
Operasi masih berlangsung. Harlem masih menunggu di depan ruang operasi.
...☂️☂️☂️...
𝙺𝚎𝚖𝚋𝚊𝚕𝚒 𝚔𝚎 𝚖𝚊𝚜𝚊 𝚊𝚠𝚊𝚕 𝙷𝚊𝚛𝚕𝚎𝚖 𝚍𝚊𝚗 𝙲𝚊𝚜𝚜𝚊𝚗𝚍𝚛𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚎𝚖𝚞.
Suatu hari, Cassandra sedang pergi mengantar barang yang dititipkan bibinya. Di tengah perjalanan tiba-tiba turun hujan. Dia memang sudah menyiapkan payung sebelum berangkat karena mempertimbangkan kondisi cuaca yang nampak kurang bersahabat.
Dalam perjalanan pulang, hujan masih terus turun. Cassandra berjalan menerobos hujan di bawah lindungan payungnya. Ketika melintas di persimpangan jalan, dirinya melihat sosok seorang pria yang sepertinya tidak asing di seberang jalan. Pria itu berdiri diam dengan kepala tertunduk tanpa payung yang melindungi dirinya dari hujan. Pria itu nampak sudah basah kuyup. Karena merasa kasihan Cassandra mencoba mendekat. Setelah berjalan lebih dekat ternyata dugaannya benar. Pria tersebut adalah Harlem. Meskipun sudah basah kuyup, Cassandra tetap mengarahkan payungnya untuk melindungi pria itu dari guyuran air hujan.
"Apa yang kau lakukan di tengah hujan begini?" tanya Cassandra.
Harlem mengangkat kepalanya, menatap Cassandra. Kemudian kembali tertunduk. "Hidupku sudah hancur!" ucapnya lirih.
"Apa kau pikir dengan hujan kecil seperti ini, maka pelangi tidak bisa muncul?" tanya Cassandra.
"Ck, kau seorang pria! Memangnya berapa besar masalah yang bisa menghancurkan hidupmu?! Asal kau tahu saja, hujan seperti ini tidak akan membuat mu mati besok. Paling-paling terserang flu atau demam saja," cibir Cassandra.
Meski terdengar agak kasar, dia hanya berusaha mengingatkan Harlem. Dan itu cukup efektif.
"Benar. Hujan ini tidak akan membunuhku!" ucap Harlem pelan.
"Jadi, kau mau berdiri berapa lama lagi di sini? Aku sedang dalam perjalanan pulang. Bagaimana kalau kau ikut ke tempat ku saja?" Cassandra menawari. Harlem nampak ragu.
"Hei, tidak ada masalah yang tidak bisa di selesaikan!" lanjut Cassandra.
Tanpa banyak berkata, Harlem mengikuti Cassandra. Akhirnya keduanya tiba di toko Bibi Yoon. Bibi Yoon tidak berada di toko, hanya Siwon yang berjaga di sana. Siwon keheranan mendapati Cassandra membawa seorang pria asing ke toko, basah kuyup pula.
"Siapa yang kau bawa itu?" tanya Siwon.
"Nanti saja tanyanya. Sekarang tolong kau pinjamkan pakaianmu untuk dia," suruh Cassandra sambil tersenyum manis untuk membujuk Siwon.
Siwon tak mengatakan apa-apa. Dia masuk ke dalam lalu kembali membawakan beberapa pakaian kering untuk Harlem. Kadang Siwon enggan pulang ke rumah dan memilih tidur di toko, jadi dia meninggalkan beberapa pakaiannya di toko. Ukuran badan kedua pria itu juga terlihat hampir sama. Jadi baju Siwon pasti muat di badan Harlem.
Cassandra langsung memberikan pakaian kering Siwon pada Harlem dan menyuruhnya segera menggantinya. Harlem menurut saja. Sementara itu Cassandra membuat teh hangat.
"Minumlah selagi hangat!" Cassandra menyodorkan segelas teh pada Harlem.
Mereka bertiga sudah duduk bersama. Di luar sedang hujan jadi toko sepi.
"Terima kasih!" ucap Harlem. Dia minum sedikit lalu menempelkan kedua tangannya pada gelas yang hangat itu. Nampak dirinya sedang kedinginan karena kehujanan.
Siwon terus menatap Cassandra, menunggu Cassandra menjelaskan siapa pria yang dibawanya entah darimana itu. Cassandra menyadari tatapan Siwon.
"Oke. Siwon ini adalah Harlem. Kami tak sengaja bertemu di Star Ferry dulu," tutur Cassandra.
Harlem mengulurkan tangannya pada Siwon. "Namaku Harlem Wang."
"Kim Siwon," balas Siwon.
"Maaf, hari ini merepotkan kalian!" kata Harlem tak enakan.
