Melodies Of Rain

Melodies Of Rain
#DUA PULUH TUJUH



Cassandra sedang menyiapkan sarapan pagi di dapur. Harlem yang baru bangun menemukan Cassandra tengah sibuk di dapur. Dia segera menghampirinya.


"Seharusnya kau membangunkan aku lebih awal. Sini biar aku saja yang menyiapkannya. Kau duduklah, Sandra!" suruh Harlem.


"Tidak apa, ini sudah mau selesai. Sakit kepalaku tidak kambuh jadi aku bisa tidur nyenyak dan bangun lebih pagi hari ini," tutur Cassandra.


"Kau tetap tidak perlu melakukannya sendiri. Oya, apa semua barang mu sudah siap?" tanya Harlem.


"Sudah. Nanti siang kita akan menemui Appa untuk pamitan," jawab Cassandra.


"Jangan menunggu sampai siang lagi! Setelah semua yang di sini beres, kita langsung pergi menemuinya. Kita harus menyempatkan waktu makan siang bersama," ujar Harlem.


"Hem, baiklah." Cassandra tersenyum.


...☂️☂️☂️...


Yun-bi berdiri di depan meja barista. Dia sedang melamun sendiri memikirkan harus bagaimana menghadapi Cassandra. Apakah menemui Cassandra secara langsung, membalas suratnya atau mengabaikannya saja.


"Ada yang mengganggu pikiranmu, dear?" tanya Noel tiba-tiba.


"Eh oppa, tidak ada," jawab Yun-bi dengan biasa.


"Kalau begitu apa yang kau lamunkan?" Noel tersenyum memperhatikan Yun-bi.


"Hanya memikirkan masalah kecil," jawab Yun-bi.


"Masalah apa? Coba ceritakan! Mungkin aku bisa memberi saran," hibur Noel.



Yun-bi menatap Noel yang sedang menunggunya bercerita. Aira masih belum masuk kerja. Jika ada Aira mungkin Yun-bi bisa meminta pendapatnya. Noel sebenarnya cukup baik pada Yun-bi. Tidak hanya pada Yun-bi, Noel juga perhatian pada semua teman-temannya di sini. Dia sering membuatkan minuman untuk Yun-bi dan teman-temannya di waktu senggang. Setelah menimbang-nimbang Yun-bi akhirnya memutuskan bercerita kepada Noel.


"Baiklah. Oppa, aku hanya ingin mendengar pendapatmu. Seandainya Oppa memiliki seorang sahabat yang sudah lama tidak ditemui, kemudian suatu hari tanpa sengaja kalian bertemu tapi pertemuan itu justru di waktu yang sangat tidak tepat. Katakan saja dia melakukan suatu hal yang membuat Oppa marah dan kecewa. Memang, dia akhirnya menyadari kesalahannya itu. Kemudian dia menulis surat permintaan maaf. Jika itu Oppa, apa yang akan Oppa lakukan? Apa akan membalas suratnya, menemuinya langsung atau mengabaikannya begitu saja?"


"Apa kesalahan yang dia lakukan membuatmu sangat marah sampai tidak ingin melihat wajahnya lagi?" tanya Noel.


"Marah ... mungkin, tapi sangat marah sampai tidak ingin melihatnya lagi ... Aku juga tidak yakin. Situasinya agak sulit di jelaskan," jawab Yun-bi.


Noel berpikir sejenak, kemudian dia memberikan berpendapat. "Jika itu aku, selama masalahnya masih bisa dibicarakan ya dibicarakan dulu baik-baik dengan langsung mengajaknya bertemu. Dia sudah menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Jika bisa dimaafkan ya maafkanlah! Namanya manusia tidak luput dari kesalahan, bukan?!"


Noel melanjutkan, "Sama halnya dalam hubungan persahabatan, salah paham, pertengkaran, atau berbuat salah itu pasti pernah terjadi. Namun untuk menjaga agar ikatan persahabatan kita tetap erat dan terjaga maka kita perlu saling menghargai, mengerti dan memaafkan. Dan dengan bertemu langsung, berbicara secara terbuka untuk saling memaafkan itu lebih baik."


Yun-bi tersenyum mendengar pendapat Noel. "Ternyata Oppa jauh lebih memahami dari pada aku. Terima kasih pendapatmu. Ku rasa aku akan mengikuti saran itu," kata Yun-bi.


"Ah, tidak juga. Aku pun pernah mengalami hal yang tidak mengenakan dengan salah satu temanku. Ya, itu hanya kesalahpahaman. Kami berteman baik lagi. Seperti yang kukatakan, ikatan persahabatan akan terjaga jika kita bisa menghargai dan saling memaafkan," tutur Noel.


"Akan ku ingat kata-kata oppa," ujar Yun-bi.


"Hm, semoga kau berbaikan kembali dengan sahabatmu. Ngomong-ngomong, apa kau tahu mengapa Aira masih belum masuk?" tanya Noel.


"Hm, dia dan keluarganya pulang ke Hapong. Kakeknya meninggal. Mungkin dia akan kembali setelah pemakaman kakeknya selesai," jawab Yun-bi.


"Oh, aku tidak tahu itu. Dia tidak memberitahuku," ujar Noel.


