Melodies Of Rain

Melodies Of Rain
#EMPAT PULUH



Malam sudah semakin larut. Yun-bi pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Sementara di jalan lain Hyun Su berjalan sempoyongan tanpa arah tujuan. Dia bernyanyi sambil sesekali tersenyum sendiri.


Tak disangka di tengah perjalanan pulang, Yun-bi bertemu lagi dengannya. Yun-bi menghentikan langkahnya. Dia menatap mantan kekasihnya yang seperti orang gila ditambah lagi dengan wajah babak belur. Hyun Su baru menyadari kehadiran Yun-bi saat dia berjalan lebih dekat. Hyun Su nampak terdiam sesaat. Namun kemudian dia tertawa dengan aneh pada Yun-bi sebelum akhirnya meneruskan langkah.


"Apa kau akan terus seperti ini?" seru Yun-bi membuat Hyun Su seketika menghentikan langkahnya.


"Lihatlah dirimu sekarang! Apa kau akan terus menyiksa dirimu terus seperti ini?" teriak Yun-bi.


Hyun-su berbalik. "Apa urusannya denganmu? Kenapa kau ... bukankah kau seharusnya membenciku? Jangan berharap terlalu banyak dariku!" tanyanya.


Yun-bi meremas tangannya. "Kau menjadi seperti orang bodoh hanya karena kehilangan seorang wanita. Dari pada mensia-siakan hidupmu, kenapa tidak gunakan lutut mu untuk berjalan sampai ke tempatnya berada?! Mungkin saja setelah dia melihatnya, dia akan luluh dan kembali padamu," cibir Yun-bi.


"Sekarang kau yang terdengar seperti orang bodoh! Sebelum aku sampai ke tempatnya, lutut ku pasti sudah cedera dan patah lebih dulu. Bagaimana bisa dia melihatku dan hatinya menjadi luluh? Hahaha ...," balas Hyun Su diikuti tawa mengejek.


"Lantas apa bedanya dengan semua yang kau lakukan sekarang? Mensia-siakan hidup, mabuk-mabukan, bernyanyi di jalan dengan wajah babak belur seperti orang tidak waras. Memangnya yang kau lakukan ini berguna? Bisa meluluhkan hatinya? Bisa dilihat olehnya? Bahkan langit pun tidak akan terharu. Lihat dirimu sekarang! Betapa menyedihkannya!" ujar Yun-bi.


Hyun-su menghentikan tawanya. "Bukankah kau senang melihatku yang menyedihkan seperti ini? Tertawalah! Kau boleh menertawai ku dengan keras. Aku memang menyedihkan. Mau bagaimana lagi? Mau membenciku? Silahkan! Hahaha ...." Dia kembali tertawa sambil memegang kepalanya.


"Aku memang seharusnya membencimu. Aku seharusnya tidak memperdulikan mu. Tapi setidaknya aku masih memiliki hati sebagai seorang manusia. Jangan pikir karena aku menolong mu lantas aku memaafkan mu. Aku hanya tidak ingin menanggung dosa karena membiarkan orang bodoh mati di jalan," tutur Yun-bi dengan tajam. Dia kemudian menghela nafas.


"Sudahlah! Lakukan saja semuanya sesukamu. Lain kali jika berpapasan seperti ini lagi, aku akan berpura-pura tidak melihat." Yun-bi berbalik dan berjalan pergi.


Sedang Hyun-su masih berdiri mematung di tempatnya.


'Apa yang ku katakan? Kenapa harus bertemu lagi dengannya? Kenapa aku harus peduli padanya? Dia mau melakukan apa, itu urusannya. Ayolah Yun-bi, lain kali kau harus berpura-pura tidak melihat,' batin Yun-bi dalam hati.


Memang sulit baginya memaafkan Hyun Su. Namun kadang kala perasaan kasihan muncul mana kala Yun-bi tanpa sengaja bertemu dengannya dan melihat orang yang pernah dicintainya itu menjadi begitu menyedihkan seperti sekarang.


