
πππππ πΌππ πΉππ
Ting ... Tong ... Ting ... Tong ...
"Sebentar!" Terdengar teriakan Min Jun dari balik pintu rumah.
Saat Min Jun membuka pintu, dia menatap pria yang berdiri di sana dengan wajah masam.
"Ternyata kau. Masih punya muka untuk datang kemari, heh?" sindir Min Jun pada Hyun Su.
"Min Jun ...," ucap Hyun Su.
"Kau mau apa lagi?" tanya Min Jun dengan nada kurang bersahabat.
"Min Jun, aku datang untuk meminta maaf!" ucap Hyun Su dengan sungguh-sungguh.
"Apa maaf saja bisa menyelesaikan masalah?" tanya Min Jun. "Apa kata maaf bisa membuat adikku melupakan perbuatan mu?"
"Aku tahu aku salah. Waktu itu aku benar-benar tidak sadar. Yang ku lihat saat itu adalah Cassandra. Aku salah mengira Sunny adalah Cassandra. Sehingga aku ... Tapi aku benar-benar menyesali semua perbuatan ku. Tolong, maafkan aku, Min Jun! Aku sungguh menyesal." Hyun Su memohon dengan sungguh-sungguh.
"Sekarang aku tidak punya apa-apa lagi. Aku kehilangan pekerjaan bahkan kehilangan satu-satunya teman terbaikku yaitu dirimu. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan sekarang. Setidaknya aku telah meminta maaf padamu. Meskipun kau tidak mau memaafkan ku. Aku mengerti. Setidaknya dengan begini aku bisa sedikit tenang. Maaf, jika sudah mengganggu waktumu. Aku akan pergi sekarang." Hyun Su membalikkan badannya hendak pergi.
"Hei, tunggu!" seru Min Jun.
Hyun Su berhenti. Dia berbalik menatap Min Jun.
"Apa kau benar-benar menyesali perbuatan mu?" tanya Min Jun.
"Aku sungguh menyesali kebodohan ku. Kau boleh membenciku atau memusuhiku jika kau mau," jawab Hyun Su. Dia sudah pasrah dengan keputusan Min Jun apakah akan memaafkannya atau tidak.
"Aku beri kau satu kesempatan! Kau harus meminta maaf secara langsung kepada Sunny. Jika dia bisa memaafkan mu, aku juga akan memaafkan mu. Begitu juga sebaliknya," terang Min Jun.
"Terima kasih, Min Jun. Aku akan sungguh-sungguh meminta maaf pada Sunny," ucap Hyun Su.
"Hari ini dia tidak di sini. Datanglah tiga hari lagi!" suruh Min Jun.
"Baik. Aku akan datang lagi nanti. Terima kasih, Min Jun. Kalau begitu aku pergi dulu." Hyun Su berbalik dan berjalan pergi. Min Jun hanya menatap kepergiannya saja.
...βοΈβοΈβοΈ...
Yun-bi baru tiba di cafe. Beberapa temannya nampak berkumpul di dekat meja barista. Hanya Aira yang sendiri di depan meja kasir sambil membersihkan meja.
"Pagi, Aira!" sapa Yun-bi.
"Pagi," jawab Aira.
"Ada apa? Kenapa semua berkumpul di sana?" tanya Yun-bi.
"Biasa. Berkenalan dengan pegawai baru," jawab Aira seadanya.
"Oya? Ada pegawai baru? Terus, kenapa kau sendiri di sini? Kenapa tidak ikut berkenalan dengan pegawai baru itu?" ujar Yun-bi dengan semangat.
"Aku sudah berkenalan dengannya," jawab Aira. Matanya menatap Yun-bi dengan cemas.
"Orangnya seperti apa? Pria atau wanita?" tanya Yun-bi.
"Kau lihat saja sendiri!" jawab Aira dengan serius. Dia lalu meninggalkan Yun-bi.
"Kenapa dengannya?" gumam Yun-bi.
Tuan Chan datang dan melihat semua pegawainya yang berkumpul tak seperti hari biasanya.
"Selamat pagi, Tuan Chan!" sapa Yun-bi. Karena dia yang lebih dulu melihat kedatangan bos-nya.
