
Setelah lelah berkeliling dengan sepasang kakinya yang mulai renta. Tuan Kim berpikir untuk beristirahat sejenak. Kebetulan tak jauh di depannya ada sebuah cafe. Tuan Kim pun memutuskan untuk ke sana. Ini pertama kalinya bagi Tuan Kim duduk di sebuah cafe. Alunan musik yang lembut langsung memanjakan telinganya. Sedangkan matanya sibuk memperhatikan setiap detail sudut cafe K&Q itu. Chae-ri datang menunjukkan daftar menu dengan ramah. Tuan Kim hanya memesan segelas kopi. Setelah itu Chae-ri pergi. Tuan Kim kembali hanyut dalam suasana cafe yang menurutnya cukup nyaman itu. Begitu kopi pesanan Tuan Kim siap, Yun-bi segera membawanya ke meja Tuan Kim.
"Silahkan pesanan anda, Tuan!" Yun-bi meletakkan cangkir kopi itu dengan pelan.
Tuan Kim menatap Yun-bi sebentar lalu berkata, "Kamshanida."
Sekilas Yun-bi merasa tak asing dengan wajah Tuan Kim. Ia mengingat-ingat dengan cepat.
"Ajeossi?! Benarkan anda Kim-ssi?" tanya Yun-bi dengan percaya diri.
Tuan Kim menatap wajah Yun-bi dengan seksama. "Benar. Dan kau ...." sambil mengingat-ingat.
"Yun-bi. Aku Seo Yun-bi, sahabat Sora yang dulu sering bermain ke rumah Ajeossi! Anda ingat?" jawab Yun-bi dengan cepat.
"Oh ya. Ya. Yun-bi. Aku ingat sekarang. Kau teman baik Sora di junghakgyo dulu," ujar Tuan Kim sambil mengayunkan telunjuknya pada Yun-bi.
"Aku tak menyangka akan bertemu ajeossi di sini. Bagaimana kabar ajeossi? Dan bagaimana kabar Sora? Apa Sora masih berada di Seoul?" tanya Yun-bi dengan semangat.
" Pelan-pelan, Yun-bi! Duduklah dulu. Ada banyak hal yang bisa diceritakan," suruh Tuan Kim sambil tertawa melihat semangat Yun-bi.
"Ajeossi, aku sangat senang. Aku ingin sekali bertemu Sora. Sejak ajeossi sekeluarga pindah aku tidak pernah mendapat kabar dari Sora. Aku pikir dia sudah lupa padaku! Oh ya, bagaimana kabar ajumma? Apa ajumma baik-baik saja?" jelas Yun-bi.
Tuan Kim tersenyum tipis. "Ibu Sora sudah meninggal beberapa tahun yang lalu," katanya pelan.
"Oh maaf. Aku turut sedih," ucap Yun-bi pelan.
"Tidak apa-apa. Ah, Sora pasti senang sekali dapat bertemu denganmu lagi," ujar Tuan Kim.
"Aku harap begitu," sahut Yun-bi.
"Ngomong-ngomong, apa kau bekerja di sini?" tanya Tuan Kim.
"Iya. Sudah setengah tahun aku bekerja di sini," jawab Yun-bi.
"Bagaimana dengan nenekmu? Dia juga tinggal di sini?" tanya Tuan Kim. Dia tahu Yun-bi tinggal bersama neneknya setelah orang tuanya berpisah.
"Tidak. Halmeoni sudah meninggal. Aku menyewa apartemen kecil dan tinggal sendiri di sini. Sekedar mencari peruntungan dan pengalaman baru," terang Yun-bi.
"Aku juga turut sedih. Sekarang kau sudah tumbuh menjadi wanita yang kuat, Yun-bi!" puji Tuan Kim.
"Terima kasih."
Tuan Kim menatap Yun-bi yang masih polos dan sederhana kemudian melihat sekeliling cafe dengan kesibukan para waitress-nya. Tuan Kim kembali berkata pada Yun-bi. "Sebenarnya aku membuka usaha furniture di sini. Mungkin jika kau berencana mencari pekerjaan baru, kau bisa datang ke toko."
"Terima kasih, ajeossi. Tapi aku belum berencana pindah kerja. Aku cukup betah bekerja di sini," Yun-bi menolak dengan halus.
Tuan Kim tertawa. "Aku hanya menawari, tidak apa-apa. Sekali-kali datanglah mampir sekedar berkunjung tidak masalah, kan?!" ujarnya.
"Tentu saja tidak. Apa Sora juga tinggal bersama ajeossi?" tanya Yun-bi.
"Tidak. Sora tinggal sendiri. Anak itu tidak suka tinggal serumah dengan orang tua cerewet sepertiku," jawab Tuan Kim.
"Ah, ajeossi bisa saja! Ajeossi adalah ayahnya, wajar saja cerewet pada putri sendiri," ujar Yun-bi.
"Aku tidak akan bisa mengaturnya. Lagi pula dia sudah cukup dewasa untuk menentukan semuanya sendiri," tutur Tuan Kim.
Tuan Kim lalu meminta kertas dan pulpen kepada Yun-bi. Yun-bi dengan cepat mengambilkannya. Kemudian Tuan Kim menulis sesuatu di kertas dan memberikannya pada Yun-bi.
"Ini alamat rumah Sora. Kau bisa menemuinya di sana. Dan ini kartu namaku serta alamat toko. Datanglah jika kau sempat!" pinta Tuan Kim.
