Melodies Of Rain

Melodies Of Rain
#TIGA PULUH DUA



Di tengah keramaian jalanan, Hyun Su berjalan tertatih-tatih. Dirinya sudah seperti orang linglung yang kehilangan arah tujuan. Dia berhenti di sebuah halte. Mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar. Mencari nama Cassandra di kontak, ibu jarinya hendak menekan tombol hijau panggilan, tapi kemudian diurungkan. Dia mematikan ponselnya dan menundukkan kepala. Tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan sekarang.


...☂️☂️☂️...


Beberapa hari kemudian.


Di dalam bangsal rumah sakit, Harlem sedang bersama Cassandra. Harlem menemani Cassandra sebelum wanita yang dicintainya itu masuk ke ruang operasi.


"Percaya dan yakinkan dirimu, Sandra! Kau pasti akan sembuh!" Harlem berkata dengan penuh keyakinan.


"Sejujurnya aku masih sedikit takut. Bagaimana jika aku tidak bangun di ruang operasi?" tutur Cassandra pelan.


"Jangan berkata seperti itu, Sandra! Dokter sudah bilang kemungkinan mu untuk sembuh sangat besar. Jadi, kau juga harus percaya. Ingatlah ada Appa yang menunggu janjimu di Seoul. Kau harus sembuh supaya kita bisa kembali ke Seoul mewujudkan harapan Appa," hibur Harlem sembari menggenggam tangan Cassandra.


"Kenapa kau begitu bersikukuh, Harlem? Kau bisa terlihat begitu tenang tanpa putus asa. Kenapa kau tidak menyerah di saat aku sudah putus asa? Kenapa kau tidak meninggalkan diriku saja di saat kau tahu kondisi ku yang sekarat seperti ini?" tanya Cassandra.


"Apa harus ku jelaskan lagi padamu, Sandra?! Di saat aku pergi mencari mu di Seoul, saat itu aku sudah memutuskan untuk tidak menyerah padamu. Aku akan mengejar dirimu kemana pun kau pergi. Tidak peduli seperti apapun dirimu. Tidak peduli betapa keras kepalanya dirimu, aku akan bersabar sampai kau menyerah. Sampai aku bisa meluluhkan hatimu," tutur Harlem dengan kesungguhan.


"Aku tidak bisa lagi berpura-pura dan meneruskan kebohongan ini. Aku ingin Cassandra yang nyata. Aku menginginkan mu lebih dari apapun yang ada di dunia ini. Bukan hanya membuatmu tersenyum saja, tapi tersenyum bahagia bersama," lanjutnya.


Cassandra malah tertawa kecil mendengarnya.


"Apa itu terdengar lucu? Kau tahu aku tidak terlalu pandai membuat kata-kata indah," kata Harlem malu.


"Bukan begitu. Aku tidak suka pria yang terlalu banyak mengumbar kata indah. Tapi kau pria pertama yang berkata seperti itu," terang Cassandra.


"Ah, benarkah?! Sekarang aku merasa sedikit bangga pada diriku," ujar Harlem.


"Hahaha ...." Cassandra menutup mulutnya.


"Aku serius. Kau harus sembuh. Kau harus bangun, apapun yang terjadi," kata Harlem sambil mengusap kepala Cassandra.


Cassandra meraih tangan Harlem dan mendekapnya dengan kedua tangannya. "Harlem, jika aku sembuh nanti kau sungguh-sungguh dengan apa yang kau ucapkan tadi? Dan juga dengan apa yang pernah kau katakan pada Appa?" tanyanya.


"Tentu saja, Sandra! Aku bersungguh-sungguh dengan semua yang ku katakan, padamu juga Appa-mu!" jawab Harlem yakin.


Cassandra tersenyum. "Kalau begitu doakan aku untuk sembuh agar bisa kembali ke Seoul mewujudkan harapan Appa!" pintanya.


"Tentu saja! Tentu aku terus berdoa dan meminta kesembuhan mu, Sandra!" Harlem menarik kepala Cassandra dan mengecup keningnya. Dia memeluk Cassandra dengan penuh kasih.


"Dan mengenai apa yang ku alami sekarang, aku ingin kau berjanji untuk tidak mengatakannya pada siapapun. Ini adalah rahasia kecil di antara kita berdua," ucap Cassandra.


"Iya, aku janji. Ini hanya antara kita," jawab Harlem.


Setelah jadwal yang di tentukan tiba, dokter bersama para perawat datang. Sebelum memindahkan Cassandra ke ruang operasi, mereka melakukan beberapa persiapan dulu. Karena tumor berada di kepala maka Cassandra terpaksa harus memangkas habis rambutnya.


