Melodies Of Rain

Melodies Of Rain
#DUA PULUH LIMA



Setelah Siwon pergi tinggallah Cassandra di rumah sendiri.


'Aku tidak tahu, aku akan bertahan sampai berapa lama. Waktuku terasa semakin sedikit. Langkahku mulai terasa berat. Aku harus meluruskan semua ini,' pikirnya.


Cassandra kembali ke kamarnya. Menarik kursi dan duduk di depan meja tulis. Dia menatap sepasang bros angsa yang tergeletak di atas meja. Dia menarik selembar kertas dan pulpen, kemudian mulai menulis sesuatu di kertas itu. Setelah selesai menulis dia melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam amplop beserta dengan salah satu bros angsa. Cassandra menyandarkan diri di kursi dan memejamkan mata. Sampai bel pintu terdengar berbunyi. Cassandra segera beranjak untuk membuka pintu. Begitu pintu terbuka nampak seorang pria yang sangat dikenalnya berdiri di sana.


"Sandra!" panggil Harlem. Dia langsung memeluk Cassandra. Wanita itu hanya diam saja.


Harlem melepas pelukannya. Pria itu memperhatikan Cassandra dari atas kepala hingga ke bawah kaki dengan seksama.


"Astaga, apa yang terjadi denganmu? Kau begitu pucat dan kurus! Apa kau sakit, Sandra?" tanya Harlem dengan begitu cemas.


"Masuklah dulu!" ajak Cassandra.


Keduanya duduk di ruang tengah.


"Harlem, terima kasih sudah mau datang menemui ku. Maaf soal waktu itu," ucap Cassandra.


"Tidak perlu meminta maaf, Sandra. Aku memang datang ke Seoul untuk mencari mu. Hanya saja kau terus menghindari ku. Sekarang apa yang terjadi padamu? Baru beberapa hari tidak melihatmu, kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Harlem dengan raut wajah sedih.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa bersalah. Mungkin aku juga telah mempermainkan perasaanmu," jawab Cassandra.


"Aku tidak merasa kau mempermainkan ku, Sandra. Bukankah ini kesepakatan kita sebelumnya?! Aku hanya tak bisa berbohong dan terus berpura-pura, jika pada akhirnya aku benar-benar jatuh cinta padamu. Aku yang mungkin terlalu berharap banyak padamu. Aku tahu, bagaimana pun perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku ingin kau tahu Sandra, bahwa semua yang ku lakukan saat ini bukan lagi pura-pura. Kau telah mengubah hidupku. Aku ingin kau tetap tinggal di sisiku. Aku ingin hubungan yang serius denganmu." Harlem menjelaskan dengan sungguh-sungguh.


"Kau lihat bagaimana aku sekarang. Apa kau masih ingin bersama aku yang seperti ini?" tanya Cassandra.


"Sandra, aku memang tidak tahu seberapa berat masalahmu. Selama kau tidak menghindari ku dan mau berbagi denganku, aku pasti akan membantumu melewati semua kesulitan ini," ucap Harlem sambil memegang tangan Cassandra.


"Benarkah?" tanya Cassandra. Ia melanjutkan, "Tapi ... jika kau ingin hubungan yang serius denganku, ada hal yang harus kau tahu. Aku tidak ingin menyembunyikannya darimu. Aku juga tak ingin kau menyesal."


Cassandra memberikan sebuah amplop besar pada Harlem. Kemudian berkata, "Harlem, setelah kau melihat ini, Kau mungkin akan terkejut. Kau boleh meninggalkan ku dan pergi. Aku tidak akan menahan mu. Aku juga tidak ingin memaksamu tinggal denganku hanya karena kasihan padaku. Aku tidak butuh belas kasihan."


Harlem segera membuka amplop itu lalu menatap Cassandra dengan wajah kaget sekaligus tak percaya.


"Ini ... Ini ...."


Harlem tak bisa mengatakan apa-apa. Dia langsung memeluk Cassandra.


"Kenapa ini harus terjadi padamu, Sandra? Kau tidak boleh pergi secepat ini! Kita harus segera melakukan pengobatan," katanya.


Cassandra melepas pelukan Harlem. "Aku sudah bilang padamu Harlem. Kau boleh meninggalkan ku. Aku tidak butuh belas kasihan. Aku hanya ingin ketulusan. Dengan begitu, jika aku pergi nanti, aku baru bisa pergi dengan tenang."


Harlem meraih tangan Cassandra dan menatapnya dengan penuh kesungguhan.