Yun-bi membaca alamat rumah Sora. Jalan itu tidak asing baginya.
"Iya. Terima kasih, ajeossi! Sepulang kerja nanti aku akan pergi mencarinya," tutur Yun-bi.
"Ya. Lepaskanlah rindu kalian!" canda Tuan Kim. Yun-bi tersenyum senang.
...☂️☂️☂️...
Cassandra tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di sebuah kamar tidur yang tidak ia kenali. Dia menatap sekelilingnya sambil mengingat.
"Oh iya ... Aku masih berada di rumah Hyun Su!" pikirnya.
"Ya ampun sudah jam berapa ini?" serunya tiba-tiba.
Dia langsung turun dari tempat tidur dan berlari ke luar kamar.
"Sudah bangun? Bagaimana dengan kepalamu?" tanya Hyun Su yang sedang duduk di sofa dan melihat Cassandra sudah berada di sana.
"Sangat baik. Terima kasih sudah menolongku," jawab Cassandra.
"Sama-sama. Mau minum?" Hyun Su menawari.
"Tidak. Aku sudah mau pulang," tolak Cassandra sambil meraih tasnya.
"Biar aku mengantarmu!" tawar Hyun Su.
Hyun Su sedang menghidupkan motornya. Setelah motor hidup, Cassandra naik. Motor Hyun Su melaju menuju ke rumah Cassandra. Sampai di depan rumah Cassandra turun. Dia menawari Hyun Su untuk mampir. Sementara Cassandra membuka kunci pintu rumah, Hyun-su memarkirkan motornya.
Usai pulang kerja Yun-bi langsung pergi mencari rumah Sora. Dengan alamat yang diberikan Tuan Kim tidak sulit menemukan rumah Sora karena dia memang tidak asing dengan daerah itu. Hanya lewat beberapa rumah dari rumah Min Jun. Rumah Min Jun nampak sepi saat Yun-bi lewat di depannya. Tiba-tiba bunyi klakson mobil dari arah belakang mengagetkan Yun-bi. Yun-bi menoleh. Siwon mengeluarkan kepalanya dari balik kaca mobil. Begitu mobil terparkir Siwon keluar menghampiri Yun-bi.
"Yun-bi, Mau ke mana?"
"Aku mencari rumah sahabat lamaku," jawab Yun-bi.
"Sahabat lamamu?" tanya Siwon heran.
"Iya. Aku baru tahu dia tinggal di daerah ini," jawab Yun-bi dengan riang. "Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini, Siwon?"
"Biasa, mampir ke rumah Min Jun," jawab Siwon.
"Oh ... Rumahnya nampak sepi," ujar Yun-bi.
"Iya, mungkin dia di dalam. Baiklah aku akan ke sana mengetuk pintunya. Oh ya, apa kau kesulitan mencari rumah sahabatmu?! Aku bisa menemanimu dulu!" tanya Siwon.
"Tidak perlu, Siwon. Asal tahu nomor rumahnya pasti bisa menemukannya! Lagi pula sudah dekat! Ini nomor rumahnya ...." Yun-bi menunjukkan tulisan di kertas yang dipegangnya.
Siwon mendekat untuk membaca alamat yang tertulis di kertas yang dipegang Yun-bi.
"Tunggu! Ini kan rumah Cassandra!" ujar Siwon.
"Benarkah?!" Yun-bi tak percaya.
"Benar! Kau tidak salah menulis alamat kan Yun-bi?" tanya Siwon.
Yun-bi menggeleng.
"Mana mungkin bisa salah! Ini alamat yang ditulis ajeossi, appa nya sahabatku sendiri! Kami tak sengaja bertemu siang tadi."
"Mungkinkah....?"
"Apa ajeossi itu bernama Kim In Seong?!" tanya Siwon.
"Benar!" jawab Yun-bi cepat.
"Kalau begitu tidak salah lagi," tambah Siwon.
Mendengar itu, Yun-bi segera mempercepat langkah kakinya. Diikuti Siwon dari belakang.
Hyun Su hanya mampir sebentar di rumah Cassandra. Cassandra mengantar Hyun Su sampai di teras depan rumah di mana motornya berada.
"Banyaklah istirahat! Kau masih terlihat pucat," pesan Hyun Su.
"Aku sudah istirahat setiap hari! Sampai-sampai badanku pegal karena tidak ada yang bisa ku kerjakan," tutur Cassandra.
Hyun Su tersenyum sambil mengacak rambut Cassandra. "Lebih baik seperti itu!" katanya.
"Apa maksudmu?" tanya Cassandra.
"Dari pada kau pergi ke bar dan minum-minum. Aku lebih suka kau yang seperti ini," terang Hyun Su sambil menatap Cassandra penuh arti.
Mendengar ucapan Hyun Su, Cassandra terdiam sambil menatapnya. Melihat ekspresi Cassandra, Hyun Su kemudian mendekat menarik pinggang Cassandra lebih rapat dengannya. Kemudian Hyun Su mencium bibir Cassandra.
bersambung.....
^^^NB^^^
^^^*Junghakgyo \= sebutan untuk sekolah menengah pertama di Korea^^^
^^^* Ajeossi \= paman^^^
^^^* Ajumma \= bibi^^^
^^^* Halmeoni \= nenek^^^
^^^* Teman-teman jangan lupa supportnya ya! Terima kasih!^^^