
Malam itu Siwon menginap di rumah Cassandra untuk berjaga-jaga. Keesokan pagi, Siwon merasa agak aneh. Tidak biasanya wanita itu belum bangun meski jam sarapan pagi sudah lewat. Namun karena ada pekerjaan mendesak Siwon pergi lebih awal. Dia kembali ke rumah Cassandra tengah hari. Saat dia memasuki dapur, Cassandra sedang duduk dengan wajah kusut. Sepertinya baru bangun. Siwon menatapnya sambil menyipitkan mata. Cassandra termenung dengan pikirannya sendiri.
"Wajahmu menyedihkan sekali!" komentar Siwon.
Mata Cassandra beralih pada Siwon yang berdiri di depannya. Tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
"Hyun Su bilang kau mabuk! Kau ambruk usai menciumnya. Ku harap itu bukan ciuman dalam keadaan sadar," Siwon melanjutkan.
"Memangnya kenapa kalau aku sadar? Aku tidak mabuk, aku memang sengaja menciumnya. Sialnya semuanya menjadi gelap setelah itu," jelas Cassandra merasa tak bersalah.
"Untuk apa kau menciumnya? Bukankah kau sudah tahu dia berbaikan dengan pacarnya?" tanya Siwon.
"Anggap saja untuk balas dendam!" jawab Cassandra datar.
Siwon diam berpikir. "Aku ragu dia benar-benar mencintai Yun-bi," kata Siwon.
"Kalau caranya memperalat ku agar wanita itu cemburu, mungkin dia memang masih memiliki perasaan terhadap wanita itu. Tapi entahlah itu akan bertahan berapa lama," jawab Cassandra.
"Bukannya dia belum bisa melupakanmu?" tanya Siwon.
"Aku tidak tahu. Dia tidak pernah mengatakan perasaannya kepadaku. Aku pun tidak pernah tahu sebenarnya dia menganggap ku apa," ucap Cassandra.
"Kenapa kau jadi begitu peduli pada Yun-bi?" tanya Cassandra dengan pandangan menyelidik.
"Aku hanya kasihan padanya. Dia wanita yang baik. Aku belum pernah bertemu wanita seperti dia," jawab Siwon sambil membayangkan Yun-bi.
"Kau tidak hanya kasihan. Kau bisa lebih baik dari Hyun Su. Kau bisa merebut wanita itu darinya. Tidak masalah kalau kau bersaing dengannya!" tutur Cassandra santai. Dia mulai sedikit tersenyum.
"Aku bukan orang seperti itu," bantah Siwon.
Cassandra tersenyum lebih lebar.
"Kau jatuh cinta padanya?" ucapnya.
Siwon hanya menatap Cassandra yang tersenyum padanya. Entah kenapa senyumnya terasa berbeda dari biasanya.
...☂️☂️☂️...
Yun-bi sedang membereskan meja dari gelas kotor. Entah kenapa hari ini tiba-tiba dia merasa sangat lelah. Kepalanya sedikit pusing dan rasanya mengantuk sekali. Dia membawa baki dengan gelas kotor ke dapur. Namun hampir saja dia menjatuhkan baki itu, untung saja Dae Ho cepat datang.
"Hati-hati, Yun-bi!" ucap Dae Ho.
"Maaf," kata Yun-bi pelan.
"Kau sudah makan siang belum? Wajahmu nampak pucat," tanya Dae Ho. Kemudian dia memegang lengan Yun-bi dan kaget. Badan Yun-bi terasa panas.
"Ya ampun, Yun-bi ... Badanmu panas sekali!" seru Dae Ho. Dia kembali menempelkan tangannya ke lengan Yun-bi juga pipi dan dahinya untuk memastikan sekali lagi.
"Sepertinya kau memang demam!" lanjutnya dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa. Hanya agak lelah," tukas Yun-bi lesu.
"Tidak. Kau harus pulang istirahat. Aku akan beritahu tuan Chan. Setelah itu mengantarmu pulang," paksa Dae Ho langsung saja menarik Yun-bi ikut dengannya.
Usai minta ijin dan memberi tahu teman lainnya Dae Ho mengantar Yun-bi pulang dengan motornya.
...☂️☂️☂️...
Sudah dua hari Yun-bi tidak masuk kerja. Demamnya memang sudah turun. Tapi badannya masih sedikit lemas. Dia bosan karena berada di kamar terus tanpa melakukan apa-apa. Setiap pulang bekerja Aira selalu datang membawakan makanan. Terdengar ketukan dari pintu kamarnya. Yun-bi bangun untuk membuka pintu.
"Annyeong, Yun-bi!" sapa Siwon.