"Cassandra, apa aku terlihat seperti sedang mengasihani mu? Apa aku tega meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini? Jika aku melakukannya, maka akulah yang akan menyesal seumur hidup."


Harlem melanjutkan, "Ikutlah denganku kembali ke HK, Sandra! Kita akan ke rumah sakit terbaik di sana. Aku akan merawat dan menjagamu sampai kau sembuh. Kau harus sembuh!"


Cassandra tersenyum tipis. Dia melihat kesungguhan juga kecemasan di mata Harlem.


"Kau tidak menyesal dengan keputusanmu?" tanya Cassandra.


"Tidak, Cassandra. Aku mencintaimu! Aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi! Tolong, ikutlah denganku! Kau harus sembuh dari penyakit ini!" pinta Harlem dengan mata berkaca-kaca.



"Kau akan sembuh, Sandra! Kau pasti akan sembuh!" ucap Harlem dengan penuh keyakinan.


Hari itu juga Harlem langsung memesan tiket penerbangan ke HK dengan jadwal keberangkatan besok hari. Harlem membantu Cassandra mengemasi barangnya.


"Harlem, tolong jangan beritahu penyakit ku ini pada ayahku dan Siwon. Aku tak ingin mereka cemas. Paman dan Bibi Yoon juga jangan sampai mereka tahu. Kau bisa merahasiakan ini, kan?" pinta Cassandra.


"Iya. Aku tidak akan mengatakan apa-apa pada mereka," Harlem menyanggupi.


"Besok pagi aku harus berpamitan lagi dengan Appa. Selama aku di sini tidak menyempatkan waktu bersamanya. Semoga kelak kita bisa kembali," harap Cassandra.


"Kita pasti akan kembali lagi ke Seoul. Setelah kau sembuh. Kita akan pulang kembali, meluangkan lebih banyak waktu berkumpul bersama Appa," kata Harlem percaya.


"Terima kasih, Harlem!" ucap Cassandra. Harlem tersenyum.


Harlem akan kembali ke hotel, tapi dia tidak bisa meninggalkan Cassandra sendiri dengan kondisinya sekarang. Dia meminta Cassandra ikut dengannya tapi Cassandra menolak. Dia harus membereskan beberapa barang karena rumah akan kembali dikosongkan untuk waktu yang lama. Harlem mengetahui Cassandra juga tinggal sendiri di rumah. Meski hanya semalam, dia tetap tidak tenang meninggalkannya sendirian.


"Kalau kau cemas, menginap lah di sini!" usul Cassandra.


"Ah, itu terdengar lebih baik. Kalau begitu aku harus check out dari hotel dan mengambil barang ku sekarang. Tidak apa ku tinggal sebentar kan?" ujar Harlem.


"Tidak apa-apa," jawab Cassandra.


"Aku tidak akan lama." Harlem mengusap rambut Cassandra dan dia pun pamit ke luar sebentar.


Tak lama setelah Harlem pergi, Siwon datang. "Bagaimana keadaanmu, Sora? Aku bawakan makanan untukmu," tanya Siwon.


"Terima kasih. Aku sudah lebih baik," jawab Cassandra.


"Apa Harlem datang kemari?" tanya Siwon.


"Iya. Dia kembali ke hotel untuk mengambil barangnya. Sebentar lagi dia akan kembali. Aku menyuruhnya menginap di sini!" jelas Cassandra.


"Oh, apa itu berarti ada berita baik?" tebak Siwon.


Cassandra tersenyum. "Besok kami akan kembali ke HK!"


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Siwon penasaran.


"Harlem sudah cukup lama di sini. Bukankah tujuannya ke Seoul memang untuk menemui ku? Aku sudah memikirkannya. Aku akan pergi bersama Harlem. Lebih baik bersama pria yang dengan jelas membuktikan cintanya, bukan?" ujar Cassandra sambil menatap Siwon.


"Hah, kau sekarang menyadari itu? Bagaimana dengan Hyun Su?" tanya Siwon.


"Aku tetap akan berpamitan dengannya besok. Aku juga harus berpamitan dengan Appa. Dan oh ya ..." Cassandra mengambil amplop surat di sudut meja dan memberikannya pada Siwon.


"Siwon, tolong berikan ini pada Yun-bi. Sepertinya aku tidak akan punya cukup waktu untuk bertemu dengannya. Aku harap dia bisa mengerti," kata Cassandra.


"Akan ku berikan padanya," jawab Siwon.