Melodies Of Rain

Melodies Of Rain
#EMPAT PULUH ENAM



Saat sedang berjalan pulang menuju apartemen, Yun-bi dan Seo-jin tak sengaja kembali bertemu. Seo-jin masih mengenakan seragam sekolahnya.


"Noona, kita bertemu lagi," sapa Seo-jin.


"Seo-jin. Kau darimana? Sudah malam begini masih belum pulang ke rumah juga?" tanya Yun-bi. Keduanya berhenti untuk mengobrol sebentar.


"Biasanya aku memang pulang malam begini. Banyak kelas bimbel yang menghabiskan waktu," jawab Seo-jin.


"Kau belajar dengan keras, ya! Pasti sangat melelahkan harus mengikuti banyak kelas mapel di waktu bersamaan," ujar Yun-bi.


"Itu sudah biasa," jawab Seo-jin. "Noona, baru pulang bekerja?"


"Iya. Kau tinggal di mana?"


"Di jalan Y," jawab Seo-jin.


"Kita tidak searah. Kalau begitu kau cepatlah pulang. Jangan buat ibumu khawatir!" suruh Yun-bi.


"Iya, Noona. Aku duluan. Selamat malam!" pamit Seo-jin.


"Selamat malam. Hati-hati di jalan!"


"Em," Seo-jin mengangguk dan berjalan berlawanan arah. Yun-bi juga meneruskan perjalanannya kembali.


...☂️☂️☂️...


Seo-jin tiba di rumah. Saat dia melangkah masuk, ibunya sudah menunggu di ruang tamu.


"Eomma?" Seo-jin merasa gugup.


"Seo-jin, kau pergi ke mana? Kau tahu ini sudah jam berapa?" tanya Su-yeon, ibu Seo-jin.


"A, Aku baru pulang dari bimbel," jawab Seo-jin gugup.


Su-yeon melipat kedua tangannya ke dada. Kemudian berjalan mendekati putranya.


"Sejak kapan kau belajar berbohong? Apa kau pikir Eomma tidak tahu? Guru di kelas bimbel mu menelepon Eomma. Katanya sudah beberapa hari ini kau tidak mengikuti kelas," tanya Su-yeon yang nampak marah.


Seo-jin tidak berani menjawab. Ia diam menundukkan kepalanya karena menyadari dirinya telah berbuat salah.


"Jawab, Seo-jin! Apa yang kau lakukan sehingga bolos dari kelas bimbel? Kau kira masuk ke sana itu tidak perlu bayar? Eomma susah payah bekerja untuk menyekolahkan mu, apakah begini balasannya?" tanya Su-yeon.


"Eomma, sejak awal aku tidak ingin masuk ke kelas bimbel. Eomma yang memaksa ku untuk pergi ke sana. Aku lelah harus terus belajar dan belajar. Sampai-sampai tidak ada waktu untuk beristirahat atau bermain," jawab Seo-jin.


"Seo-jin, aku melakukan semua ini juga untuk kebaikanmu di masa depan. Kita tinggal di kota besar dengan biaya hidup yang tinggi. Jika tidak memiliki pendidikan tinggi, siapa yang mau memperkerjakan kita? Kau akan punya banyak waktu untuk bermain setelah ini. Namun waktu untuk belajar dan sekolah itu sangat singkat. Eomma ingin kau menjadi dokter. Jika kelak kau menjadi dokter, hidupmu juga akan terjamin," jelas Su-yeon.


"Sudah kubilang aku tidak ingin menjadi dokter! Akh ...." balas Seo-jin. Dia langsung pergi meninggalkan ibunya dengan perasaan kecewa.


"Seo-jin!" Su-yeon memanggil putranya namun tidak didengarkan.


Memang Su-yeon sangat berharap putranya dapat menjadi seorang dokter kelak. Oleh sebab itu dia bersusah payah bekerja keras seorang diri demi menyekolahkan Seo-jin ke sekolah terbaik. Apalagi Seo-jin akan lulus dari sekolah menengah. Su-yeon bekerja lebih ekstra agar dapat mendaftarkan Seo-jin ke universitas kedokteran.


Su-yeon sudah berpisah dengan suaminya beberapa tahun silam. Dari pernikahannya hanya dikaruniai seorang putra yaitu Seo-jin. Su-yeon berhasil membawa Seo-jin bersamanya. Ayah Seo-jin masih tinggal di Seoul. Kadang-kadang tanpa sepengetahuan Su-yeon, Seo-jin masih sering diam-diam mengunjungi ayahnya. Su-yeon tidak suka Seo-jin menemui ayahnya karena takut sifat buruk ayahnya akan mempengaruhi putranya. Pasalnya, sejak diberhentikan dari perusahaan tempatnya bekerja, ayah Seo-jin menjadi seorang alkoholik dan pengangguran. Itu juga menjadi penyebab perceraian kedua orang tuanya.


