
Suatu sore, Cassandra sedang berjalan-jalan menyusuri sepanjang Avenue of Stars. Dia mulai sering kemari jika teringat Hyun Su. Tak jauh di depannya, dia melihat Harlem sedang serius menatap layar ponselnya. Cassandra berjalan perlahan mendekat.
"Ternyata pemandangan kota HK memang tidak semenarik dengan apa yang ada di ponsel," ucap Cassandra tiba-tiba.
Harlem menoleh. Dia menyimpan ponselnya ke saku. "Aku tak menyangka akan melihatmu di sini!"
"Ini tempat favoritku untuk jalan-jalan," kata Cassandra.
"Aku pikir kau hanya senang menghabiskan waktu di sini dengan menatap layar ponsel," canda Harlem.
"Hahaha ... Kau juga melakukannya kali ini," balas Cassandra.
Keduanya berdiri menghadap ke laut.
"Bagaimana kabarmu? Kau tidak pernah datang ke toko lagi setelah mengembalikan pakaian Siwon," tanya Cassandra.
"Aku ... Seperti yang kau lihat sekarang. Aku agak malu untuk menemuimu lagi," tutur Harlem.
"Malu? Aku tidak salah dengar?" tanya Cassandra.
"Tidak. Tidak tahu apa yang ku pikirkan waktu itu, sehingga membuat pilihan yang tidak masuk akal. Masalahku sendiri tapi ingin menarik dirimu ikut ke dalamnya," tutur Harlem.
"Kau masih mau berteman dengan ku saja, itu sudah sangat bagus," lanjutnya.
Tiba-tiba dua orang wanita yang kebetulan lewat berhenti di depan keduanya. Seorang pria berpakaian rapi juga ikut berhenti di belakang mereka.
"Wah, lihat kita bertemu siapa hari ini?" seru wanita bernama Zhi Lin kepada ibunya.
Harlem dan Cassandra menoleh. "Zhi Lin! Bibi!" ujar Harlem yang nampak terkejut. Cassandra juga ikut menatap mereka.
Zhi Lin dan ibunya memandang Harlem dari kepala hingga ujung kaki. Penampilan Harlem memang tidak sebanding dengan pria berjas di belakang Zhi Lin.
"Ckckck ... Zhi Lin, lihat bagaimana penampilan Harlem sekarang! Bagaimana dia bisa menghidupimu kalau mengurus dirinya sendiri saja dia tidak mampu?!" cemooh ibu Zhi Lin.
"Harlem, apa kau masih jadi pengangguran?" tanya Zhi Lin yang hanya bermaksud mengejek.
"Aku tidak bisa bayangkan bagaimana kau hidup dengannya, Zhi Lin. Bagus sekali kau cepat putus dengannya!" kata ibu Zhi Lin pada putrinya.
"Benar, Ibu. Untunglah aku bertemu Leon," sahut Zhi Lin sambil merangkul mesra pria yang tadi di belakangnya.
Harlem hanya diam menunduk. Menahan malu dengan semua ucapan Zhi Lin dan ibunya.
"Leon pria yang baik. Tidak hanya tampan tapi juga mapan. Di usia yang muda begini saja dia sudah jadi pengusaha sukses. Dia benar-benar menantu idaman Ibu. Kau sangat beruntung, Zhi Lin!" puji ibu Zhi Lin.
Cassandra nampak mulai jengkel dengan ocehan ibu dan anak itu.
"Sayang, kau tidak ingin mengatakan sesuatu pada mereka?!" ucap Cassandra pada Harlem.
Harlem langsung menatap Cassandra. "Tidak."
"Kalau tidak, sebaiknya kita pergi saja!" Cassandra langsung merangkul lengan Harlem dan menariknya pergi sambil berkata, "Terlalu banyak bicara omong kosong juga tidak ada gunanya."
Zhi Lin dan ibunya hanya diam menatap kepergian Cassandra dan Harlem.
"Siapa wanita itu? Kurang ajar sekali!" ujar ibu Zhi Lin.
Setelah berjalan agak jauh Cassandra melepaskan tangannya. "Sorry!"
"Kenapa harus minta maaf? Aku yang harusnya berterima kasih telah menyelamatkan ku dari suasana yang tidak nyaman itu," kata Harlem sambil tersenyum kecil.
"Sekarang kau bisa tersenyum. Tadi kau seperti anak kecil yang hendak menangis dikepung Dinosaurus," ejek Cassandra.
"Hahaha ... Kalau benar Dinosaurus yang mengepung, aku pasti sudah berteriak dan lari bukan lagi diam," balas Harlem.
"Lain kali kalau tidak ingin melawan, sebaiknya pergi menghindar. Bukan hanya diam mematung, Tunjukkan harga dirimu sebagai seorang pria!" pesan Cassandra.
