
Hyun Su berjalan menuruni anak tangga dengan sempoyongan. Kepalanya terasa berat dan pandangannya kabur. Dia berjalan ke dapur dan langsung membuka kulkas. Dia meraih sebotol Soju, membukanya dan meminumnya hingga setengah.
Sunny baru muncul dari ruang tengah. Gadis itu berjalan ke dapur sambil menatap layar ponselnya sementara tangan satunya memegang gelas kosong. Sesekali dia tersenyum menatap pesan text dari temannya. Hyun Su masih berdiri di depan kulkas. Sunny berjalan melewatinya.
"Sudah bangun, Oppa?" tanyanya sambil lalu.
Hyun Su tak menjawab. Tatapannya hanya mengikuti Sunny yang berjalan ke wastafel untuk meletakkan gelas kotornya. Setelah itu Sunny berjalan pergi. Kali ini Sunny menatap Hyun Su sebentar saat lewat di depannya. Hyun Su hanya diam tertunduk. Bayangan Cassandra terus muncul dalam pikirannya. Sunny secepatnya melangkah pergi, berpikir lebih baik dia diam di kamar dulu sampai Min Jun pulang.
Begitu cepat, tiba-tiba saja Hyun Su sudah menahan tangannya. Langkah Sunny terhenti. Dia membalikkan badan menatap Hyun Su heran.
"Oppa?" panggilnya.
Hyun Su masih tak berkata apa-apa. Dia hanya menatap Sunny dengan pandangan nanar. Sunny yang bingung berusaha melepaskan tangannya dari Hyun Su. Namun pegangan Hyun Su semakin erat.
"Oppa, lepaskan!" seru Sunny.
Sunny berusaha melepaskan pegangan tangan Hyun Su dengan paksa. Namun bukannya di lepaskan, Hyun Su justru memeluk Sunny. Sunny semakin bingung juga merasa sedikit takut.
"Jangan pergi! Ku mohon, aku mencintaimu!" ucap Hyun Su.
"Oppa, apa yang kau katakan? Lepaskan aku!" seru Sunny sambil berontak berusaha melepaskan diri.
Hyun Su seolah tak mendengar Sunny. Dia malah memeluknya semakin erat. Membuat Sunny tak bisa bergerak.
"Sebelumnya aku memang tidak yakin dengan perasaan ku. Sekarang aku yakin, aku memang mencintaimu. Aku mencintaimu sejak dulu, Cassandra!" oceh Hyun Su yang sudah seperti orang mabuk.
"Tapi aku bukan Cassandra!" seru Sunny mengingatkan.
"Jangan menyangkal terus. Aku tahu kau juga mencintaiku, iya kan?! Katakan saja sejujurnya. Kau tidak perlu cemas, Yun-bi bukan apa-apa bagiku."
Sementara Hyun Su terus mengigau, Sunny mencoba menelepon Min Jun untuk menyuruhnya cepat pulang. Panggilan masih menunggu, Hyun Su sudah menarik wajah Sunny dan hendak menciumnya tapi Sunny berhasil menghindar.
"Oppa, sadarlah! Aku bukan Cassandra! Ini aku Sunny! Sunny!" teriak Sunny sambil terus berusaha melepaskan diri dan menghindar dari Hyun Su yang hendak menciumnya.
Begitu Min Jun mengangkat teleponnya. Sunny langsung berteriak, "Oppa, tolong-"
Hyun Su yang kesal merampas ponsel Sunny. Menutup panggilan dan membuang ponselnya begitu saja.
Tut...tut...tut.....
"Sunny? Sunny?" seru Min Jun di telepon.
Panggilan dari Sunny yang tiba-tiba putus membuat Min Jun cemas. Takut terjadi sesuatu pada adiknya, Min Jun secepatnya pulang ke rumah.
"Jangan bicara omong kosong! Kau sengaja menghindar dariku. Apa kau lebih memilih pria itu dari pada aku?!" bentak Hyun Su sambil menunjuk ponsel yang sudah tergeletak di lantai.
Hyun Su yang emosi membuat Sunny tak berani berkata apa-apa. Dia mengusap rambut Sunny. Dan kali ini bibirnya berhasil mendarat di bibir Sunny.
Sunny terdiam. Dia tak berusaha melawan lagi. Tapi air mata jatuh dari pipinya. Hyun Su masih mendekap Sunny dalam pelukannya.
