Melodies Of Rain

Melodies Of Rain
#TIGA PULUH ENAM



Hari telah gelap. Tanpa disadari Hyun Su tertidur di halte. Dia terbangun saat suara klakson yang keras dari bus mengagetkannya. Supir di dalam bus berteriak padanya. "Anak muda, mau naik tidak? Ini bus terakhir menuju jalan XX."


"Tidak. Terima kasih," balas Hyun Su.


Bus pun melaju pergi dari halte. Hyun Su mengeluarkan ponselnya. Kali ini dengan penuh keberanian dia akhirnya mencoba menghubungi Cassandra.


'Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan! Tut tut tut ...'


"Ah ...," desah Hyun Su.


Nomor Cassandra sudah tidak aktif. Hyun Su mengacak rambutnya dengan kasar. Entah apa yang harus dilakukannya sekarang. Dia pergi meninggalkan halte. Hyun Su merasa sangat lelah. Seharian ini dia tidak minum atau makan apapun. Setelah meninggalkan rumah Min Jun, dia duduk termenung sampai ketiduran di halte. Benar-benar seperti orang yang sudah putus asa.


Jalan yang dilaluinya cukup sepi. Dia berjalan sambil menundukkan kepala. Dua orang pemuda yang setengah mabuk berjalan sempoyongan dari arah berlawanan. Mereka sama-sama tidak memperhatikan jalan sehingga tanpa sengaja bahu salah seorang pemuda menubruk bahu Hyun Su.


"Apa-apaan kau ini? Tidak punya mata, ya?" Pemuda yang menubruk Hyun Su itu rupanya tidak terima. Dia menyalahkan Hyun Su kemudian mencengkeram kerah bajunya.


"Pukul saja! Biar tahu rasa dia. Berani-beraninya cari gara-gara dengan kita," teriak teman pemuda itu untuk memanas-manasi.


Pemuda tersebut langsung melayangkan pukulan ke wajah Hyun Su. Hyun Su yang tersungkur langsung dipukuli bertubi-tubi oleh kedua pemuda yang setengah mabuk itu. Hyun Su hanya bisa meringkuk melindungi kepalanya.


Kebetulan saat itu Yun-bi hendak lewat. Dari kejauhan dia melihat ada orang yang dipukuli, Yun-bi segera memikirkan cara untuk menolong orang yang dipukuli itu.


"Cepat lari! Ada polisi!" teriak Yun-bi yang tiba-tiba berlari ke arah pemuda-pemuda tersebut.


Kedua pemuda itu segera melarikan diri dengan cepat. Yun-bi berpura-pura lari melewati orang yang dipukuli itu. Sampai kedua pemuda tersebut tak terlihat lagi. Dia kembali ke tempat Hyun Su yang masih sedang meringkuk di jalan. Dia tidak tahu kalau orang itu adalah Hyun Su.


"Hei, apa kau baik-baik saja?" Yun-bi mendekat sedikit menunduk di depan Hyun Su.


Hyun Su mulai bergerak. Dia terlihat sedang berusaha berdiri sambil menahan sakit. Yun-bi segera membungkuk untuk membantu. Yun-bi memegang lengan Hyun Su untuk membantunya berdiri. Ketika Hyun Su mengangkat kepalanya, Yun-bi langsung terkejut dengan mulut terbuka. Luka memar nampak jelas di wajah mantan kekasihnya itu.


"Hyun Su?"


Hyun Su yang merasa malu kembali menundukkan kepala. "Aku tidak apa-apa."


Hyun Su melepaskan tangan Yun-bi. Dia hendak berjalan pergi namun baru selangkah tubuhnya hampir ambruk. Untungnya Yun-bi segera menopangnya.


"Kau ... terluka. Malam ini kau menginap di rumahku dulu saja. Biar aku bantu mengobati lukamu. Dengan kondisi mu yang seperti ini, kau juga tidak mungkin bisa berjalan jauh sendiri," usul Yun-bi dengan niat menolong.


Hyun Su merasakan kepalanya yang berputar-putar. Kali ini dia tidak bisa menolak. Mau tidak mau dia harus menerima bantuan Yun-bi.


