
Pagi di Cafe K&Q. Yun-bi masuk ke dalam cafe.
"Annyeong haseyo!" sapa Yun-bi.
"Annyeong!" balas Noel yang sedang mengelap meja barista.
Aira juga baru datang. Yun-bi langsung berbalik menghampirinya.
"Baru tidak bertemu dua hari, apa sudah begitu merindukan ku?" goda Aira.
"Ah, bukan aku. Tapi sepertinya yang di sana itu yang lebih merindukan mu!" bisik Yun-bi sambil menunjuk Noel.
"Memangnya kenapa dengan Noel?" tanya Aira yang berjalan melewati meja barista.
"Annyeong, Aira! Senang melihatmu kembali bekerja," sapa Noel begitu Aira lewat di depannya.
"Terima kasih, Noel!" balas Aira.
Yun-bi menatap Aira sambil menutup mulutnya menyembunyikan tawa.
"Jangan mengada-ada," ucap Aira.
...☂️☂️☂️...
Hari ini Harlem mengajak Cassandra ke rumah sakit. Cassandra melakukan pengecekan menyeluruh melihat bagaimana kondisi tubuhnya dan penyakitnya. Setelah melakukan pengecekan yang cukup memakan waktu itu, dokter berbicara dengan serius kepada keduanya. Tak ingin berbelit-belit, Harlem menyarankan untuk segera melakukan tindak operasi untuk mengangkat sel tumor di kepala Cassandra.
"Nona Kim, sebaiknya segera mengambil keputusan. Sebelum sel tumor menyebar ke bagian lain tubuh anda. Saat ini tindakan operasi masih bisa di lakukan untuk mengangkat sel tumor yang ada di kepala anda," jelas Dokter.
"Apa setelah itu aku akan sembuh?" tanya Cassandra.
"Sel tumor ini masih tergolong jinak, jadi kemungkinan untuk sembuh juga sangat besar. Tapi sel tumor ini bisa terus berkembang dan menjalar ke bagian lain tubuh anda, jika anda terus menunda melakukan pengobatan atau operasi," jawab Dokter.
Harlem meremas tangan Cassandra. "Sandra, aku yakin kau pasti sembuh. Kau tidak perlu takut, aku akan selalu menemani mu. Kau harus segera mengangkat sel tumor itu sebelum terlambat."
Cassandra menatap Harlem. Seolah Harlem telah memberinya kekuatan. "Baiklah, dokter! Aku akan melakukan operasi segera," ucap Cassandra.
"Keputusan yang bagus. Kita akan segera melakukan persiapan secepatnya," kata Dokter.
...☂️☂️☂️...
Min Jun membuka tirai jendela. Cahaya matahari langsung menerobos masuk ke dalam ruangan di lantai dua itu. Hyun Su yang masih terkapar di atas sofa terbangun oleh pantulan cahaya yang menyilaukan.
"Ckckck ... Hanya semalam kau jadi seperti ini!" gumam Min Jun.
Hyun Su mengusap wajahnya, membalikkan posisi tubuhnya membelakangi cahaya dari jendela. Botol-botol Soju yang sudah kosong berserakan di meja. Bantal sofa juga jatuh ke lantai. Min Jun hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepala melihatnya. Mau tak mau dia mengambil botol-botol kosong itu untuk dibuang. Sunny sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Sunny, aku mau ke luar sebentar. Tidak apa-apa kau tinggal di rumah? Di atas ada Hyun Su yang masih tidur," tanya Min Jun.
"Tidak apa-apa. Oppa, pergi saja!" jawab Sunny yakin.
"Nanti pulang aku bawakan makanan. Kalau ada apa-apa cepat telepon aku, ya!" pesan Min Jun.
"Iya. Hati-hati dijalan, Oppa!" ucap Sunny.
"Siap!" balas Min Jun sambil mengacak rambut Sunny.
.......
.......
.......
Dengan mengendarai sepeda motornya, Min Jun tiba di toko furniture Tuan Kim.
"Annyeong haseyo!" sapa Min Jun.
"Annyeong haseyo! Oh Min Jun, kau rupanya," balas Tuan Kim.
"Ajeossi, apa Siwon ada di sini?" tanya Min Jun.
"Dia ada di gudang, di dalam toko. Masuk saja!" jawab Tuan Kim.
"Tidak perlu, aku tunggu di sini saja sekalian berbincang dengan Ajeossi. Sudah lama tidak mengobrol dengan Ajeossi," kata Min Jun.
"Hahaha ... Seringlah datang kemari kalau mau mengobrol dengan ku. Aku tidak pergi ke mana," ujar Tuan Kim sambil tertawa.
"Iya, aku harap lain kali bisa meluangkan lebih banyak waktu. Bagaimana kabar Ajeossi sekarang ini?" tanya Min Jun.
"Ya, seperti yang kau lihat sekarang. Seperti inilah adanya," jawab Tuan Kim. Dia teringat sesuatu dan bertanya, "Oh Min Jun, Sora sudah kembali ke HK. Apa dia memberitahu mu?"