"Pagi. Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi sudah pada berkumpul?" tanyanya.
Para pegawai yang mendengar kedatangan bos mereka lalu memberi salam dan membubarkan diri.
Yun-bi langsung membelalakkan matanya. Mana kala melihat Hyun Su mengenakan seragam yang sama dengannya.
"Pagi. Kau datang tepat waktu di hari pertama bekerja," jawab Tuan Chan.
"Tentu saja. Ini hari pertama ku bekerja. Aku tentu tidak boleh terlambat," ujar Hyun-su.
"Bagus. Tetap pertahankan!" balas Tuan Chan sambil mengangguk.
"Oya, Yun-bi, ini pegawai baru kita hari ini Namanya ...."
"Lee Hyun Su," sambung Hyun Su.
"Ah iya. Maklum sudah tua, ingatan mulai kurang bagus. Kau sudah berkenalan dengan semuanya?" tanya Tuan Chan pada Hyun Su.
"Sudah, Tuan," jawab Hyun Su.
"Bagus. Jika ada hal yang tidak kau mengerti bertanyalah pada Yun-bi atau yang lainnya. Mereka akan membantumu!" pesan Tuan Chan.
"Baik, Tuan!" jawab Hyun Su.
"Nah, Yun-bi, karena Hyun Su masih baru kau juga harus banyak membantunya, ya!" kata Tuan Chan pada Yun-bi.
"Iya, Tuan," jawab Yun-bi tak bersemangat.
"Baiklah. Selamat bekerja! Semoga kau betah bekerja di sini, Hyun Su!" ujar Tuan Chan.
"Iya, Tuan. Aku akan berusaha," jawab Hyun-su.
Tuan Chan berjalan pergi. Yun-bi juga berjalan pergi meninggalkan Hyun Su sambil membuang muka.
"Yun-bi," panggil Hyun Su.
Yun-bi berhenti. Dia membalikkan badan. "Bukankah pernah ku katakan, jika kita bertemu lagi aku akan berpura-pura tidak mengenalimu!"
"Maaf," ucap Hyun Su serba salah.
Yun-bi kembali berjalan pergi. Dia mengambil appron hitamnya dan mulai melakukan pekerjaannya.
Chae-ri mendekati Hyun Su ketika melihat pria itu hanya seorang diri. "Hai, namaku Chae-ri. Senang berkenalan denganmu, Oppa!"
"Senang berkenalan denganmu juga, Chae-ri. Kau boleh memanggil ku Hyun Su saja," balas Hyun Su.
"Ah, baiklah. Ngomong-ngomong, Hyun Su, kalau ada yang tidak kau mengerti di sini, katakan saja padaku. Aku akan membantumu!" pesan Chae-ri sambil tersenyum manis.
"Terima kasih, Chae-ri. Kalau begitu, mohon bantuannya!" ucap Hyun Su.
"Eng." Chae-ri mengangguk. "Mari, kita bekerja!"
πππππ πΌππππ πππππ
Yun-bi dan Aira makan siang bersama. Aira memperhatikan Yun-bi yang nampak tak bersemangat dengan makannya.
"Apa pegawai baru itu merusak suasana hatimu?" tanya Aira.
"Tidak juga," jawab Yun-bi.
"Tidak juga ... berarti iya," ujar Aira.
Yun-bi menatap Aira. Kemudian menghela nafas. "Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya." Yun-bi lanjut melahap makanannya lagi.
Aira hanya menatap Yun-bi tanpa mengatakan apa-apa. Dia juga tidak ingin mengganggu Yun-bi dengan pikirannya sendiri.
Usai makan siang, mereka kembali bekerja. Pengunjung juga ramai jadi baik Yun-bi atau Hyun Su disibukkan dengan tugas masing-masing. Hyun Su yang masih baru hanya mencatat pesanan dan memberikannya pada Noel. Dia juga bertugas membereskan meja setelah pengunjung pergi. Di hari pertama, dia melakukan pekerjaannya dengan baik bahkan tanpa satu kesalahan pun sehingga mendapat pujian dari Tuan Chan.
bersambung...