Yun-bi memapah Hyun Su sampai ke rumahnya. Dia mendudukkan Hyun Su di sofa kemudian pergi mengambil kotak obat. Yun-bi segera kembali dan langsung mengobati luka-luka Hyun Su. Sesekali Hyun Su meringis kesakitan ketika Yun-bi mengoleskan obat ke lukanya. Meski dengan jarak begitu dekat, keduanya tidak berbicara. Yun-bi selesai mengobati luka Hyun Su. Dia merapikan kembali kotak obatnya.


"Apa kau sudah makan?" tanya Yun-bi.


Hyun Su hanya menggelengkan kepala dengan pelan. "Aku tidak bisa makan. Kepalaku ... sangat sakit," jawab Hyun Su pelan.


Yun-bi menghela nafas. Dia tidak mengatakan apa-apa dan langsung masuk ke dalam rumah.


Beberapa saat kemudian Yun-bi kembali dengan nampan berisi semangkuk nasi hangat juga lauk, segelas air putih dan obat. Dia meletakkannya di dekat Hyun Su.


Yun-bi kembali dengan bantal dan selimut. Melihat Hyun Su yang sedang makan dengan begitu pelan. Yun-bi meletakkan bantal dan selimutnya di sofa. Meski dia belum memaafkan Hyun Su tapi melihatnya menjadi seperti ini, ada sedikit rasa iba di hatinya. Yun-bi meninggalkan Hyun Su sendiri. Hyun Su hanya menatap punggung Yun-bi yang menghilang ke dalam. Dia meletakkan mangkok nasinya. Tiba-tiba dia terisak menangisi keadaan dirinya.


Hari telah pagi. Yun-bi baru selesai merapikan diri. Saat dia keluar untuk melihat Hyun Su, ruangan itu sudah kosong. Bantal dan selimut juga tersimpan rapi di sofa. Yun-bi menemukan secarik kertas di atas meja.


'Yun-bi, terima kasih untuk semua kebaikanmu kemarin. Padahal selama ini aku memperlakukanmu dengan kurang baik. Tapi kau masih mau menolongku. Terima kasih! Aku hanya bisa meminta maaf atas apa yang pernah ku lakukan padamu. Aku sungguh minta maaf.'


Yun-bi meremas kertas itu. "Apakah aku harus memaafkanmu?"


...☂️☂️☂️...


𝙳𝚒 𝚛𝚞𝚖𝚊𝚑 𝚃𝚞𝚊𝚗 𝙺𝚒𝚖.


Siwon sedang merapikan rambutnya. Hari ini akan ada pengusaha besar yang datang berkunjung ke toko Tuan Kim. Pengusaha tersebut juga merupakan kenalan pamannya. Sehari sebelumnya Tuan Kim sudah memberitahu Siwon agar dia juga mempersiapkan diri. Karena pengusaha tersebut juga berencana membeli beberapa furniture dari toko Tuan Kim. Tentu saja harus furniture yang berkualitas tinggi.


Usai merapikan rambut, Siwon menarik laci mejanya untuk mengambil jam tangan. Namun jam tangannya tidak berada di laci. Dia mencari di dalam lemari juga tidak menemukannya. Siwon mencoba mengingat ke mana dia meletakkan jam tangannya saat terakhir kali dipakai. Namun dia sama sekali tidak bisa mengingatnya. Dia pun mencari di tempat lain namun tetap saja tidak menemukannya.


'Ah, apa jangan-jangan tertinggal di rumah Sora?' pikir Siwon.


Dia melirik jam di dinding kamarnya, sayangnya tidak ada waktu lagi untuk ke sana. Di tambah lagi dia masih harus mencarinya di sana.


"Siwon, apa kau sudah siap?" tanya Tuan Kim dari luar.


"Iya, paman! Aku datang," jawab Siwon.


Dia pun menunda kepergiannya ke rumah Cassandra karena Tuan Kim sudah memanggilnya untuk berangkat.


bersambung....


...🎊...


...🎊...


...🎊...


...🎊...


Hai, teman-teman.... Bertemu lagi setelah sekian lama. Buat teman-teman yang sudah setia mengikuti cerita ini dan menunggu up sampai sekarang, aku benar-benar mengucapkan banyak-banyak terima kasih! Kali ini aku akan berusaha untuk menyelesaikan cerita ini sampai ending. Mohon dukungannya ya!


...🎊...


...🎊🎊...


...🎉Selamat Tahun Baru! 🎉...