Melodies Of Rain

Melodies Of Rain
#EMPAT PULUH LIMA



Yun-bi sedang mengambil cangkir dan piring yang sudah bersih di dapur. Untuk kemudian dibawa kepada Noel untuk digunakan. Yun-bi mengelap cangkir dan piring itu satu persatu. Kemudian dia berjongkok ke bawah meja barista untuk menyimpan cangkir dan piring itu ke dalam dish cabinet.


Suasana cafe masih cukup lengang dengan beberapa pengunjung. Hyun Su sedang mengobrol dengan Dae Ho karena sedang tidak ada pekerjaan.


Dari arah pintu masuk nampak seorang pengunjung datang. Rupanya seorang remaja laki-laki yang ditabrak Yun-bi kemarin. Remaja itu berdiri sebentar sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan cafe. Dia kemudian memilih tempat duduk yang berada di tengah ruangan. Hyun Su menghampiri remaja itu untuk menanyakan pesanan.


"Teh susu hangat satu," ucap remaja laki-laki itu.


"Baik, Silahkan tunggu sebentar!" Hyun Su berlalu dan menyampaikan pesanan pada Noel.


Noel segera melakukan pekerjaannya. Tak lama secangkir teh susu hangat sudah sampai di meja remaja tersebut. Remaja itu masih celingak-celinguk menatap setiap sudut cafe.


Yun-bi berdiri setelah semua peralatan makan minum telah tersimpan rapi ditempatnya. Saat itulah remaja tersebut melihat Yun-bi.


"Noona!" panggil remaja itu dari tempat duduknya sambil melambaikan tangan.


Sontak hal itu tak hanya membuat Yun-bi saja yang menoleh. Tapi semua pengunjung dan pegawai di dalam cafe juga ikut menolah ke arahnya. Terutama Hyun Su yang langsung mengalihkan perhatiannya pada remaja itu. Remaja itu merasa agak tidak enak. Yun-bi segera menghampiri meja remaja tersebut. Kemudian duduk di depannya.


"Mana ponselku!" Dia mengulurkan tangannya meminta ponselnya kembali.


"Ada." Remaja laki-laki itu membuka tasnya dan mengeluarkan ponsel milik Yun-bi.


"Ini ponsel noona. Sekali lagi maaf!" kata remaja laki-laki itu sambil mengembalikan ponsel kepada Yun-bi.


Yun-bi menerima ponselnya dan mengecek sebentar. Kemudian memasukkannya ke saku roknya.


"Tunggu sebentar! Aku ambil ponselmu di tasku," kata Yun-bi. Dia kemudian beranjak pergi ke belakang.


Tak lama Yun-bi kembali membawa ponsel milik remaja itu. "Ini milikmu!"


"Gomawoyo, noona!" ucap remaja laki-laki itu. Dia sangat senang mendapatkan kembali ponselnya.


Yun-bi juga merasa senang ponselnya kembali padanya. Karena tidak ada pekerjaan, ia memutuskan mengobrol sebentar dengan remaja itu.


"Kau datang lebih cepat. Bukankah sekolahmu baru selesai sore nanti?" tanya Yun-bi.


"Iya. Ada perubahan jadwal," jawab anak itu.


"Siapa namamu?" tanya Yun-bi.


"Jeon Seo-jin. Kalau noona?"


"Namaku Seo Yun-bi," kata Yun-bi.


"Aku boleh tetap memanggilmu noona?" tanya remaja laki-laki bernama Seo-jin itu dengan antusias.


"Tentu saja. Aku kan lebih tua darimu!" jawab Yun-bi.


Seo-jin tersenyum. "Noona, mau minum?" Ia menawari sambil mengangkat cangkirnya.


"Tidak."


Seo-jin pun menikmati minumannya sendiri. Sedangkan Yun-bi memperhatikan seragam sekolah yang dikenakan Seo-jin.


"Kau sekolah di mana, Seo-jin?" tanya Yun-bi.


"Aku sekolah di SMA swasta X. Tahun depan aku sudah akan lulus," jawab Seo-jin.


"Iya," Seo-jin tersenyum namun sedikit agak dipaksakan.


"Noona, apa kau tidak sibuk? Kau tidak harus duduk menemaniku di sini," kata Seo-jin.


"Tidak. Kau lihat suasana cafe sekarang sedang sepi. Jadi, aku punya waktu mengobrol denganmu. Apa aku yang mengganggumu?" ujar Yun-bi.


"Tidak. Tidak. Mana mungkin noona menggangguku. Aku justru senang punya teman baru seperti noona," tutur Seo-jin.


"Benarkah?"


"Iya. Ngomong-ngomong aku simpan nomor noona boleh, kan?" tanya Seo-jin.


"Iya, boleh. Mungkin kita bisa jadi teman," jawab Yun-bi.


"Gomawoyo, noona," ucap Seo-jin.


Yun-bi mengangguk. 'Anak ini cukup menarik. Kenapa aku merasa wajahnya agak mirip seseorang, ya?!' batin Yun-bi.


Sementara itu Hyun Su masih memperhatikan keduanya dari tempat ia dan Dae Ho duduk.


Seo-jin menatap jam antik yang berada di sudut cafe. Dia segera menghabiskan minumannya.


"Noona, aku harus segera pergi. Aku masih harus mengikuti kelas bimbel hari ini," tutur Seo-jin.


"Em, baiklah! Semangat belajar!" kata Yun-bi.


"Iya. Lain kali aku akan datang ke sini lagi," ujar Seo-jin.


Yun-bi mengangguk. Seo-jin berdiri dari tempat duduknya kemudian pergi ke meja kasir. Setelah melakukan pembayaran, dia pergi.


Yun-bi juga beranjak. Dia baru akan membereskan meja itu namun Hyun Su tiba-tiba datang membantu.


"Apa dia adikmu? Kalian agak sedikit mirip," tanya Hyun-su.


"Bukan urusanmu!" jawab Yun-bi. Dia berbalik pergi membawa cangkir kotor ke tempat cuci.


Hyun Su hanya terdiam di tempatnya sambil menghela nafas.


'Apa dia begitu membenciku?' pikirnya.


Waktunya tutup. Semua pegawai berpisah begitu meninggalkan cafe. Yun-bi dan Hyun Su berjalan di arah yang sama. Hyun Su berjalan di belakang Yun-bi. Yun-bi menyadari itu. Dia tiba-tiba berhenti. Hyun Su juga ikut berhenti.


"Sampai kapan kau akan mengikuti ku di belakang?" Yun-bi menoleh.


"Kau harus menyuruhku bagaimana? Jalan rumah kita searah," bela Hyun-su.


"Jaga jarak! Sepuluh langkah ke belakang!" jawab Yun-bi.


"Baik." Hyun Su lalu melangkah mundur sambil menghitung sampai sepuluh.


Yun-bi kembali berbalik dan berjalan pergi dengan cepat. Hyun Su juga buru-buru melangkah. Sambil menjaga jarak tentunya. Meskipun demikian Yun-bi tetap merasa dongkol. Yun-bi sengaja mempercepat langkahnya Hyun Su pun demikian. Seperti memang sengaja tidak ingin jauh-jauh dari belakang Yun-bi. Saat keduanya berpisah, barulah Yun-bi merasa lega.


bersambung.....