Melodies Of Rain

Melodies Of Rain
#EMPAT



Pukul sebelas malam, Yun-bi pulang bekerja. Ia melangkahkan kakinya ke luar dari cafe. Saat itu dia melihat Hyun Su berdiri di depan pelataran toko yang sudah tutup, tak jauh dari cafe. Hyun Su melemparkan senyumnya begitu melihat Yun-bi. Yun-bi sedikit kebingungan namun membalas senyumnya. Lalu Hyun Su berjalan mengikuti langkah Yun-bi.



"Baru pulang?" tanyanya.


"Iya. Apa yang kau lakukan di sini?" Yun-bi balik tanya.


"Kebetulan lewat jadi sekalian menunggu," jawab Hyun Su berbohong padahal dia memang sengaja menunggu Yun-bi.


"Memangnya kau dari mana tengah malam begini?" tanya Yun-bi heran juga karena tak yakin Hyun Su baru pulang bekerja.


"Tadi aku ke rumah teman di jalan A. Kebetulan mereka membuat acara barbeque sampai larut malam. Sampai sekarang pun mereka masih berkumpul di sana. Hanya aku harus bekerja besok pagi jadi aku memilih pulang lebih dulu," terang Hyun Su dengan cerita yang dikarangnya sendiri.


Yun-bi menganggukkan kepala, percaya saja pada cerita Hyun Su. "Kalau boleh tahu ... apa pekerjaan mu, Hyun Su?" tanyanya.


"Aku pegawai di perusahaan advertising," jawab Hyun Su.


"Ooh ...." gumam Yun-bi.


Dalam perjalanan pulang keduanya asyik berbicara sedikit bertukar cerita tentang diri masing-masing.


...☂️☂️☂️...


Akhir-akhir ini Hyun Su sering terlambat bangun karena tidur larut. Dia juga jadi terlambat masuk kerja. Memang kadang pekerjaannya tidak mengharuskannya duduk diam di kantor. Biasanya dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Min Jun yang juga sering membantu menyelesaikan pekerjaannya. Setelah percakapannya dengan Min Jun di cafe waktu itu, Hyun Su dan Min Jun agak jarang bertemu.


Min Jun yang kenal betul sifat Hyun Su memilih untuk tidak ikut campur sementara Hyun Su masih sibuk menarik perhatian dari Yun-bi.


Hyun Su sedang termenung di meja kerjanya. Menatap kosong pada kertas di atas meja. Sementara pikirannya melayang jauh kemudian jatuh pada sosok Yun-bi. Hyun Su jadi bertanya sendiri.


'Kenapa jadi memikirkannya? Benarkah aku tertarik padanya? Apa tertarik itu sama dengan cinta?'


...☔☔☔...


Hari ini hujan turun sejak petang hingga malam hari pun belum juga mereda. Jalanan yang biasanya ramai orang jadi sepi. Cafe pun ikut sepi karena tak ada pengunjung. Yun-bi duduk di dekat jendela sambil menatap keluar. Meskipun tidak ada hal menarik yang bisa dilihat selain rintik hujan yang turun. Melihat rintik hujan itu seketika Yun-bi jadi teringat saat ia berteduh dari hujan di halte bis. Saat melihat Hyun Su yang belum dikenalnya basah kuyup. Yun-bi masih sempat kasihan padanya meski kemudian ia bertingkah sedikit konyol. Namun ia juga bersyukur karena Hyun Su di sana menemukan bros-nya.


'Ah, kenapa aku jadi kepikiran Hyun Su?!' Yun-bi bertanya pada hatinya. Dan kembali termenung.


Tanpa ia sadari seseorang datang dan langsung duduk di kursi kosong depannya.


"Sedang memikirkan sesuatu, Agassi?!" tanyanya.


Sontak Yun-bi menoleh. Ia tertegun dengan tangan memangku wajah menatap Hyun Su yang sedang tersenyum hangat padanya. Yun-bi merasa bahwa gambaran Hyun Su dalam lamunannya nampak begitu nyata ada di depannya. Namun tiba-tiba ia tersadar kalau itu memang Hyun Su. Ia mengedipkan matanya dan berkata dengan gugup.


"Sedikit bernostalgia."


"Nostalgia tentang orang yang spesial?" tanya Hyun Su.


Yun-bi tidak menjawab malah langsung berdiri. Ia teringat akan janjinya.


"Oh iya, aku bilang akan mentraktir mu minum kopi. Tunggu sebentar ya akan ku buatkan," katanya sambil bergegas menuju meja barista dengan hati berdebar-debar.


