
"Sepertinya tidak. Hanya saja kita pernah bertemu ... sekali. Ya, satu kali," jawab Hyun Su berusaha agar terlihat ramah. Ia tak mau Yun-bi berpikir macam-macam atau menganggapnya orang jahat atau semacamnya. Hyun Su segera merogoh sesuatu dari saku jaketnya dan menyerahkannya pada Yun-bi.
"Apa ini milikmu? Aku hanya ingin mengembalikan ini! Sepertinya kau tak sadar menjatuhkannya," kata Hyun Su.
Yun-bi melihat benda yang dipegang Hyun Su kemudian mengambil bros miliknya dari tangan pria itu sambil tersenyum lebar.
"Akhirnya ... Aku pikir aku benar-benar sudah kehilangannya," ujar Yun-bi dengan wajah riang. Ia tersenyum pada Hyun Su. "Terima kasih sudah mengembalikannya!"
"Sama-sama!" balas Hyun Su yang ikut tersenyum.
"Ngomong-ngomong, apa kau sudah selesai bekerja?" tanya Hyun Su ragu-ragu.
"Iya. Aku baru ingin pulang," jawab Yun-bi. Perasaan waspada tadi sedikit berkurang.
"Aku juga sedang dalam perjalanan pulang. Bagaimana kalau kita jalan bersama!?" usul Hyun Su. Yun-bi mengangguk.
"Ngomong-ngomong di mana kau menemukannya? Aku mencarinya sampai seisi rumah tapi tidak menemukannya," tanya Yun-bi.
"Kau tidak sadar, ya? Kau menjatuhkannya saat berteduh di halte waktu itu," jawab Hyun Su.
Ingatan Hyun Su kembali pada kejadian hari itu. Di mana dia dan Yun-bi berteduh di halte yang sama. Keduanya tidak saling kenal yang pastinya juga tidak saling bicara. Ketika hujan mulai reda, Yun-bi berdiri menarik rapat zipper jaketnya tanpa sadar bros yang tersemat di baju dalam jaketnya tertarik lalu terlepas jatuh ke lantai. Yun-bi pergi tanpa menyadarinya. Begitu Hyun Su hendak pergi dari halte, matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang berkilau di lantai. Dia pun memungutnya. Rupanya itu sebuah bros yang ia yakini pasti milik Yun-bi. Namun Yun-bi sudah pergi jauh. Jadi Hyun Su menyimpan bros itu berpikir akan mengembalikannya jika bertemu dengan Yun-bi lagi.
"Aku sama sekali tidak sadar. Sekali lagi terima kasih sudah mengembalikannya!" ucap Yun-bi dengan tulus. Ia mendekap bros itu seakan tak ingin hilang lagi.
"Tidak perlu sungkan. Sepertinya bros itu sangat berharga," kata Hyun Su.
"Iya, ini hadiah dari seseorang," jawab Yun-bi.
"Seseorang yang spesial?!" tebak Hyun Su.
"Dia sahabat baikku. Sayangnya, aku sudah lama kehilangan kontak dengannya dan ini satu-satunya benda yang mengingatkanku padanya," jelas Yun-bi.
"Emm ... Oh ya, kita belum berkenalan. Namaku Lee Hyun Su!" kata Hyun Su sambil mengulurkan tangan.
"Seo Yun-bi!" balas Yun-bi sembari menjabat tangan Hyun Su.
"Senang berkenalan denganmu, Yun-bi!" ucap Hyun Su.
"Sama-sama!" balas Yun-bi malu-malu.
Hyun Su mulai menguap oleh kantuk. Ia melirik jam tangannya. "Apa kau setiap hari pulang jam segini?" tanyanya.
"Iya, hanya untuk dua minggu ke depan. Karena aku dapat giliran kerja malam," jawab Yun-bi.
"Ooh ...," gumam Hyun Su.
"Lain kali datanglah ke cafe. Aku akan mentraktir mu segelas kopi sebagai ucapan terima kasih," tawar Yun-bi.
"Sungguh?!" tanya Hyun Su.
"He-em!" Yun-bi mengangguk dengan pasti.
"Baiklah! Pegang janjimu, ya!" Hyun Su mengingatkan. Yun-bi tersenyum padanya sambil mengacungkan jempol.
Keduanya menghabiskan waktu perjalanan pulang sambil mengobrol. Kemudian berpisah di persimpangan jalan karena daerah tempat tinggal mereka berbeda.
...☂️☂️☂️...
Beberapa kali Min Jun mengetuk pintu rumah Hyun Su. Sampai-sampai ia harus berteriak memanggil nama Hyun Su. Cukup lama sampai pintu terbuka dan Hyun Su yang baru bangun berdiri di balik pintu sambil menguap.
