Melodies Of Rain

Melodies Of Rain
#DUA



𝐑𝐮𝐦𝐚𝐡 𝐇𝐲𝐮𝐧 𝐒𝐮



Hyun Su duduk di depan meja kerjanya sambil menatap sketsa untuk sebuah logo yang sedang dia kerjakan. Tatapannya seketika beralih ke bros angsa yang tergeletak di meja. Ia mengambil bros angsa itu dan memperhatikannya. Batu kristal biru yang ada di badan angsa berkilau di bawah sorot cahaya lampu.



Sosok Yun-bi yang dilihatnya di cafe waktu itu muncul dalam pikirannya. Namun seketika bayangan Yun-bi berubah menjadi sosok wanita lain yang selama ini coba dilupakannya. Hyun Su segera menyadarkan diri dari bayangan tersebut.


...☂️☂️☂️...


Aira baru tiba di apartemen Yun-bi. Terkadang dia memang berangkat kerja bersama Yun-bi meskipun harus berjalan sedikit lebih jauh karena rumah mereka berlawanan arah. Aira tidak pernah merasa keberatan. Yun-bi tinggal di sebuah apartemen sederhana. Dengan biaya sewa yang dibayar setiap bulan.


Begitu Aira masuk ke kamar Yun-bi, ia terheran melihat kamar itu begitu berantakan. Sedangkan Yun-bi sibuk mengacak-acak isi laci dalam lemari pakaiannya seperti sedang mencari sesuatu.


"Kau sedang mencari apa, Yun-bi?" tanya Aira.


"Bros yang biasa ku kenakan," jawab Yun-bi.


"Haa ... Ku pikir sesuatu yang berharga," ujar Aira sambil menjatuhkan pantatnya di atas tempat tidur.


"Hei, itu juga sesuatu yang berharga bagiku!" protes Yun-bi sambil menatap Aira.


"Itu hadiah dari sahabat baikku. Aku sudah lama kehilangan kontak dengannya. Dan bros itu satu-satunya barang kenangan darinya," terangnya dengan sedikit murung.


"Sudah jangan murung begitu. Apa kau sudah mencarinya dengan benar? Coba kau ingat lagi terakhir kali kau memakainya, kau menaruhnya di mana?" Aira coba membantu.


Yun-bi berusaha mengingat-ingat. Tapi sama sekali tidak ada bayangan ke mana dia menyimpan bros itu. Biasanya dia menyimpan bros itu ke dalam jewelry box setelah dipakai. Tapi kali ini dia tidak bisa menemukannya bahkan di tempat lain juga. Sementara jam kerja semakin dekat akhirnya Yun-bi menyerah. Dia berangkat kerja bersama Aira dan akan kembali mencari bros itu sepulang bekerja nanti.


Minggu berikutnya Yun-bi akan menggantikan Yoon Wu kerja malam. Dia juga akan jarang bersama Aira karena perubahan jam kerja. Hal itu memang sudah biasa. Siang ini Yun-bi sedang membereskan meja usai ditinggalkan pengunjung. Dia sedang mengelap meja ketika Aira dengan sengaja menyenggol pinggulnya.


"Minggu depan kita tidak akan ngobrol seperti ini lagi," ucap Aira.


"Yah, seperti biasanya. Nikmati saja meskipun harus kehilangan sedikit waktu tidur yang berharga," ucap Yun-bi sambil menghela nafas. Aira menghiburnya dengan melingkarkan lengannya ke leher Yun-bi.


Dari luar kaca jendela cafe nampak Hyun Su sedang berdiri memperhatikan kedua wanita itu.


...☂️☂️☂️...


Seminggu kemudian ....


"Tidak masalah. Sampai bertemu lagi! Hati-hati di jalan, Yoon Wu!" balas Yun-bi sebelum pemuda itu pergi.


"Kenapa dia selalu saja terburu-buru?" tanya Yun-bi pada Aira yang sedang bersiap pulang.


Aira mengangkat bahunya tak tahu. "Bukankah dia selalu begitu!? Aku pulang ya, Yun-bi! Hati-hatilah saat pulang malam nanti!" pesannya.


"Iya, eonni sayang!" jawab Yun-bi. Aira tertawa lalu melambaikan tangan meninggalkannya.