Tuan Kim malah nampak senang mendengarnya. "Bagaimana kau tahu Harlem Wang itu tunangannya?" Tuan Kim balik bertanya.
"Cassandra sendiri yang mengakuinya padaku," jawab Min Jun.
Tuan Kim kembali tertawa. "Kalau dia sendiri mengakuinya begitu ya, mungkin memang seperti itu!" jawab Tuan Kim yang justru membuat Min Jun semakin penasaran.
Siwon muncul dari dalam. "Min Jun! Kenapa kau ada di sini?" tanya Siwon.
"Tidak apa-apa. Hanya ingin bertemu denganmu!" jawab Min Jun dengan lembut.
Siwon mengangkat sebelah alisnya. "Bertemu denganku?" mengulang ucapan Min Jun dengan aneh. Terdengar seperti seorang kekasih yang merindukan pasangannya.
"Aish, ada yang ingin ku bahas denganmu!" kata Min Jun lebih terdengar tegas.
Siwon menahan senyum. "Tentang apa?" tanyanya.
"Ajeossi, maaf apa aku boleh meminjam pegawai mu yang tampan itu sebentar?" tanya Min Jun setengah merayu. Siwon hanya memperhatikannya dengan geli.
Tuan Kim tertawa melihat tingkah Min Jun. "Silahkan saja! Kalian anak muda memang perlu bersenang-senang!"
"Terima kasih, Ajeossi!" ucap Min Jun.
"Ingat, kembalikan dia dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun!" ancaman Tuan Kim terdengar tegas. Membuat Min Jun terdiam menelan ludah.
"Hahahah ... Aku hanya bercanda. Kalian pergilah!" Tuan Kim tertawa berhasil menggoda Min Jun.
Min Jun merasa lega. "Huh... Ajeossi, kau benar-benar membuatku takut!"
Tuan Kim kembali tertawa.
Min Jun dan Siwon pergi ke kedai makan. Min Jun yang belum makan sejak pagi langsung menyantap makanannya dengan lahap. Sedangkan Siwon hanya memesan minuman.
Melihat Min Jun yang begitu lahap menyantap makanannya, Siwon bertanya, "Kau sudah berapa hari tidak makan?"
"Aku hanya belum makan pagi saja," jawab Min Jun.
"Tapi terlihat seperti tiga hari belum makan," ejek Siwon.
Min Jun menatapnya dan hanya melihat segelas minuman di depan Siwon. "Kau tidak makan?"
"Aku sudah makan," jawab Siwon. "Jadi, apa yang mau kau bahas?"
"Tunggu aku habiskan makanan ku dulu!" tahan Min Jun.
Siwon tak mengatakan apa-apa lagi sampai Min Jun selesai makan.
"Ini tentang Hyun Su!" Min Jun memulai obrolan.
"Dia lagi," keluh Siwon. "Kali ini apa?"
"Semalaman dia di rumahku, menyendiri dan menghabiskan beberapa botol Soju. Kepergian Cassandra kali ini membuatnya jadi terpuruk seperti orang yang sedang putus cinta. Padahal sebelumnya dia nampak tidak peduli," Min Jun menerangkan.
"Terus, apa hubungannya denganku?" tanya Siwon cuek.
"Siwon, ucapanmu ini sama sekali tidak berperasaan. Memang tidak ada hubungannya denganmu, tapi setidaknya kita sebagai teman bukankah harus membantunya juga?!" ujar Min Jun.
"Memangnya apa yang bisa ku lakukan? Apa yang bisa kita bantu? Pikirkanlah baik-baik, Min Jun! Dia yang memulainya, dia yang membuat masalahnya sendiri. Meskipun orang lain bisa menariknya ke luar dari lubang hitam, tidak bisa juga sepenuhnya membersihkan masalah yang sudah dia buat," Siwon menegaskan. Dia melanjutkan, "Sebagai sesama teman, kita memang wajib menolong teman yang sedang susah. Tapi tidak semua masalah 'satu orang' itu harus ditanggung semua orang. Ada baiknya masalah pribadi diselesaikan sendiri. Dan memang sebaiknya tidak ikut campur dalam masalah pribadi orang lain."
Min Jun terdiam mendengar ucapan Siwon. Siwon mengangkat gelasnya untuk minum.
"Aku hanya tidak tahu harus bagaimana karena dia ada di rumahku," ujar Min Jun.
"Selama dia tidak membuat onar di rumah mu, abaikan saja!" saran Siwon.
"Dia tidak membuat onar tapi membuat rumah berantakan!" keluh Min Jun.
"Bukankah kau ingin membantunya? Maka sabar-sabar saja!" ejek Siwon.
"Ah, kau sama sekali tidak membantu," sungut Min Jun.
"Aku akan membantu jika memang itu perlu. Tidak ada yang perlu dibahas lagi. Aku sebaiknya kembali sebelum dipecat," kata Siwon. Dia berdiri meninggalkan meja.
Min Jun tak mungkin menahannya. Sedang Siwon sudah meninggalkan kedai, Min Jun masih berada di kedai. Dia berjanji akan membawakan makanan untuk Sunny. Jadi memesan makanan untuk dibawa pulang.
bersambung....