"Ada apa pagi-pagi datang kemari. Mengganggu waktu tidurku saja!" gerutu Hyun Su sambil berjalan masuk kembali diikuti Min Jun.
"Hyung, ini sudah hampir jam delapan! Kau tahu tidak berapa lama aku mengetuk pintu?! Kalau lima menit lagi kau tidak keluar aku sudah berencana akan mendobraknya!" cerocos Min Jun.
"Lagipula apa yang kau lakukan semalam sampai bangun siang begini? Ini tidak seperti Hyun Su yang biasanya," lanjut Min Jun dengan heran.
"Kau ini datang-datang berisik sekali! Memangnya ada urusan apa pagi-pagi begini kemari?" tanya Hyun Su ketus.
Sebenarnya ia masih mengantuk dan memang tak biasanya bangun terlambat seperti hari ini. Nampaknya ia juga akan bolos masuk kantor pagi ini.
"Aku datang bawa motormu! Aku sudah memperbaikinya pagi-pagi tadi. Aku tahu kau pasti tidak sempat karena harus bekerja. Tapi ternyata kebaikanku sia-sia. Kau pasti bolos kerja hari ini!" terang Min Jun.
"Terima kasih kalau begitu. Tenang saja kebaikanmu tidak sia-sia, sebagai gantinya aku akan mentraktir mu minum kopi siang nanti. Lagi pula pekerjaanku bisa di kerjakan di rumah jadi kau tidak perlu cemas," ujar Hyun Su dengan santai. Ia duduk selonjoran di sofa.
"Kau mau mentraktirku atas kebaikanku atau kau mau pergi untuk melihat yeoja cantik bernama Yun-bi itu?!" tuduh Min Jun.
"Terserah kau saja mau menilai bagaimana," balas Hyun Su cuek. Ia sudah memejamkan matanya berniat tidur lagi. Tapi Min Jun langsung berteriak.
"Hei, jangan tidur lagi! Cepat mandi sana!"
Hyun Su sama sekali tak menghiraukannya.
...☂️☂️☂️...
Sesuai janji, siang itu Hyun Su mengajak Min Jun ke cafe. Mentraktirnya minum kopi serta beberapa potong waffle. Di dalam cafe Min Jun sibuk celingak-celinguk memperhatikan setiap waitress yang lewat. Hyun Su nampak risih dengan tingkah sahabatnya.
"Hei, Min Jun, apa yang sedang kau cari?" tanya Hyun Su.
"Di mana Yun-bi, ya? Dia tidak kelihatan," tanya Min Jun yang sibuk celingak-celinguk.
"Untuk apa kau mencarinya? Dia masuk malam hari ini," jawab Hyun Su.
Min Jun langsung beralih menatap Hyun Su. "Wah, kau tahu dari mana? Apa kau sudah berkenalan dengannya?" tanyanya amat penasaran.
"Itu bukan urusanmu!" jawab Hyun Su singkat.
"Ah ... Ayolah ceritakan padaku! Aku ini sahabatmu, bukan?!" paksa Min Jun.
"Kenapa kau mau tahu sekali?" tanya Hyun Su.
"Aku hanya penasaran. Apa kau benar-benar sudah jatuh cinta padanya?" jawab Min Jun terang-terangan.
"Min Jun, aku tidak mengajakmu ke sini untuk membicarakan Yun-bi! Jadi, bisakah bicarakan hal lain saja?" kata Hyun Su serius. Ia agak risih kalau Min Jun mulai bertanya tentang masalah perasaan, sebab Min Jun sangat cerewet dan tidak bisa menjaga rahasia. Masalah perasaan termasuk hal privasi bagi Hyun Su.
"Ah, kau ini ... Selalu tidak bisa terbuka kalau menyangkut cinta. Aku hanya ingin mengingatkan supaya jangan terus mempermainkan perasaan wanita," ujar Min Jun.
"Jangan sembarangan bicara! Memangnya siapa yang aku permainkan?" balas Hyun Su.
"Kau pikir aku tidak tahu seperti apa hubunganmu dengan Choi Na Ri?! Aku tahu kau tidak pernah mencintai Na Ri dan hanya menjadikan dia pelarian. Kau tidak tahu bagaimana perasaan Na Ri padamu, bukan?!" Min Jun menjelaskan secara blak-blakan.
"Itu semua sudah berlalu!" tepis Hyun Su.
"Sudah berlalu bukan berarti selamanya terlupakan! Sebenarnya Na Ri masih sering menghubungiku untuk menanyakan kabarmu. Sebagai sahabatmu setidaknya aku bisa mengingatkan, tapi kalau kau tetap tidak mau terbuka aku juga tidak bisa berbicara banyak. Aku juga tidak akan ikut campur," kata Min Jun.
Hyun Su terdiam oleh perkataan Min Jun yang membuat perasaannya jadi tidak nyaman.