
Aira merentangkan kedua tangannya ke atas. Meluruskan otot-otot tangannya setelah bekerja cukup keras hari ini.
"Ah, sungguh lelah sekali!" ucap Aira.
"Dua cangkir capuccino untuk dua Nona manis!" Noel menyodorkan dua cangkir capuccino ke meja di mana Aira dan Yun-bi duduk beristirahat.
"Terima kasih, oppa!" ucap Yun-bi.
"Gomawo!" ucap Aira juga.
Noel membalas kedua wanita itu dengan senyuman dan anggukan kecil. Aira langsung menyesap cappucino hangatnya. Energinya yang terkuras tadi seolah penuh kembali.
"Benar-benar hari yang melelahkan! Kira-kira kapan Tuan Chan baru dapat pegawai baru, ya?" tanya Aira.
"Entahlah. Tunggu saja! Mungkin belum ada yang datang melamar," jawab Yun-bi.
"Jangan patah semangat, Ladies!" Noel memberi semangat.
"Ya. Harus tetap bersemangat!" ujar Aira.
"Bagaimana kalau pulang kerja nanti kita pergi makan sama-sama?" usul Noel.
"Kau yang traktir!" Aira menunjuk Noel.
"Tidak. Bayar sendiri-sendiri," tolak Noel.
"Ah, tidak mau kalau begitu! Yun-bi, tidak usah ikut!" kata Aira.
Yun-bi menahan tawa. "Baiklah, aku traktir!" Noel mengalah.
"Nah, begitu!" ucap Aira sambil tersenyum.
"Ya sudah, sampai bertemu pulang nanti," kata Noel dan ia kembali ke balik meja barista.
"Kenapa harus memaksa oppa mentraktir kita?!" tanya Yun-bi.
"Karena dia yang mengajak," jawab Aira.
"Aku rasa dia sudah sering mentraktir kita dengan semua minuman ini," ujar Yun-bi.
"Bukannya ini gratis?" tanya Aira.
"Memangnya Tuan Chan begitu murah hati? Membiarkan oppa Noel mengambil bahannya dengan percuma dan membuatkan minuman gratis untuk kita?" tanya Yun-bi dengan suara kecil.
"Benar juga. Tuan Chan kan sangat perhitungan," Aira sependapat.
"Itu berarti semua minuman yang Noel buat untuk kita itu dia yang membayarnya?"
"Apa lagi kalau bukan?! Tapi ini hanya anggapan ku saja, sih," balas Yun-bi.
.......
.......
.......
.......
Noel, Yun-bi dan Aira sudah berada di salah satu restoran Samgyeopsal. Ketiganya sepakat memilih samgyeopsal sebagai makanan yang akan mereka santap.
Aira nampak terpukau melihat Noel yang tidak hanya ahli meracik minuman, tapi juga ahli dalam memanggang daging.
"Wah, kau ternyata memiliki banyak keahlian," puji Aira.
"Tidak juga. Ini cobalah!" Noel meletakkan sepotong daging yang sudah matang ke mangkuk Aira.
Aira meniup daging yang masih panas itu kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
"Hm, kematangannya sangat pas! Perfect!" Aira mengangkat jempolnya pada Noel.
"Yun-bi, cobalah!"
"Gomawo, oppa!" ucap Yun-bi.
Yun-bi pun mencicipi daging yang dipanggang Noel. Dia juga memuji hasil panggangan daging Noel yang sangat empuk. Noel pun mengajari kedua wanita itu bagaimana cara memanggang daging yang benar agar mencapai kematangan yang pas. Ketiganya lantas menikmati Samgyeopsal dengan gembira.
...☂️☂️☂️...
Siwon sedang duduk di ruang tamu di dalam kamar pasien. Seorang perawat sedang memeriksa kondisi Cassandra. Harlem datang kemudian. Dia mengangguk pada Siwon.
"Perawat sedang memeriksa Cassandra," Siwon memberitahunya.
"Oh." Harlem duduk di sofa yang kosong. "Sudah lama datang?"
"Baru lima belas menit," jawab Siwon.
Perawat sudah selesai memeriksa Cassandra. Dia meninggalkan Cassandra dan mengangguk pada Siwon dan Harlem yang menunggu di ruang tamu. Kemudian berjalan ke luar dari kamar. Harlem dan Siwon pun bangkit dari kursinya pergi menemui Cassandra.
"Harlem. Siwon, kau juga datang?" sapa Cassandra.
"Ya. Menjenguk mu sebentar. Mumpung aku masih di sini," jawab Siwon.
"Bagaimana kondisimu, sayang!" tanya Harlem.
"Baik. Apa hasil pemeriksaan belum keluar?" tanya Cassandra.
"Belum," jawab Harlem.
"Aku harap hasilnya baik sehingga bisa segera meninggalkan rumah sakit," harap Cassandra.
"Kau sudah rindu rumah, ya?" tanya Harlem.
"Bagaimana pun rumah jauh lebih nyaman dari pada rumah sakit," jawab Cassandra.
Harlem tersenyum. "Ya, benar."
"Ah, Siwon kapan kau kembali ke Seoul?" tanya Cassandra.
"Aku belum memutuskannya. Mungkin beberapa hari lagi. Aku juga sudah cukup lama di sini tanpa melakukan apa-apa," jawab Siwon.
"Kalau kau kembali, aku ingin menitipkan oleh-oleh untuk Appa dan Yun-bi. Aku masih belum menghubungi mereka berdua sekali pun sejak tiba di sini," kata Cassandra.
"Boleh. Apa yang ingin kau berikan pada mereka? Aku akan pergi membelinya," jawab Siwon.
"Soal itu aku belum meminta pendapat Harlem. Dia sangat tahu oleh-oleh apa yang cocok diberikan. Ya, kan?! " kata Cassandra sambil menatap Harlem.
"Iya. Aku akan memberikan beberapa rekomendasi untuk kau putuskan," ujar Harlem.
Cassandra tersenyum. "Aku jadi rindu pada Appa." tuturnya.
"Kenapa tidak meneleponnya?" usul Siwon.
"Benar. Alat-alat medis sudah tidak terpasang di tubuhmu. Kau bisa memegang ponsel dan menelepon Appa. Supaya dia tidak mencemaskan mu. Aku tidak bawa ponselmu jadi pakai punyaku saja." Harlem memberikan ponselnya pada Cassandra.
"Terima kasih," ucap Cassandra.
Cassandra menekan nomor telepon papanya. Tak lama sambungan terhubung.
"Annyeong haseo, Appa!"
Siwon dan Harlem meninggalkan Cassandra untuk memberikan privasi. Harlem duduk di ruang tamu sedang Siwon memilih meninggalkan ruangan.
"Aku ke luar berjalan-jalan sebentar," kata Siwon pada Harlem.
"Baik," jawab Harlem.
Siwon berjalan di koridor rumah sakit. Saat dia melewati koridor dengan dinding kaca menghadap sisi luar gedung rumah sakit, Siwon menatap keluar. Nampak rintik hujan yang turun membasahi tanah. Siwon berhenti menatap hujan di luar sana. Hujan seketika mengingatkannya pada Yun-bi. Dia teringat saat berjalan satu payung berdua dengan Yun-bi. Siwon tersenyum sendiri. Dia merogoh ponselnya berniat menghubungi wanita itu. Tapi kemudian dia mengurungkan niatnya dan kembali mengembangkan senyum. Dia meneruskan kembali langkahnya.
bersambung....