Melodies Of Rain

Melodies Of Rain
#TIGA PULUH SEMBILAN



Cafe sedang sepi. Yun-bi menatap layar ponselnya. Tidak ada satupun pesan atau panggilan yang masuk. Dia masih terus menunggu kabar dari Cassandra.


'Kenapa Sora masih tidak menghubungiku? Apakah dia begitu sibuk di sana sampai-sampai lupa?' pikir Yun-bi.


Dia membuka kontak ponselnya. Menggeser nama-nama yang tersimpan di dalam kontak. Dia berhenti saat melihat nama Hyun Su. Rupanya nomor Hyun Su masih tersimpan di kontaknya. Yun-bi menekan tombol opsi berniat menghapus nomor itu. Saat pertanyaan untuk menghapus kontak muncul di layar ponsel, ia menjadi ragu. Akhirnya dia menekan tombol kembali dan keluar dari kontak.


"Ha ...," desah Yun-bi. Dia meletakkan kepalanya di atas meja.


Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dan kembali membuka kontak di ponselnya. Kemudian membuat panggilan ke nomor Siwon. Namun sayang nomor Siwon tidak aktif. Yun-bi kembali kehilangan semangat.


...☂️☂️☂️...


Hari sudah malam. Untuk menghibur diri dari rasa bosan, Yun-bi memutuskan berjalan-jalan. Tanpa disadari kakinya sudah melangkah sampai ke Cheonggyecheon Stream. Dia jadi teringat saat datang kemari bersama Hyun Su. Yun-bi memutuskan duduk di tepian sungai. Dia duduk termenung sendiri. Kenangan bersama Hyun Su muncul dalam ingatannya.


"Yun-bi?" Seseorang yang kebetulan lewat berhenti untuk menyapa.


Yun-bi menoleh. "Oppa!"


"Kau di sini sendiri?" tanya Noel.


"Iya."


"Boleh aku bergabung?" Noel meminta izin.


"Tentu saja. Duduklah, Oppa!" jawab Yun-bi.


Noel pun duduk di sebelah Yun-bi. "Tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini!"


"Oppa juga ke sini sendiri?" tanya Yun-bi.


"Iya. Aku sering ke sini untuk jalan-jalan atau sekedar duduk menikmati pemandangan," jawab Noel.


"Oh. Pemandangan di sini memang cukup bagus. Aku malah baru ke sini dua kali dengan yang kali ini," timpal Yun-bi.


"Yang pertama kali pasti datang bersama seseorang," tebak Noel.


"Bagaimana Oppa bisa tahu?" tanya Yun-bi.


"Biasanya memang seperti itu. Kita yang setiap hari sibuk bekerja, tidak akan punya waktu pergi ke tempat yang bagus jika bukan karena diajak datang oleh seseorang. Benar, kan?" jawab Noel.


"Betul juga. Ah, jadi Oppa pertama kali ke sini juga bersama seseorang?"


"Iya. Tapi sekarang temanku itu sudah pindah ke luar kota. Jadi aku lebih sering datang ke sini sendirian. Lalu, bagaimana denganmu?" tanya Noel.


"Itu ... Dulu aku datang bersama pacarku. Tapi sekarang aku sudah putus dengannya," jelas Yun-bi.


"Maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu mengingat mantan kekasihmu," tutur Noel.


"Tidak. Itu bukan apa-apa," ucap Yun-bi.


"Em ... Oya, bagaimana dengan sahabatmu yang pernah kau ceritakan dulu. Kalian berbaikan, kan?" tanya Noel yang seketika teringat.


"Oppa masih ingat rupanya. Iya, kami sudah kembali berbaikan berkat saran dari Oppa," jawab Yun-bi.


"Syukurlah! Tidak. Aku hanya memberikan masukan yang berguna. Selebihnya itu kan keputusanmu," ujar Noel.


"Oppa, jika kau harus memilih antara cinta dan persahabatan, manakah yang akan Oppa pilih?" tanya Yun-bi.


"Menurutku, kedua hal itu bukanlah sesuatu yang bisa dipilih. Cinta dan persahabatan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa cinta semua orang akan bermusuhan. Dengan adanya cinta dan sahabat hidupmu akan jauh lebih berwarna. Meski kadang awan kelabu menyelimutinya, pelangi akan selalu muncul setelahnya," katanya.