"Aku tak mengira kau segera memiliki teman baru di sini, Sora!" ejek Siwon sambil meminum teh nya.
"Sora?!" Harlem menatap Cassandra dengan bingung.
"Oh. Dan ini ...?" Harlem menatap sekeliling toko butik itu.
"Ini toko milik bibiku! Aku sering membantu bibiku di sini. Kebetulan hari ini dia ke luar. Jika tidak kau juga akan bertemu dengannya," jelas Cassandra.
"Sekali lagi terima kasih untuk kebaikanmu," ucap Harlem.
"Jangan terus berterima kasih. Jadi, sebenarnya apa masalahmu? Mungkin saja aku dan Siwon bisa membantu?" tanya Cassandra.
"Hei, aku tak mau terlibat dengan urusan orang lain. Merepotkan saja!" Siwon bangkit berdiri dan meninggalkan keduanya.
"Jangan pedulikan dia! Dia memang terlihat tidak berperasaan tapi sebenarnya dia baik," kata Cassandra.
Harlem tersenyum. "Aku benar-benar laki-laki yang payah. Masalah pribadi sampai melibatkan orang lain," ucap Harlem.
"Jangan berkata begitu. Sekarang kita kan teman. Bukankah tidak salah sesama teman saling membantu!? Waktu itu kau juga membantu ku. Anggap saja sekarang giliran aku membantumu. Jadi, cerita lah apa masalahmu!" bujuk Cassandra.
"Sebenarnya ini tentang tunangan ku," Harlem berkata pelan.
"Kau sudah punya tunangan?!" seru Cassandra kaget.
"Iya. Aku dan dia sudah bertunangan selama dua tahun. Tahun ini aku berencana menikahinya. Aku sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Bahkan sudah memilih hari baik. Tapi, siapa sangka dia tiba-tiba berubah," cerita Harlem dengan raut sedih.
"Berubah?" tanya Cassandra.
"Tanpa sepengetahuan ku, dia bermain api di belakang ku. Dia menuduhku yang tidak pernah memperhatikan dirinya. Tidak pernah ada waktu untuknya. Padahal tidak sekalipun aku pernah lupa menanyakan kabarnya. Berusaha secepatnya pulang sehabis bekerja untuk menemuinya. Aku selalu berusaha memberikan apapun yang dia mau. Meski kadang yang dia inginkan di luar kemampuan ku. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Agar dia hidup bahagia bersamaku. Tapi apa yang ku berikan selama ini ternyata masih belum cukup. Bahkan keluarganya juga ikut memusuhi ku dan menuduhku macam-macam." Harlem bercerita panjang lebar.
"Aku benar-benar merasa hancur. Semua yang ku lakukan selama ini sama sekali tidak berarti. Apa lagi yang bisa ku lakukan sekarang? Pekerjaan pun sudah tidak ada. Aku benar-benar hancur!" lanjut Harlem dengan putus asa.
"Intinya, kau hanya kehilangan satu orang dan pekerjaan. Apa yang membuatmu hancur?" tanya Cassandra santai saja.
"Dia adalah satu-satunya orang yang paling ku cintai, paling berarti di hidupku! Kehilangan dia sama saja kehilangan dunia," jawab Harlem lesu.
"Kau memiliki dunia yang sangat rapuh," gumam Cassandra.
"Apa?" tanya Harlem tak mendengar jelas.
"Semua orang pernah kehilangan. Semua orang pernah ditinggalkan. Memang tak semua orang bisa melupakan, tapi setidaknya mereka mencoba. Dunia ini masih sangat luas, terlalu luas dan mustahil di jelajahi dalam sehari. Itu juga tidak mungkin melupakan seseorang dalam sehari. Tak peduli seberapa derasnya hujan turun hari ini, pelangi pasti selalu muncul keesokan hari," kata Cassandra.
Harlem diam menatap Cassandra. Mencoba memahami kata-katanya.
'Yang dikatakan Cassandra ada benarnya. Mungkin akulah yang terlalu lemah,' batin Harlem.
"Apa kau juga pernah kehilangan seseorang?" tanya Harlem.
"Kehilangan? Itu bukan kata yang tepat," jawab Cassandra. Dia terdiam sejenak menatap jauh. "Mungkin lebih tepatnya ... melupakan!"
Harlem memperhatikan Cassandra yang sepertinya juga memendam sesuatu. "Cassandra. Kali ini bagaimana kalau kita berdua saling membantu satu sama lain?" tanya Harlem. Pikiran itu muncul begitu saja.
"Maksudmu?"
"Membantu satu sama lain untuk melupakan," jawab Harlem.
Cassandra terdiam menatap Harlem dengan serius.
bersambung.......