begini," jawab si remaja laki-laki.
"Ha ... mau bagaimana lagi! Hei, kau jangan sembarangan membuka isi ponselku, ya!" Yun-bi menegaskan.
"Tidak. Noona, tidak perlu khawatir. Aku bukan orang yang suka mengutak-atik barang milik orang lain. Kalau noona mau, noona boleh membuka ponselku. Kata sandinya 123456," kata remaja itu.
"Aku tidak mau!" tolak Yun-bi.
"Hanya berjaga-jaga mungkin noona ingin menghubungi seseorang. Baiklah kalau begitu sampai di sini saja. Besok baru kita bertemu," pamit si remaja.
"Ya, baik," jawab Yun-bi. Panggilan pun terputus.
"Untunglah dia mau mengembalikan ponselku. Meski tidak dikembalikan juga tidak apa, karena ponselnya ada bersamaku. Tapi tetap saja aku lebih suka barang milikku," gumam Yun-bi sambil menatap ponsel yang ada di tangannya itu.
bersambung......
.......
.......
.......
.......
Hai dear friend, aku promosi sebentar. Kalian yang suka novel fantasi romance please mampir ke karya ku yang satu ini,
Ada 1-59 eps end. Yang pasti ga kalah seru.
Kalian yang sudah mendukung karya ini dari awal sampai sekarang, aku ucapkan banyak terima kasih ya! Kamsha hamnida!
Mohon dukungannya terus dengan Like, Favorit, Vote, Gift, Rate, Comment!
Satu dukungan dari kalian sangat bernilai bagi Author ☺️🙏 Sekali lagi terima kasih...