Malam telah tiba. Suasana di luar begitu ramai. Banyak orang berlalu-lalang di jalanan kota. Sama halnya di cafe K&Q tempat Yun-bi bekerja. Sedari petang tadi tak habis-habisnya pengunjung yang datang dan pergi. Meskipun sedikit lelah tapi ia tetap semangat memberikan pelayanan yang terbaik bagi pengunjung. Malam mulai larut pengunjung mulai berkurang. Kesempatan bagi Yun-bi untuk mengistirahatkan kakinya yang sudah pegal. Noel yang kebetulan juga kerja malam, sedang membuat minuman.



Dia menyodorkan secangkir coklat hangat yang baru dibuat kepada Yun-bi.


"Penambah semangat," ucapnya.


"Kamshanida," balas Yun-bi segera menyeruput coklat hangatnya.


Sehabis dari rumah Min Jun, Hyun Su terpaksa harus pulang berjalan kaki karena ban motornya kempes setelah mengantar Min Jun pulang. Tak mau repot mendorong motor dia menitipkannya sekalian di rumah Min Jun. Jarak rumahnya tidak terlalu jauh jadi sekalian mencari angin segar. Saat lewat di depan cafe ia mencoba melihat ke dalam. Lampu dalam ruangan cafe yang terang cukup memperjelas pandangannya dari luar. Dia melihat sosok Yun-bi yang sedang duduk di depan meja barista. Meski posisi duduknya membelakangi jendela, Hyun Su sangat yakin itu Yun-bi. Suasana cafe juga sangat lengang. Hyun Su melirik jam tangannya.


'Sudah pukul sepuluh malam,' pikirnya.


Awalnya tidak ada niat sama sekali untuk pergi ke cafe. Namun melihat Yun-bi, entah mengapa langkahnya jadi berubah. Dia masuk ke dalam cafe dengan harapan Yun-bi yang datang melayani. Namun Hyun Su harus sedikit kecewa karena bukan Yun-bi yang datang mencatat ataupun mengantarkan pesanan untuknya. Yun-bi masih duduk di depan meja barista sambil mengobrol dengan Noel yang kedua tangannya sibuk menyajikan minuman. Yun-bi bahkan tidak menyadari kehadiran Hyun Su meskipun dia terus mencuri pandang ke arah Yun-bi. Hyun Su menatap cangkir di depannya yang belum disentuh sama sekali.


Dalam hatinya ia berkata, 'Mengapa aku jadi memperhatikannya? Bukankah tujuanku sebenarnya untuk mengembalikan barang miliknya yang jatuh?! Malah berharap dia akan datang menghampiriku.'


Ia merasa bodoh sendiri. Suara tawa Yun-bi terdengar cukup jelas sampai ke tempat duduknya. Hyun Su tersadar. Ia menatap sekeliling ruang cafe. Hanya dirinya dan dua orang asing yang duduk agak jauh dari mejanya. Sementara para waiter dan waitress lainnya tidak terlihat.


Tuan Chan muncul dari belakang, berdiri di balik meja barista melihat suasana cafe saat ini. Kemudian ia kembali masuk sambil menggerutu. "Pengunjung seperti ini hanya datang membuang waktu saja!"


Noel dan Yun-bi hanya diam saling melempar pandangan.


Hyun Su yang masih berada di sana merasa tidak ada gunanya berlama-lama diam di cafe itu. Dan lagi masih ada yang harus ia kerjakan esok pagi. Usai menghabiskan minumannya Hyun Su pergi. Ia masih mencari sosok Yun-bi yang sudah tidak kelihatan. Meski sudah meninggalkan cafe itu tapi ia masih merasa ada yang kurang. Berkali-kali ia melirik jam tangannya dengan gelisah. Akhirnya ia memutuskan kembali ke cafe menunggu Yun-bi. Tinggal beberapa langkah mendekati cafe, tepat saat itu Yun-bi muncul. Hyun Su menghentikan langkahnya. Langkah Yun-bi pun ikut terhenti melihat pemuda yang tidak dia kenal berdiri di depannya.


"Annyeong haseyo!" sapa Hyun Su dengan sopan.


"Maaf, Apa kita saling kenal?" Yun-bi melontarkan pertanyaan. Ia sedikit waspada karena tidak mengenal pria di depannya itu.