"Bagaimana dengan hujan?" tanya Yun-bi.


"Hujan?! Hujan yang turun bukanlah masalah. Kau mungkin membenci hujan karena membasahi mu. Hujan mungkin menghambat perjalananmu. Tapi cobalah berhenti sejenak, perhatikan rintik hujan yang turun itu. Dengarkan suaranya! Kau akan menemukan kebahagiaan sendiri di dalamnya. Bukankah dari sanalah namamu berasal, Yun-bi?!" tutur Noel.


Yun-bi tertawa. "Oppa, memang tahu lebih banyak dariku."


"Pengalaman yang mengajari kita untuk mengetahui lebih banyak," ujar Noel sambil tersenyum.


"Terima kasih untuk pengalamannya, Oppa. Akan ku catat dalam pikiran ku!" kata Yun-bi.


"Hahaha ... Ah, aku sebaiknya pergi. Aku tidak mau mengganggu waktumu lebih lama. Nikmatilah pemandangan malam ini dengan hati gembira. Jangan sampai masa lalu mengusik waktu berhargamu!" pesan Noel. Dia sudah berdiri hendak segera meninggalkan Yun-bi.


"Sampai bertemu besok lagi, Oppa!" ucap Yun-bi.


"Ya! Annyeong!" Noel kemudian berjalan pergi.


Tinggallah Yun-bi sendiri yang masih duduk di tepian sungai menikmati pemandangan malam hari.


...☂️☂️☂️...


Di club malam, Hyun Su sedang duduk di depan meja bar sambil minum. Entah sudah berapa gelas minuman yang dia habiskan. Sama sekali tidak membuat perasaannya lebih baik. Dia sudah setengah mabuk. Seorang gadis berpakaian seksi menghampirinya.


"Bolehkah aku menemanimu minum, Oppa?" tanya gadis itu sambil menggosok pundak Hyun Su.


"Pergi kau!" usir Hyun-su.


"Bukankah tidak enak hanya minum sendiri? Biarkan aku menemanimu ya, Oppa! Aku juga bisa memberikan layanan lebih dari pada sekedar minum-minum," bisik gadis itu didekat telinga Hyun Su.


"Pergi kau! Dasar j*lang!" Hyun-su mendorong gadis itu dengan pelan namun gadis itu malah sengaja menjatuhkan dirinya.


"Aduh! Oppa, kau tidak perlu kasar begitu!" seru gadis itu dengan wajah dibuat kasihan.


Mendengar ada ribut-ribut, beberapa pria yang ada di dekat sana datang mendekat.


"Ada apa ini?" tanya salah seorangnya.


"Ini ... Oppa ini sangat tidak sopan sekali! Dia mendorongku sampai jatuh hanya karena aku tidak mau menemaninya minum," jawab gadis itu dengan wajah mencari simpati.


"Apa? Kurang ajar sekali!" Pria itu langsung tersulut emosi mendengarnya.


"Hei, kau jangan memutar balikkan fakta! Aku hanya mendorongmu dengan pelan. Kau yang jatuh sendiri. Lagipula kau yang memaksa ingin menemaniku padahal sudah ku tolak mentah-mentah!" Hyun-su berdiri dengan sempoyongan sambil berbicara pada gadis tersebut.


"Tidak. Dia yang berbohong! Lihat, dia sudah mabuk seperti itu. Memangnya dia masih ingat apa yang dia lakukan padaku barusan?" sanggah gadis itu.


"Benar! Siapa yang akan percaya dengan orang mabuk sepertimu! Kalian seret orang ini keluar dan hajar dia!" suruh pria itu pada temannya.


Hyun Su diseret dengan paksa keluar dari club kemudian dipukuli beberapa kali oleh orang-orang asing itu.


"Jangan sampai aku melihatmu menginjakkan kaki di sini lagi! Ingat itu!" ancam salah seorang dari mereka.


Hyun Su yang tersungkur dengan lebam di wajah perlahan bangun berdiri. Dia berjalan sempoyongan meninggalkan club itu.


bersambung......