Melodies Of Rain

Melodies Of Rain
#TIGA PULUH TUJUH



Pengusaha yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Tuan Kim bersama Siwon segera menyambut kedatangan tamu pentingnya itu dengan hangat.


"Tuan Han. Akhirnya anda datang juga! Bagaimana kabar anda?" sapa Tuan Kim.


"Terima kasih, Tuan Kim. Seperti yang anda lihat sekarang. Selalu bersyukur diberikan kesehatan sampai saat ini," balas Tuan Han dengan ramah.


"Ya. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kau sudah menjadi pengusaha sukses sekarang," puji Tuan Kim.


"Hahaha ... Jangan begitu Tuan Kim, kau juga memiliki usaha furniture yang cukup menjanjikan," balas Tuan Han sambil tertawa.


"Ah iya, perkenalkan ini keponakan ku, Kim Siwon," Tuan Kim memperkenalkan Siwon pada Tuan Han.


"Annyeong haseo!" Siwon memberi salam pada Tuan Han dengan sopan.


"Annyeong haseo!" balas Tuan Han.


"Siwon ini yang selalu membantuku mengurus toko ini. Ah, mari ku antar melihat-lihat! Aku akan menunjukkan beberapa produk yang memiliki kualitas terbaik," ajak Tuan Kim. Siwon juga ikut menemani.


...☂️☂️☂️...


Seharian ini pikiran Yun-bi terus terganggu dengan bayang-bayang Hyun Su. Bertemu dengannya dalam keadaan dirinya yang begitu kacau membuat Yun-bi terus kepikiran. Dia masih marah pada mantan kekasihnya itu, namun di sisi lain dia juga merasa kasihan. Hyun Su benar-benar seperti orang yang tidak memiliki harapan.


'Mungkinkah karena Cassandra, dia jadi seperti itu? Apa dia begitu mencintainya?' Yun-bi duduk sendiri sambil berpikir.


'Ah, kenapa aku harus peduli padanya?! Itu bukan urusanku lagi!' sungutnya dalam hati.


Aira datang duduk di depannya. Melihat Yun-bi nampak begitu gusar. Ia bertanya, "Ada masalah apa?"


"Tidak ada," jawab Yun-bi.


"Kalau butuh teman minum, aku bisa menemanimu!" Aira mengingatkan.


"Terima kasih! Mungkin lain kali saja," tolak Yun-bi. Teman minum yang dimaksud Aira sekaligus teman curhat.


"Baiklah!" ucap Aira. Wanita itu pun meninggalkan Yun-bi yang sibuk dengan pikirannya sendiri.


...☂️☂️☂️...


Pertemuan antara Tuan Kim dengan Tuan Han diakhiri dengan makan siang bersama di sebuah restoran. Tuan Han juga telah membeli beberapa furniture terbaik yang dimiliki toko Tuan Kim. Kedepannya Tuan Han akan menjadi pelanggan setia Tuan Kim.


Setelah pertemuan dengan Tuan Han berakhir, Siwon meminta izin pada pamannya untuk meninggalkan toko. Dia pergi ke rumah Cassandra. Mobil Siwon tiba di depan rumah. Rasanya baru beberapa hari ditinggalkan, halaman rumah sudah nampak kotor. Siwon mengambil kunci rumah dari saku celananya. Setelah pintu terbuka, dia masuk mengambil sapu dan membersihkan halaman rumah terlebih dulu. Baru setelahnya dia masuk ke dalam rumah. Siwon mencari jam tangannya ke seluruh ruangan rumah. Akhirnya dia menemukannya di rak dinding samping TV. Dia langsung memakai jam tangannya itu. Siwon tak ingin cepat-cepat pergi. Dia berjalan melihat keadaan di dalam rumah. Dia kemudian membuka pintu kamar Cassandra. Pintu itu terkunci. Dia merogoh sakunya mengeluarkan segepok kunci yang dipakai membuka pintu tadi. Tidak hanya kunci rumah, kunci kamar dan ruangan lain juga digantung bersama. Siwon mencoba satu persatu kunci yang dipegangnya ke lubang pintu kamar. Meski dia sendiri tidak yakin kalau salah satu dari sekian kunci itu ada kunci kamar Cassandra. Karena selama Cassandra tinggal di sini, dia tidak pernah mengizinkan orang lain masuk ke dalam kamarnya. Ini hanya keisengan Siwon mumpung Cassandra tidak ada. Dia hanya penasaran apa isi di dalam kamar sepupunya itu.


*Cklek*!


Ketika Siwon mengeluarkannya, rupanya itu sebuah amplop berwarna coklat berukuran besar. Permukaan amplop mulai terasa berdebu. Siwon membuka amplop tersebut untuk melihat apa isi di dalamnya. Ketika Siwon membaca tulisan pada kertas yang ada di dalamnya, ekspresi wajahnya seketika berubah. Dia langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sebuah nomor. Sayang, nomor itu sudah tidak aktif. Dia menghubungi nomor Harlem, tersambung. Siwon segera meninggalkan rumah Cassandra.


Saat itu juga dia langsung memesan tiket pesawat dan berkendara dengan cepat menuju ke rumah. Sampai di rumah Tuan Kim, dia bergegas ke kamar. Bibi Jung yang kebetulan melihat Siwon begitu terburu-buru mengikutinya. Siwon nampak sedang memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas ranselnya.


"Tuan muda, kau mau pergi ke mana? Kenapa terburu-buru?" tanya Bibi Jung.


"Bibi Jung, aku mau kembali ke HK," jawab Siwon.


"Eh, kenapa mendadak sekali?" tanya Bibi Jung heran.


"Itu ...." Siwon berusaha mencari alasan yang masuk akal.


"Ah, ada barang Sora yang tertinggal. Dia memintaku membawakannya sendiri ke sana karena itu barang yang cukup penting baginya."


"Begitu, ya?!" ujar Bibi Jung. Meski pun alasannya sedikit terdengar aneh. Dia tetap mempercayai Siwon. "Apa kau sudah memberitahu Tuan besar? Jangan sampai dia khawatir."


"Bibi, aku akan memberitahunya sekalian berangkat," jawab Siwon.


"Hati-hati kalau begitu. Titip salam untuk Nona Sora," ucap Bibi Jung.


"Baik, Bibi Jung!"


Setelah mengisi tas ranselnya, Siwon berpamitan pergi kepada Bibi Jung. Sebelumnya dia kembali ke toko sebentar untuk berpamitan dengan Tuan Kim. Dengan alasan yang sama yang dikatakannya kepada Bibi Jung, Tuan Kim justru tertawa. Merasa yang dilakukan Sora kali ini sangat merepotkan. Namun dia percaya dan membiarkan Siwon pergi.


bersambung......


.......


.......


.......


.......


Hi, teman-teman aku mau memperkenalkan chat story baruku, yang berjudul Nona Bodyguard



Tolong mampir dan beri dukungan ya! Terima kasih sekali! (。♡‿♡。)