"Siwon! Masuklah!" Yun-bi membuka pintu lebih lebar.
"Bagaimana kau tahu aku tidak kerja?" tanyanya.
"Terima kasih. Kau tidak perlu repot-repot begitu," balas Yun-bi. Dia merasa aneh Siwon perhatian padanya. Hyun Su saja tidak datang menjenguknya.
"Aku tidak merasa repot," balas Siwon. "Jadi, bagaimana kabarmu sekarang? Sudah baikan?"
"Sudah jauh lebih baik. Ya. Besok aku berencana masuk kerja lagi," jawab Yun-bi.
"Syukurlah! Jangan dipaksakan kalau belum sehat betul istirahatlah beberapa hari lagi," pesan Siwon.
"Mana bisa seperti itu? Bisa-bisa aku justru kena pecat. Oya, bagaimana kabar Hyun Su? Apa dia masih sering ke rumah Min Jun?" tanya Yun-bi.
"Dia baik-baik saja. Seperti biasanya. Yah, jika dia butuh bantuan Min Jun," jawab Siwon santai. "Apa dia tidak kemari?"
"Tidak," jawab Yun-bi.
"Oh."
Untuk beberapa saat keduanya terdiam.
"Aku buatkan minum dulu!" Yun-bi menawari.
"Tidak usah repot. Aku juga sudah mau pergi," tolak Siwon cepat. Dia segera berdiri.
"Cepat sekali?" tanya Yun-bi.
"Aku datang untuk menjengukmu bukan datang untuk merepotkan mu," canda Siwon sambil tersenyum.
"Kalau begitu terima kasih!" balas Yunbi.
"Sama-sama! Sampai ketemu lain kali, ya!" pamit Siwon. Yunbi mengangguk.
...☂️☂️☂️...
Di ruang tunggu sebuah rumah sakit, Cassandra sedang duduk dengan gelisah menunggu hasil CT Scan keluar. Sejak beberapa bulan terakhir dia sering mengalami sakit kepala. Obat sakit kepala biasa hanya bisa menghilangkan rasa sakit sementara. Dan akhir-akhir ini sakit kepala itu semakin sering datang dan menjadi.
Hampir satu jam dia duduk di sana. Saat namanya di panggil dia masuk ke dalam ruangan. Dokter tidak berkata banyak, Cassandra juga tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Dokter menyerahkan hasil CT Scan itu padanya. Dengan wajah serius dokter memberi tahu kondisi kesehatannya dan menyarankannya untuk segera mengambil tindakan. Cassandra menyembunyikan kekagetannya dengan berusaha bersikap tenang.
Dia keluar dari rumah sakit. Masuk ke dalam mobil lalu melemparkan amplop besar hasil CT Scan ke samping tempat duduk. Dia bingung entah harus menangis atau marah. Dia berusaha tetap tenang meskipun ini sangat berat baginya. Dia tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi.
Di tengah kegundahan, ponsel Cassandra berdering. Sebuah nomor yang tak dikenal tertera di layar ponsel. Cassandra mengangkatnya tanpa rasa curiga.
"Yeoboseyo!"
"Cassandra! Finally, i found you!" seru suara di seberang telepon dengan girang. Suara yang sangat dikenal Cassandra.
"Harlem?"
Harlem yang berada di seberang telepon menjelaskan. "Ya. Ini aku, Sandra! Bagaimana kabarmu? Aku tak bisa hanya menunggumu di HK. Jadi, aku datang ke Seoul."
"Di mana kau sekarang? ..... Aku akan ke sana!" kata Cassandra.
Mobil Cassandra melaju menuju toko furniture ayahnya, tempat yang dikatakan Harlem. Entah bagaimana Harlem bisa menemukan toko ayahnya. Tidak butuh waktu lama Cassandra tiba di sana. Dia turun dari mobil dan nampak Siwon berbicara dengannya di dalam sudut toko. Harlem tersenyum sumringah melihat kedatangan Cassandra.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Cassandra dengan ketus.
"Sandra, aku hanya ingin menemuimu! Kau tahu kan aku masih menunggu?!" jawab Harlem.
"Ehem ... Sebaiknya bicarakan masalah pribadi kalian di dalam saja!" Siwon menyarankan sekaligus memberi isyarat kalau dirinya masih berada di sana.
"Sora, Kau sudah datang?! Kenapa berdiri di sana saja? Ayo, masuklah! Ajak Harlem juga masuk ke dalam. Dia dari jauh datang kemari, sangat tidak sopan membiarkannya hanya berdiri di luar saja!" suruh Tuan Kim saat melihat putri semata wayangnya itu.
bersambung.....