Tak lama ia kembali dengan segelas Macchiato. Ia menaruhnya di depan meja Hyun Su.


"Secangkir Macchiato spesial, silahkan dinikmati!" ucap Yun-bi. Ia hendak berbalik membawa nampannya namun Hyun Su menghentikan langkahnya.


Yun-bi berbalik dan kembali duduk di tempatnya semula. "Pertanyaan apa?"


"Nostalgia tentang orang yang spesial?!" Hyun Su mengulangi pertanyaannya tadi.


"Tidak ada orang yang spesial!" jawab Yun-bi


"Tidak ada? Atau ... belum ada?" Hyun Su mengulangi ucapan Yun-bi mencerna maksudnya.


Yun-bi tersenyum. "Ngomong-ngomong, kenapa hujan begini kau masih kemari?" tanyanya mengubah topik.


"Aku ingat seseorang yang pernah berjanji padaku jadi aku datang untuk menagih janjinya. Apalagi di saat hujan begini aku jadi ingin segelas minuman hangat," jawab Hyun Su lalu mencoba minumannya.


"Enak. Kamshanida!" pujinya.


"Kau sangat pandai berbicara. Tapi kelihatannya kau tidak basah kuyup? Apa kau memeras bajumu seperti waktu itu?!" ejek Yun-bi mengingat tingkah konyol Hyun Su.


Hyun Su mengernyitkan keningnya mencoba mengingat.


"Oh itu ... Ya, ya ... Tentu saja tidak. Aku datang dengan payung yang lumayan besar. Itu melindungi ku sepenuhnya dari hujan. Jika kau mau aku juga bisa memberimu tumpangan payung gratis," goda Hyun Su sambil tertawa.


"Ngomong-ngomong kau masih ingat saja bagian itu!" tambahnya sambil tersenyum konyol.


"Akan ku pikirkan nanti tawaranmu," balas Yun-bi.


Hujan tetap belum reda meski sudah larut. Pengunjung yang datang pun tidak ada selain Hyun Su yang masih berada di sana. Akhirnya Tuan Chan menutup cafenya lebih awal. Teman kerja Yun-bi yang tidak membawa payung terpaksa berteduh menunggu hujan sedikit reda. Sedangkan Yun-bi ....


"Sekarang apa kau akan menerima tawaranku?" tanya Hyun Su dengan senyum kemenangan. Di tangannya sudah siap dengan sebuah payung besar.


"Sepertinya aku tidak punya pilihan untuk menolak," Yun-bi pasrah.


Keduanya pun berjalan pulang dengan payung yang dipegang Hyun Su. Di bawah payung jarak antara keduanya jadi sangat dekat. Yun-bi merasakan kembali jantungnya yang berdebar. Dia tidak berani menatap langsung ke arah Hyun Su. Selain Yun-bi yang malu-malu, rasa-rasanya wajah Hyun Su berada tepat di hidungnya jika ia menoleh. Apalagi kecepatan jantungnya tak bisa dikontrol saat ini. Bisa-bisa ia justru pingsan di tempat. Begitu pikiran konyol Yun-bi. Hyun Su mengantar Yun-bi sampai di depan apartemennya. Karena Hyun-su tak tega membiarkan Yun-bi kehujanan sendiri. Hujan malam ini membawa kegembiraan kecil bagi Yun-bi.



...☔☔☔...


Lama tidak mendapat kabar dari Hyun Su, pagi ini Min Jun mampir ke rumahnya. Cukup lama ia mengetuk pintu sampai Hyun Su yang baru bangun membukakan pintu untuknya.


"Sepertinya kau sibuk sekali belakangan ini. Sampai-sampai bangun kesiangan setiap kali aku datang," kata Min Jun.


"Tidak banyak, sama seperti biasa. Kenapa datang pagi-pagi begini?" tanya Hyun Su datar.


"Hanya ingin tahu kabarmu. Sejak terakhir kali kita minum di cafe aku belum mendengar kabar apa-apa darimu. Kau juga tidak datang ke rumahku. Dua hari yang lalu Siwon ke rumahku. Aku coba menelpon mu tapi tidak aktif. Dia baru pulang dari HK dan akan menetap di sini cukup lama untuk membantu di toko pamannya yang ramai. Dia juga bilang akan mampir lagi lain hari," Min Jun bercerita.


Hyun Su nampak tidak begitu tertarik. Sebab hubungannya dengan Siwon tidak begitu baik.


"Ya, lain kali kita bisa kumpul lagi!" kata Hyun Su biasa saja.


Sebenarnya Min Jun juga ingin bertanya tentang perkembangan hubungan Hyun Su dengan Yun-bi tapi tidak berani.