Melodies Of Rain

Melodies Of Rain
#SATU



...π™Ώπšπ™Ύπ™»π™Ύπ™Ά...


Seorang wanita muda berlari menerobos hujan yang tiba-tiba turun tanpa permisi. Ia memutuskan berteduh di sebuah halte yang tak jauh di depannya. Ia menepuk jaket kulitnya yang agak basah. Hujan turun semakin lebat disertai bunyi petir yang sesekali bergemuruh. Wanita muda itu duduk di sudut bangku halte sambil menunggu hujan reda.


Sebuah sepeda motor menepi kemudian berhenti di depan halte. Pengendara motor tersebut turun dari motor untuk berteduh. Pakaiannya sudah basah kuyup. Pengendara motor itu lalu melepas helmnya. Ia mengacak rambutnya dan meletakkan helm di tempat duduk halte.


Pengendara motor yang merupakan seorang pria tampan itu sekilas melihat ke arah wanita muda yang duduk di sudut. Kemudian ia membalikkan badannya memunggungi wanita itu. Tanpa diduga pria tampan itu melepas kancing kemejanya satu persatu dan dengan cueknya melepaskan kemeja yang dipakainya sehingga terlihat punggungnya yang terbuka. Wanita muda yang tadinya sedang memperhatikan pria itu seketika langsung memalingkan wajah.


Pria tampan langsung memeras kemejanya agar sedikit lebih kering baru kemudian dipakainya kembali. Setelah mengenakan kemeja kembali pria tampan itu membalikkan badan. Ia menoleh pada wanita muda yang masih duduk di sudut bangku. Wanita itu sedang melihat ke arah lain. Sambil merapikan rambut yang berantakan dengan jari-jarinya, pria tampan itu duduk di sudut bangku lain halte sambil menunggu hujan reda.


...β˜‚οΈβ˜‚οΈβ˜‚οΈ...


...π‘΄π’†π’π’π’…π’Šπ’†π’” 𝒐𝒇 π‘Ήπ’‚π’Šπ’...


...𝒂𝒖𝒕𝒉𝒐𝒓 π’ƒπ’š π‘¬π’“π’Šπ’›π’‚ 𝒀𝒖𝒖...



......πš‚π™°πšƒπš„......


Cafe K&Q masih sepi di pagi yang dingin. Yun-bi tengah mengelap meja dan mengecek isi tissue. Pekerjaan sebagai waitress sudah dilakoninya sejak enam bulan belakangan ini. Wanita muda berambut hitam panjang itu sangat menikmati pekerjaannya. Di sana Yun-bi berteman baik dengan Hwang Aira, wanita dengan rambut pendek dan berlesung pipi itu adalah orang pertama yang Yun-bi kenal. Berbeda dengan Aira yang tumbuh di kota besar, Yun-bi berasal dari kota kecil. Ia pindah ke Seoul setahun lalu setelah neneknya meninggal. Orang tuanya sudah lama berpisah. Menurut neneknya, ibunya berada di Seoul sementara ayahnya tidak diketahui keberadaannya.


Cafe K&Q buka setiap hari dari pagi hingga tengah malam. Pegawai bekerja dengan sistem part-time. Jam kerja Yun-bi sudah berakhir. Namun ia masih sibuk dengan cangkir kotornya. Yoon Wu yang seharusnya menggantikan pekerjaannya belum juga datang.


"Yun-bi, apa kau sudah selesai?" tanya Aira di samping pintu dapur dengan tak sabaran.


"Sebentar lagi selesai!"


"Argh ... Aku sudah lapar! Bisakah lebih cepat?!" desak Aira. Saat itulah Yoon Wu datang. Ia langsung menerobos masuk melewati Aira.


"Maaf, aku terlambat! Sini, Yun-bi, kau pulanglah! Maaf sudah merepotkan mu," ucap Yoon Wu. Ia langsung mengambil alih pekerjaan Yun-bi.


"Dasar jam karet! Apa kau tidak bisa tepat waktu sedikit!?" cecar Aira tanpa basa-basi.


"Aku kan sudah minta maaf! Kau tahu tidak jalanan sedang macet!?" Yoon Wu membela diri.


"Yun-bi sudah cepat sana bawa temanmu itu pulang! Dia cerewet sekali, lebih cerewet dari tuan Chan!" lanjutnya pada Yun-bi dengan mengecilkan suaranya.


Yun-bi tertawa.


"Apa katamu?" seru Aira.


"Sudah ... Sudah ayo pergi, nanti tuan Chan dengar bisa-bisa kita dimarahi," Yun-bi segera menarik Aira pergi.


...β˜‚οΈβ˜‚οΈ...


Yun-bi dan Aira keluar dari sebuah kedai makan. Aira mengelus perutnya yang sudah kenyang. Sementara Yun-bi menghitung uang kembalian dan sisa uang di dompetnya yang harus dihemat sampai bulan depan. Mata Aira mengintip ke dalam dompet Yun-bi.