"Dia memang tidak memberitahu siapa-siapa, kecuali Tuan Chan untuk meminta izin. Jangan bilang oppa merindukannya!" goda Yun-bi.


"Ah tidak. Hanya saja agak tidak nyaman kalau Tuan Chan yang duduk di sana menggantikannya. Dia seperti CCTV. Tatapannya itu ...," bisik Noel sambil menunjuk meja kasir.


"Bukannya Tuan Chan masih merupakan kerabat dekat Oppa?" tanya Yun-bi.


"Memang. Tetap saja tidak nyaman," jawab Noel. Yun-bi hanya tertawa kecil.


...☂️☂️☂️...


Cassandra dan Harlem menemui Min Jun di rumahnya.


"Annyeong ... eonni! Masuklah!" Kebetulan Sunny yang membuka pintu.


"Aku tidak bisa lama, Sunny. Di mana Min Jun?" tanya Cassandra sambil melangkah masuk. Sementara Harlem menunggu di teras.


Harlem sudah duduk di ruang tamu bersama Cassandra ketika Min Jun muncul. Harlem langsung berdiri memberi salam.


"Hello!"


"Min Jun, ini Harlem Wang!" Cassandra mengenalkan Harlem pada Min Jun.


"Annyeong haseyo!" sapa Min Jun pada Harlem dengan senyum ramah.


"Dia tunanganku!" tambah Cassandra.


Seketika raut wajah Min Jun berubah keheranan. Dia menatap Cassandra sambil mencoba menebak.


"Jadi ... Apa kedatangan kalian untuk memberikan undangan?"


Cassandra memutar matanya mendengar pertanyaan konyol Min Jun.


"Tidak."


Harlem hanya tersenyum kecil. Cassandra menjelaskan maksud kedatangannya. "Aku datang untuk berpamitan denganmu! Sore ini, aku dan Harlem akan kembali ke HK."


"Ooh ... Aku pikir kita akan mengadakan pesta besar!" ujar Min Jun lesu namun dia kembali serius. "Kenapa mendadak sekali?"


"Tidak mendadak. Aku sudah tinggal cukup lama di sini. Dikarenakan ada urusan yang harus diselesaikan jadi harus segera pulang. Cassandra bilang ingin ikut bersamaku ke HK. Jadi, aku menyetujuinya." Harlem mengambil alih menjelaskan.


"Terus kapan kau kembali ke sini lagi, Cassandra?" tanya Min Jun.


"Entahlah. Aku baru mau pergi bagaimana secepat itu memikirkan kapan pulang?" jawab Cassandra sedikit ketus.


Min Jun berlagak memasang raut wajah sedih. "Rumah jadi sepi kembali tanpa dirimu, Cassandra!" ucap Min Jun.


"Heh, Min Jun, jangan berlebihan seperti itu! Biasanya ada aku kau malah bilang berisik!" tukas Cassandra.


"Ah, itu kan hanya bercanda!" ujar Min Jun. "Yah baiklah, hati-hati kalian berdua! Semoga selamat sampai tujuan! Jangan pulang terlalu lama, nanti aku rindu," lanjutnya.


"Ah kau ini ... Sudahlah! Aku sudah cukup basa-basi denganmu," ujar Cassandra sambil berjalan pergi dengan Harlem.


Harlem berpamitan dengan Min Jun sebelum pergi. Min Jun melambaikan tangan sambil memasang raut wajah sedih.


.......


.......


.......


Kedatangan Cassandra dan Harlem merupakan kejutan bagi Tuan Kim. Ayah Cassandra itu merasa sangat senang melihat keduanya bersama. Tuan Kim menyambut Cassandra dan Harlem dengan senyum penuh kebahagiaan.


"Melihat kalian berdua seperti ini, aku tidak tahu harus berkata apa lagi selain kebahagiaan yang kurasakan." Tuan Kim begitu terharu.


"Appa, jangan berkata begitu. Aku dan Harlem sudah berbaikan. Kami kemari untuk mengajak Appa makan siang bersama," kata Cassandra.


"Benar, Tuan Kim. Kami harap anda tidak sibuk!" timpal Harlem.


"Tentu saja tidak. Walaupun sibuk juga aku akan tetap meluangkan waktu demi putriku dan calon menantuku. Benar begitu, bukan?!" kata Tuan Kim sambil menatap Harlem dan Cassandra bergantian.


"Hahaha ... Aku agak malu mengakuinya," ujar Harlem.


"Aish, tidak perlu malu begitu. Kalian tunggulah sebentar, aku akan bersiap," kata Tuan Kim.


Cassandra merangkul lengan Harlem. Dia tersenyum saat Harlem menatapnya. Dan menempelkan kepalanya ke bahu Harlem.


"Rasanya sudah lama tidak melihat Appa begitu bahagia. Harlem, bagaimana mungkin aku tega menghancurkan hatinya, dengan kondisiku sekarang?" ucap Cassandra sedih.


"Sandra, semua pasti akan baik-baik saja! Yakinlah, kau pasti sembuh. Setelah itu kita kembali dan membuat Appa-mu menjadi seorang ayah yang paling bahagia!" Harlem meyakinkan. Cassandra merasa sedikit terhibur mendengarnya.