Mafia'S Favorite Girl

Mafia'S Favorite Girl
Bab 8



sampai akhirnya Lia berdiri di depan pintu kamar Anand, ia berpikir panjang untuk masuk atau tidak. Lia mengetuk pintu kamar berulang-ulang tapi tak ada jawaban, sehingga Lia memutuskan masuk ke dalam kamar.


Lia terkagum melihat kamar Anand yang terlihat rapi, bersih, ia melihat-lihat foto yang ada di kamar Anand.


Hahahaha ternyata wajahmu masih kecil gemesin ya tuan batu, berbeda dengan sekarang, sekarang menjadi batu kalau di ingat-ingat wajahmu seperti robot yang tak berekspresi.


"Hey kamu, ikut aku sekarang" ucap Lia dengan mengikuti gaya Anand ketika memanggil dirinya.


Lia tertawa terbahak-bahak mengingat raut wajah Anand yang seperti robot tak ada ekspresinya sama sekali


Lia begitu bahagia melakukannya sampai ia tak menyadari pria batu yang di maksudnya berada di belakangnya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Anand.


Lia kaget mendengar orang yang bersuara di belakangnya, karna kaget Lia terperanja dan tak bisa mengimbangi tubuhnya sampai akhirnya ia jatuh bersandarkan di tubuh Anand.


Anand menarik nafasnya, wanita di depannya selalu membuatnya sial. siapa lagi kalau bukan Lia.


Anand melangkah mundur untuk menghindari terjadi apa-apa tapi malah ia memilih mundur terjadi sesuatu. Lia menahan dirinya agar tidak terjatuh karna Anand melangkah mundur.


"Aaaaaa" Lia berteriak dan tanpa sengaja ia menarik handuk yang di pakai oleh Anand. jika Lia tak menahan di tubuh Anand mungkin dirinya akan terjatuh tergeletak di lantai.


Ketika melihat handuk Anand jatuh Lia begitu malu, tapi tidak dengan pria batu ini. ia hanya diam saja menatap wajah Lia. sedangkan Lia menutup matanya menyuruh Anand memakai handuknya kembali.


"Pakai handukmu tuan batu"


"Bukankah ini yang kamu inginkan dengan masuk ke kamarku, untuk melihat apa yang tak seharusnya kamu lihat"


Sialan, aku tidak seperti itu. jika aku ingin melihatnya aku tak perlu menunggu hari ini pasti aku sudah mengintipmu pertama kali tinggal di sini tuan batu.


"Kata bi izah tuan ingin bertemu dengan saya, makanya saya datang menemui tuan"


"Tapi bukan berarti kamu masuk tanpa di persilahkan"


"terserahlah" ucap Lia dengan pergi tapi kakinya terpeleset dan terjatuh kembali ke tubuh Anand Lia mencium dada bidang milik Anand.


Anand mendorong Lia menyuruhnya keluar dari kamar, menurut Anand Lia sudah keterlaluan dengan mengambil kesempatan memeluknya dan mencium tubuhnya.


"Ingat ya tuan batu, aku gak sengaja melakukannya" ucap Lia dengan pergi keluar


"Lia kenapa kamu keluar dari kamar Anand?"


"Gak usah berfikiran yang aneh-aneh deh, aku di panggil karna dia ingin menemuiku"


"Yakin hanya itu saja Lia, tapi kenapa wajahmu memerah seperti itu, kamu gak pakai makeup kan pagi ini"


Lia menatap Zey dan berbalik ke arahnya, mereka berhadapan.


"Benarkah wajahku memerah"


"Hmmmm" Zey senyum-senyum sambil menunjuk wajah Lia. "Yakin gak ada yang terjadi Lia"


"Aku gak sengaja terjatuh dan semua itu kesalahan dia kalau dia gak melangkah mundur gak mungkin aku terjatuh sampai mencium dadanya"


"Benarkah? wuaa sedikit lagi rencanaku bakal berhasil"


"Rencana apaan sih Zey?" tanya Lia karna saat ini Lia tidak mengetahuinya kalau Zey merencanakan menjodohkan Lia dan Anand.


"Gak ada Lia"


"Kamu bohong kan Zey"


"Beneran gak ada Lia"


Lia melihat bi Izah pergi, ia memanggil bi Izah.


"Bi mau kemana"


"Mau kepasar non Lia"


"Lia ikut ya bi" ucap Lia dengan berlari menghampiri bi Izah


"Tapi non, di pasar kotor"


"kalau kotor kenapa bi?! Lia juga sebagai pelayan di sini jadi biarkan Lia pergi bersama bi Izah membantu bibi yaa. Lia bosan di rumah terus"


"Ya sudah"


Anand keluar dari kamarnya, ia melihat Zey sedang duduk.