"Pria yang baik tidak akan menyakiti wanita," ujar Harlem.
Cassandra yang beberapa langkah di depan terpaksa berbalik.
"Aku mungkin bodoh. Tapi perasaan tidak bisa ditipu. Bagaimana bisa membalas perbuatan orang yang masih dicintainya? Apakah aku setega itu? Itu mungkin, jika aku tidak memiliki perasaan," kata Harlem.
"Aish, merepotkan. Kalau begitu aku akan membuatmu tidak memiliki perasaan! Ayo!" Cassandra menarik lengan Harlem.
"Ke mana?" tanya Harlem.
"Traktir aku makan! Kau janji akan mengajakku makan di tempat yang enak, kan?! Jangan bilang kau sudah lupa!" jawab Cassandra.
"Astaga! Aku mana mungkin lupa. Ayolah! Aku akan membawamu pergi makan sepuasnya!" ajak Harlem. Cassandra tersenyum. Keduanya pun pergi.
...☂️☂️☂️...
Hari-hari berlalu. Hubungan Harlem dan Cassandra juga semakin akrab. Mereka sering pergi ke luar jalan bersama, makan bersama, menghabiskan waktu bersama. Kehidupan Harlem juga mulai membaik. Dia mendapat pekerjaan yang cukup bagus. Dengan Cassandra yang selalu mendukungnya, Harlem mulai mendapat kepercayaan dirinya kembali.
Siwon yang melihat kedekatan Cassandra dengan Harlem pernah bertanya, "Kau pacaran dengannya?"
"Tentu saja tidak. Kami hanya berteman!" bantah Cassandra.
"Oya? Aku pikir kalian pacaran. Kalian sering menghabiskan waktu bersama. Kalau pacaran juga tidak apa-apa," kata Siwon.
"Kami hanya teman!" seru Cassandra.
Memang Cassandra hanya menganggap Harlem sebagai teman dekat saja. Dia hanya ingin membantu Harlem melupakan Zhi Lin secepatnya. Sedangkan dia sendiri tidak tahu kapan baru bisa melupakan Hyun Su. Sesekali Hyun Su masih sering muncul dalam mimpinya.
"Mungkin berteman dekat saja tidak cukup," keluh Cassandra di sela-sela waktu makan. Saat Harlem bercerita tentang perasaannya saat berpapasan dengan Zhi Lin lagi di jalan.
"Bagaimana kalau kita pura-pura pacaran saja?" Harlem mengusulkan.
"Pura-pura?" tanya Cassandra.
"Iya!"
Cassandra berpikir cukup lama sebelum memutuskan. "Tapi aku punya syarat," katanya.
"Apa syaratnya?" tanya Harlem.
"Tidak boleh melakukan hal-hal selain berpegangan tangan dan berpelukan. Selebihnya tidak boleh ada kontak fisik," jelas Cassandra.
"Oke. Deal!" Harlem menyetujui.
Waktu terus berjalan. Sandiwara itu juga terus berlanjut. Sampai pada sebuah insiden kecelakaan yang terjadi pada Cassandra membuat Harlem begitu cemas luar biasa. Dia dengan setia menemani Cassandra di rumah sakit. Hingga akhirnya Harlem menyadari bahwa dirinya sudah jatuh cinta kepada Cassandra. Jatuh cinta sungguhan, bukan lagi pura-pura. Sayang, Cassandra tidak menanggapinya. Sampai kemudian Cassandra kembali ke Seoul meninggalkan Harlem. Harlem nekat menyusul Cassandra dan mencarinya di Seoul demi membuktikan kesungguhannya.
...☂️☂️☂️...
Harlem masih menunggu di depan pintu ruang operasi. Berjalan mondar-mandir dengan cemas, kadang duduk sebentar dan berdiri lagi. Dalam hati terus berharap keberhasilan operasi Cassandra dan kesembuhannya.
Dokter baru berjalan keluar dari ruang operasi. Harlem bergegas menghampirinya.
"Bagaimana keadaan Cassandra, Dokter?"
"Tidak perlu khawatir. Operasi berjalan dengan lancar. Kita hanya perlu menunggu waktu sampai dia sadar kembali," jawab Dokter sambil tersenyum.
"Terima kasih, Dokter!" ucap Harlem dengan perasaan lega. Dokter lalu berjalan pergi.
bersambung.......
...☂️☂️☂️...
*Hai teman semua..... terima kasih sudah mengikuti cerita ku sampai di sini! Jangan lupa masukkan ke daftar Favorit supaya ga ketinggalan update ya! Dukung karya ku terus dengan Like & Vote! Kritik dan saran di komentar.
Terima kasih! Babayy.....