Seo-jin membanting pintu kamarnya. Ia melemparkan tasnya ke lantai kemudian menjatuhkan diri ke atas tempat tidur. Keinginan Su-yeon terasa berat baginya. Seperti sebuah beban berat yang harus ia pikul. Bagaimana tidak? Sebab menjadi dokter sama sekali bukan keinginannya. Ditambah lagi ia tidak bisa melepaskan diri dari keinginan ibunya yang menurutnya terlalu tinggi tersebut. Seo-jin benar-benar merasa lelah. Oleh karena itu beberapa hari ini ia bolos dari kelas bimbel untuk memberi waktu bagi pikirannya beristirahat sejenak.


...☂️☂️☂️...


Hari ini akhirnya Cassandra bisa meninggalkan rumah sakit. Setelah melakukan pemeriksaan dan memastikan kondisinya baik-baik saja, dokter pun mengijinkan Cassandra pulang.


"Nona Kim, ingat untuk datang kontrol setiap satu bulan sekali! Obatnya juga jangan lupa terus diminum," pesan Dokter.


Setelah dokter pergi, Harlem membantu Cassandra membereskan barang-barangnya. Siwon juga datang untuk menjemput Cassandra pulang ke rumah Harlem. Siwon bahkan menawarkan diri untuk menjadi supir supaya Harlem bisa menemani Cassandra.


Tiba di rumah Harlem. Siwon membawa barang-barang Cassandra dari bagasi mobil masuk ke dalam rumah. Sedangkan Harlem menuntun Cassandra menuju ke kamar untuk beristirahat.


"Semua barang sudah ku masukkan ke dalam," kata Siwon kepada Harlem.


"Terima kasih, Siwon. Maaf, sudah sangat merepotkan mu!" balas Harlem.


"Ah, sama sekali tidak. Mumpung masih ada aku di sini, aku pasti akan datang membantu," jawab Siwon.


"Sora, bagaimana keadaan mu?" tanya Siwon kepada Cassandra yang sudah duduk di atas tempat tidur.


"Aku baik-baik saja, bukan? Seperti yang kau lihat sekarang," jawab Cassandra.


"Ingat untuk minum obatmu dan sering pergi kontrol," pesan Siwon.


"Iya, Cerewet! Kau tidak perlu mengingatkanku untuk itu," kata Cassandra.


"Benar. Kau tenang saja, Siwon. Ada aku yang pasti akan menjaganya dengan baik," timpal Harlem.


"Ya. Aku percaya padamu!" ujar Siwon.


"Jadi, rencananya sudah pasti akan pulang esok hari?" tanya Cassandra.


"Iya. Aku sudah memesan tiket pesawat," jawab Siwon.


"Sudah beli oleh-olehnya? Harlem bisa menemani mu pergi membelinya," tanya Cassandra.


"Tidak perlu. Aku sudah membeli banyak oleh-oleh. Jadwal keberangkatan ku besok pagi jadi aku tidak akan datang ke sini lagi. Aku sekalian berpamitan dengan kalian sekarang," jawab Siwon menjelaskan.


"Besok kau berangkat jam berapa, Siwon? Biar aku mengantar mu ke bandara," Harlem menawari diri.


"Tidak perlu. Aku bisa pergi dengan taksi. Lagipula kau tidak boleh membiarkan Sora sendiri. Kau harus menjaganya," tolak Siwon kepada Harlem.


"Memangnya aku anak kecil yang tidak boleh ditinggal sendiri dan harus dijaga terus?" protes Cassandra.


"Untuk sementara memang harus begitu. Takutnya kau bandel dan melakukan aktifitas berat. Hahaha...," ujar Siwon.


"Enak saja!" balas Cassandra. Harlem ikut tertawa.


"Jadi, bagaimana Siwon? Mau ku antar?" tanya Harlem sekali lagi.


"Tidak perlu. Terima kasih," jawab Siwon.


"Siwon, ingat janjimu! Jangan beritahu siapapun tentang kondisiku, terutama appa," pinta Cassandra.


"Iya. Aku janji! Aku tidak akan memberitahu siapapun. Aku juga telah membawa hasil pemeriksaan medis mu ke sini. Jadi aman, tidak akan ada yang tahu," jelas Siwon.


"Terima kasih. Sampaikan salamku kepada Yun-bi. Katakan padanya aku pasti akan menghubunginya setelah urusanku selesai," pesan Cassandra.


"Urusan?" Siwon mengulang kata itu.


"Aku tidak mungkin bilang tunggu setelah kesehatan ku pulih, bukan?" ujar Cassandra.


"Oh, ya, aku paham," kata Siwon.


Setelah berpamitan dengan Cassandra dan Harlem, Siwon pun pulang kembali ke rumah ayahnya tempat dirinya tinggal selama di HK.