"Di mana dia?"


"Dia siapa Anand"


Anand melebarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Lia.


"Lia gak ada Anand tapi dia sudah membuatkan kamu jus"


"Kemana dia pergi?" tanya Anand dengan mengambil jus buatan Lia untuknya


"Dia pergi bersama dengan Bi Izah ke pasar"


Zey mendekati Anand, ia menatap mata dan wajah Anand. Anand memundurkan tubuhnya karna wajah Zey berdekatan dengan wajahnya.


"Ada apa sih Zey?"


"Apa kamu"


Sebelum Zey mengatakannya Anand pergi meninggalkan Zey, ia pergi ke ruang kerjanya. Zey mengikuti Anand untuk memastikan yang terjadi pagi ini.


"Urus urusanmu sendiri Zey, paham kamu" ucap Anand dengan menunjuk Zey tepat di dadanya.


"Aku gak suka urusan pribadiku di campuri, dan kenapa kamu berada di sini pagi-pagi begini, apa kamu sudah bosan bekerja sebagai dokter?"


"Okey, okey. aku gak akan mencampuri urusan pribadimu tapi biarkan aku ikut campur dalam urusan cintamu"


Anand tak habis pikir bisa-bisanya ia memiliki sahabat yang selalu ikut campur dalam urusannya. Anand mengambil handphonenya di saku celananya dan menelfon pihak rumah sakit.


Zey yang mendengar Anand menyebut nama di rektur rumah sakit, ia langsung mengambil handphone Anand.


"Baiklah, aku gak akan ikut campur lagi dengan urusanmu, tapi aku datang kesini karna aku ingin melihat pasienku benar-benar sudah pulih atau belum"


"Tapi kamu sudah melihatnya kan bagaimana dia beberapa hari ini, dan juga dia sudah pergi bersama dengan bi Izah keluar rumah berarti"


"Iya aku tau maksud kamu berarti dia sudah pulih dan sembuh"


"Trus sekarang"


"Sekarang aku pergi"


Anand mengangkat tangannya dengan mempersilahkan Zey pergi.


"Sssshhhh, aku sumpahin kamu jatuh cinta ke Lia" ucap Zey dengan kesal sebelum ia pergi


Anand menatap Zey dengan tatapan kesal, begitupun Zey menatap Anand dengan kesal sampai akhirnya Anand mengambil pulpen yang ada di mejanya dan di lemparkan ke Zey.


Anand menarik nafasnya dalam-dalam, pagi ini tenaganya terkuras dengan dua orang yang sangat menjengkelkan yaitu Lia dan Anand. inilah alasan Anand yang tak mau menerima siapapun masuk ke rumahnya, semua akan terlihat kacau dan berantakan menurut Anand.


Anand mendapat telfon dari tangan kanannya yang bernama Roy, semalam tempat penyimpanan senjata mereka di serang dan beberapa senjata hilang. Roy mencurigai bahwa saat ini ada orang yang berkhianat dan mata-mata.


Anand memijit kepalanya setelah mendapatkan telfon dari tangan kanannya Roy. ia meminta semua anak buahnya di kumpulkan, ia akan mencari siapa yang berani berkhianat padanya malam ini.


Lia berbelanja dengan Bi Izah, Lia terlihat begitu bahagia semua orang di pasar terhibur dengan apa yang Lia lakukan. orang-orang dipasar begitu menyayangi Lia walaupun ini pertama kali dirinya ke pasar. sambil tertawa ia berjalan mundur.


"Awas non Lia"


Lia hampir saja terjatuh, tapi dengan cepatnya seorang pria mendekapnya. Lia dan pria itu saling bertatapan membuat yang berada di pasar tersenyum melihat Lia dan pria itu.


"Apa anda tidak apa-apa nona?"


"Haaaaa, ee maaf tuan" ucap Lia dengan tersadarkan mendengar ucapan pria itu.


"Gak apa-apa nona, saya Mario tapi orang-orang sering memanggil saya Rio"


"Lia, kamu bisa panggil saya Lia"


Awal yang bagus untuk Lia, ia tidak menyangka di pasar tradisional seperti ini masih ada pria tampan datang berbelanja.


"Hayo siapa dia non"


"Bukan siapa-siapa bi, tapi dia cakep bi. hahahaha" ucap Lia dengan tertawa.