Harlem dengan setia mendampinginya. Perasaan Cassandra campur aduk. Antara sedih, takut, dan malu dengan penampilannya sekarang di hadapan Harlem. Tapi Harlem terus menghibur dan memberinya semangat. Dia juga terus memuji Cassandra yang tetap terlihat cantik. Membuat perasaan Cassandra sedikit lebih baik.


Setelah semua persiapan selesai, dokter dan para perawat segera memindahkan Cassandra ke ruang operasi. Sampai tiba di depan pintu ruang operasi, Harlem setia menunggu sambil terus mendoakan kesembuhan Cassandra.


"Bagaimana mana perasaan mu, Nona?" tanya dokter.


"Aku akan menyuntikkan obat bius. Ini tidak akan sakit. Tenangkan hatimu! Ingatlah hal-hal yang membuatmu bahagia. Cobalah ingat kembali momen bahagia yang pernah kau lewati bersama orang-orang terdekat mu," kata Dokter.


Pikiran Cassandra menyetujui apa yang dikatakan dokter. Dia segera melupakan ketakutannya dan perlahan mulai masuk ke dalam dunia mimpinya.


...☂️☂️☂️...


Hembusan angin malam di atas Star Ferry terasa dingin di wajah Cassandra. Dia mengeratkan syalnya dan menaikkan sedikit sampai menyentuh dagu. Pertunjukan Symphony of Lights sedang berlangsung di tepi sungai HK dan Kowloon. Pertunjukan cahaya yang indah tapi Cassandra tidak benar-benar menikmatinya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Dia sudah seminggu di HK, tapi hatinya seperti masih tertinggal di Seoul. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Mengecek apa ada pesan atau panggilan masuk, namun sayangnya tidak ada. Dia mencari nama seseorang dalam daftar kontak dan menimbang-nimbang akankah menghubunginya atau tidak. Dia masih terus menatap nama itu di layar ponselnya.


"Looks like your phone screen is more interesting than 'Symphony of Lights' show!" ujar seorang pria asing yang berdiri tak jauh dari Cassandra.


Cassandra langsung menatap ke arah pria tersebut. Pria itu tersenyum dan sedikit mendekat namun tetap menjaga jarak.


"Maaf mengagetkan mu, Nona! Nampaknya kau bukan orang sini, benar? Maksudku anda mungkin seorang turis...," katanya dengan senyum ramah.


"Aku berasal dari Korea," jawab Cassandra singkat. Dia menyimpan kembali ponselnya.


"Oh ... I see! Ngomong-ngomong tidak sopan rasanya jika tidak mengenalkan diri. Namaku Harlem Wang, penduduk asli di sini!" kata Harlem sambil mengulurkan tangannya.


"Cassandra Kim!" balas Cassandra.


"Nice to know you, Miss Kim!" ujar Harlem.


"Thanks!" balas Cassandra.


"Jadi, Nona Kim datang bersama keluarga atau sendiri?" tanya Harlem.


"Bersama keluarga," jawab Cassandra singkat.


"Oh ... Liburan keluarga! Sebenarnya aku bekerja di perusahaan Tour & Guide. Jika Nona Kim butuh pemandu wisata aku bisa menawarkan tour keliling HK. Kami menyediakan banyak pilihan paket wisata dengan harga bersahabat dan tentunya aman dan terpercaya. Ini kartu namaku!" jelas Harlem sambil memberikan kartu namanya.


Cassandra menerimanya dan melihatnya sebentar.


"Silahkan hubungi aku di nomor itu jika Nona Kim berminat," pesan Harlem.


"Terima kasih atas tawaran Tuan Wang. Tapi aku berencana tinggal lama di sini. Jadi mungkin tidak terlalu membutuhkan pemandu," jawab Cassandra. Dia langsung berjalan meninggalkan Harlem yang hanya bisa menatap kepergiannya.


Siwon yang diam-diam mengawasi Cassandra sejak tadi bertanya, "Siapa pria itu?"


"Tour guide," jawab Cassandra sambil menunjukkan kartu nama Harlem.


"Hati-hati dengan orang asing! Kita belum terlalu mengenal tempat ini," pesan Siwon.


Kini Cassandra membaca kartu nama itu lebih seksama. "Aku akan menyimpannya. Jika diperlukan suatu hari nanti," kata Cassandra.


Itulah awal pertemuan tak disengaja antara Cassandra dengan Harlem.


bersambung......