Hyun-su berjalan dengan pelan sambil berusaha mencerna kata-kata Yun-bi. Dia memang sedikit mabuk, tapi tidak sepenuhnya kehilangan akal. Dia menghentikan langkah dan terduduk di sudut jalan yang sepi. Hyun Su menundukkan kepalanya. Kata-kata Yun-bi seperti sebuah tamparan keras. Menyadari kini apa yang dia lakukan ini memang tidak berguna sama sekali. Dia mengangkat kepalanya menatap langit malam yang gelap. Nampak bayangan wajah Cassandra yang menatap ke arah lain sedang tersenyum bahagia. Hyun Su semakin merasa sedih.


"Kau saja bisa pergi meninggalkanku dengan begitu mudah. Kau saja bisa tersenyum bahagia bersama orang lain. Kenapa aku tidak bisa? Kenapa aku malah harus tersiksa dengan perasaan ini?" tanya Hyun Su pada bayangan Cassandra yang dilihatnya.


Perlahan bayangan Cassandra memudar. Hyun Su kembali tertunduk dengan perasaan sedih yang berkecamuk di hatinya.


"Arghhh ...." Dia berteriak dengan kuat menghalau suara Cassandra dari pikirannya sembari memegang kepalanya.


"Baik. Kau pergilah! Pergi! Tertawalah dan bahagialah di sana! Semua memang salahku! Salahku! Hu ... Hu ...." Hyun-su hanya bisa meratapi semuanya sambil menangis.


Hujan tiba-tiba saja turun. Yun-bi yang masih di jalan segera berlari untuk berteduh. Dia menatap langit yang tanpa bintang.


'Tadi langitnya cerah. Kenapa tiba-tiba saja turun hujan? Apa si bodoh itu masih berada di sana? Ah, kenapa aku harus memikirkannya?' batin Yun-bi.


Sementara Hyun Su masih tidak beranjak dari tempat duduknya. Membiarkan hujan membasahi dirinya. Berharap hujan tidak hanya menghapus air matanya tapi juga menghapus semua kesedihannya.


...☂️☂️☂️...


"Hatchiuuu ... Aduh, kepalaku ... Ini pasti karena kehujanan kemarin."


Hyun Su merasakan kepalanya yang begitu sakit. Tidak hanya kepala bahkan seluruh badannya terasa nyeri. Hyun Su memaksakan diri untuk bangun. Dia berjalan ke dapur, membuka kulkas untuk melihat apa yang masih tersisa di dalam kulkas. Kulkas justru nampak kosong.


Dia bahkan sampai lupa sudah berapa lama tidak masuk ke dalam dapur rumahnya sendiri. Sejak kepergian Cassandra dia memang jarang pulang. Jika pulang pun hanya untuk tidur. Itu pun tidurnya di sofa, setelah itu pergi lagi. Dia menutup kembali pintu kulkas. Untungnya masih tersisa sebungkus Ramyeon yang bisa dimasak. Setelah makan pun tidak mengurangi rasa sakit kepala dan nyeri di seluruh badannya. Hyun Su pun memutuskan minum obat.


Selang beberapa jam, obat yang diminum tidak memberikan efek apa-apa. Sekarang dia malah menggigil kedinginan padahal cuaca sedang hangat. Hyun Su memeriksa suhu tubuhnya sendiri. Suhu tubuhnya cukup tinggi.


"Sepertinya memang demam," gumamnya.


Hyun Su meraih ponselnya hendak menghubungi Min Jun. Namun dia langsung berhenti dan meletakkan ponsel itu kembali. Teringat dengan apa yang telah dia lakukan pada Sunny, Hyun-su berpikir sekarang Min Jun pasti tidak akan memaafkannya. Padahal dulunya Min Jun akan selalu datang menolongnya jika dia butuh bantuan. Bahkan ketika sedang sakit, Min Jun pasti akan memaksanya berobat dan mengantarnya ke dokter. Tapi sekarang tidak ada lagi Min Jun yang membantunya. Hyun-su jadi merasa menyesal.


"Ternyata kehilangan seorang sahabat baik jauh lebih menyedihkan dari pada kehilangan seseorang yang dicintai. Bagaimana pun sahabat baik akan selalu ada ketika kau membutuhkannya. Dia akan datang saat kau dalam kesulitan."


Hyun Su akhirnya menelepon taksi untuk mengantarnya ke dokter.


bersambung....