"Lain kali kalau ibuku masak enak aku akan mengajakmu makan di rumah," janjinya.


"Aku tidak minta makan di rumahmu,"sela Yun-bi.


"Aku tidak bilang kau minta makan, aku mengajakmu makan! Paham tidak?!" jelas Aira sambil merangkul leher Yun-bi dengan kuat karena geram.


"Aduh ... Iya, iya aku paham. Cuma bercanda. Aira, lepaskan!" rengek Yun-bi setelah merasa kesakitan. Aira melepaskan tangannya sambil tersenyum puas.


"Bagus!"


"Sakit tahu!" keluh Yun-bi sambil mengelus lehernya.


"Kenapa harus merasa tidak enak?! Kita kan sahabat baik. Aku juga tahu bagaimana rasanya tinggal sendiri di kota. Harus memikirkan uang sewa, harus sangat berhemat apalagi untuk makan. Kalau denganku kau tidak perlu merasa sungkan!" terang Aira dengan tulus.


"Terima kasih! Kau satu-satunya sahabat terbaik yang ku miliki di sini!" ucap Yun-bi


Aira tersenyum lalu menggandeng lengan Yun-bi. Mereka berjalan pulang bersama.



...β˜‚οΈβ˜‚οΈ...


Hari mulai menjelang siang, namun cafe masih belum begitu ramai. Di dapur, Yun-bi sedang mengeringkan cangkir-cangkir yang sedikit basah agar siap dipakai nanti. Kebetulan sepi, Aira duduk di depan meja barista sambil mencicipi minuman baru yang dibuat Noel, sang barista. Aira sendiri bertugas di bagian kasir. Selain mereka bertiga masih ada Eun-ha, Yoomi, dan Dae Ho.


Dua pengunjung pria memasuki cafe. Keduanya memilih tempat duduk di dekat jendela kaca yang menghadap ke luar. Yoomi segera menghampiri meja tersebut sambil membawa buku menu. Usai mencatat pesanan Yoomi meletakkannya ke meja barista dan memberikan salinannya pada Aira. Aira kembali ke balik meja kasirnya. Tak lama pesanan kedua pria itu pun datang. Salah satu pria yang bernama Hyun Su mengangkat cangkirnya hendak minum. Belum sempat cangkir itu menyentuh bibirnya, ada sesuatu yang membuatnya tertegun. Matanya menangkap sosok seorang wanita yang baru muncul dari balik meja barista, seperti mengingatkannya pada sesuatu.


Sahabatnya, Park Min Jun yang sedari tadi mengobrol dengannya ikut terdiam melihat perubahan wajah Hyun Su. Min Jun menoleh mengikuti arah pandang mata Hyun Su dan paham apa yang membuatnya begitu terpana.



"Dia-kah yang membuatmu begitu terpesona sehingga matamu tak tega berpaling darinya?"


Bahasa Min Jun yang puitis berhasil membuyarkan perhatian Hyun Su pada wanita yang sedang diperhatikannya.


"Kau ini bicara apa?" sungutnya sambil menyeruput kopinya. Dan meletakkan kembali cangkir ke atas meja.


Min Jun tertawa. "Kau mengenalinya?"


"Tentu saja tidak."


Min Jun mengangkat kedua alisnya. "Kau tidak kenal dia?! Aku jadi penasaran! Apa ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama, heh?!"


Hyun Su tidak menanggapi ocehan sahabatnya itu. Ia segera menghabiskan kopinya lalu berkata pada Min Jun, "habiskan kopi mu dan selesaikan tagihannya. Aku menunggu di luar!".


Hyun Su langsung pergi meninggalkan Min Jun sebelum ia sempat protes. Mau tak mau Min Jun pun menuruti ucapan sahabatnya itu.


"Kau ini kadang sangat menjengkelkan! Untung kau punya sahabat seperti aku yang penyabar!" gerutu Min Jun begitu ia menyusul Hyun Su di luar.


"Ngomong-ngomong wanita di cafe tadi itu namanya Yun-bi!" Min Jun memberitahu tanpa di tanya.


"Kau mengajaknya kenalan?!" tuduh Hyun Su.


"Tidak!" Cepat-cepat Min Jun menampik.


"Aku dengar si barista memanggilnya dengan nama itu," jelas Min Jun.


Hyun Su tidak berkata apa-apa. Ia berjalan begitu saja membuat Min Jun jadi bingung.


"Jadi, apa kita akan minum di sana lagi?" tanya Min Jun sok polos.


"Aku tidak berpikir akan kembali!" jawab Hyun Su cuek.


"Lantas, bagaimana kau akan berkenalan dengannya?" tanya Min Jun.


"Sudah jangan banyak bicara!" kata Hyun Su sambil mempercepat langkah.


"Aish, tunggu!" panggil Min Jun sambil berlari mengejarnya.