"Oppa, aku memang menyukaimu. Sejak dulu sudah menyukaimu! Walaupun kau terus menganggap ku anak kecil yang berisik dan merepotkan. Meski pun kau bersama Cassandra atau Yun-bi. Aku masih menyukaimu. Tapi aku tidak suka jika kau memperlakukan ku seperti ini. Hiks ... Kau melukai hatiku!" Sunny berkata sambil terisak.
Hyun Su melonggarkan pelukannya. Dia menatap Sunny. Pandangan wajah Sunny begitu kabur di matanya. Sunny menundukkan kepala sambil menangis. Hyun Su mengerjapkan matanya beberapa kali. Penglihatannya mulai sedikit membaik. Dia mengangkat wajah Sunny.
"Sunny?!" Hyun Su kaget sekaligus bingung. Wajah Sunny yang sedang menangis kini terlihat jelas di matanya. "Sunny, kenapa kau ...."
"Brengsek! Apa yang kau lakukan pada adikku!?" umpat Min Jun. Dia langsung mengangkat tinjunya dan memukul tepat di wajah Hyun Su.
"Oppa, sudah hentikan! Tenanglah!" Sunny berusaha menghentikan Min Jun.
"Apa ini yang namanya teman?! Pergi sekarang juga! Dan jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi!" kecam Min Jun.
Hyun Su tak melawan. Dia mengusap wajahnya yang terluka. Tanpa mengatakan apapun langsung meninggalkan rumah Min Jun. Dia juga meninggalkan motornya di sana. Karena tidak mungkin mengendarai motor jika berjalan saja sempoyongan begitu.
"Apa kau terluka? Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Min Jun cemas. Dia memeluk dan mengusap kepala Sunny untuk menenangkannya.
"Aku baik-baik saja," jawab Sunny.
Min Jun melihat ponsel Sunny yang sudah retak di lantai. Dia memungutnya. Kemudian mengajak Sunny bicara di ruang tengah saja. Sedang Sunny duduk di ruang tengah, Min Jun ke dapur mengambilkan segelas air untuk Sunny.
"Minumlah!"
Sunny menurut. Min Jun duduk di sampingnya. "Apa yang terjadi? Apa dia melakukan hal yang tidak baik padamu?" tanya Min Jun.
"Dia memaksa ingin mencium ku. Dia pikir aku Cassandra dan terus memanggilku dengan nama Cassandra," jawab Sunny. Sunny menceritakan semuanya secara terperinci.
"Ck, tidak disangka kepergian Cassandra kali ini membuatnya gila," gumam Min Jun.
"Benar kau tidak apa-apa?" tanya Min Jun kepada adiknya untuk memastikan.
"Aku tidak apa-apa, Oppa. Aku hanya merasa kecewa. Aku memang menyukai Oppa Hyun Su dan sering bersikap kekanak-kanakan di depannya. Tapi apa yang dia lakukan kali ini benar-benar melukai hati ku," jawab Sunny sedih.
"Aku tidak menyangka dia akan jadi seperti ini. Seharusnya aku tidak meninggalkan mu sendiri dengan pria mabuk. Untungnya dia tidak melakukan hal yang kelewat batas terhadapmu. Apa yang akan ku katakan pada appa dan eomma nanti?" kata Min Jun sambil menghela nafas.
"Tapi, ciuman pertama ku ...," ucap Sunny.
Min Jun segera memeluknya. "Tidak apa-apa. Cepat atau lambat kau akan melupakannya. Itu hanya sebuah ciuman. Anggaplah kau baru saja bermimpi buruk. Yang penting kau tidak kehilangan kehormatanmu!" hibur Min Jun.
Min Jun mengeluarkan ponsel Sunny yang retak. Saat dia coba menyalakannya, layar tersebut hanya menampilkan warna putih.
"Sepertinya ponselmu harus di ganti," usul Min Jun.
"Aish, eomma pasti akan marah kalau aku meminta ponsel baru pada appa," keluh Sunny.
"Aku akan membelikannya untukmu!" kata Min Jun.
"Benar?" tanya Sunny.
"Ya. Adikku jauh lebih berharga dari pada sebuah ponsel. Kau tahu betapa cemasnya aku tadi saat kau menelepon bilang tolong dan tiba-tiba terputus?! Jantungku rasanya mau copot!" jelas Min Jun.
"Karena takut terjadi sesuatu padaku?" tebak Sunny.
"Bukan. Aku takut bagaimana nanti menjelaskannya pada appa dan eomma," jawab Min Jun bercanda.
"Ah, oppa ...," sungut Sunny cemberut.
"Hahahah ...." Min Jun tertawa karena berhasil menggoda adiknya.
bersambung.....