
Sudah dua hari Anand berada di tempat itu, yang ia lakukan hanya mabuk-mabukan sendiri tanpa di ketahui orang lain, bahkan Anand terlihat seperti pria biasa bukan pria yang di takuti oleh orang-orang. Anand terlihat berantakan tidak seperti dirinya sendiri. Ruangan yang ia tempati terlihat begitu berantakan bahkan semua sampah berserahkan.
Kinar mulai mencari Anand, ia merasa cemas dengan keberadaan pamannya. Kinar mengajak semua pengawal agar menemaninya mencari. Namun demi keselamatan Anand, Kinar mencarinya tanpa di ketahui siapapun termasuk teman-teman Anand. Sudah tiga hari Kinar mencari Anand namun tak ketemu juga sampai akhirnya ia meminta bantuan kakeknya yaitu ayah Anand. Dengan koneksi yang kakeknya miliki di mmana-mana akhirnya mereka menemukan keberadaan Anand.
Anand berada di tempat terpencil di mana tempat itu menadi tempat untuknyyaketika harus menenangkan dirinya. Kinar pergi menjemput Anand sesampainya di tempat itu semua orang menatap Kinar dengan kagum dan keheranan.
Kinar yang menggunakan kacamata hitam dan juga jaket kulit yang berwarna hitam, siapa sangka wanita yang memiliki paras cantik dan elegan itu sudah bersuami dan memiliki tiga anak. Dua anak bujang dan satu anak gadis. Kinar masuk kedalam dan menemui pemilik tempat dengan memberikan foto milik Anand dengan menanyakan keberadaan Anand.
“ Dimana orang ini berada?” tanya Kinar dengan menyodorkan sebuah foto.
Pemilik tempat melihat gambar yang di berikan oleh Kinar, lalu menatap Kinar. Pemilik tempat awalnya tidak akan memberitahu keberadaan Anand. Namun Kinar sedikit mengancam ke pemilik tempat tersebut.
“Maaf Nona saya tidak mengenal orang ini” ucap pemilik tempat
Dengan kesal Kinar menghela nafasnya dan mengeluarkan kacamata hitamnya.
“Saya hanya ingin mencari pria yang ada di foto itu, dan tempat terakhir yang kunjungi adalah tempat milik anda”
“Saya tidak mengenal orang ini”
Dengan kesal Kinar mengeluarkan sejumlah uang untuk di berikan ke pemilik tempat agar ia memberitahu di mana Anand berada. Kinar menyembunyikan identitasnya agar kedatangannya tidak di ketahui orang yang mengincar hidup keluarganya termasuk pamannya, Anand.
Pemilik tempat masih bersikeras tak memberitahukan keberadaan Anand, dan tak heran juga kalau pemilik tempat itu memiliki nyali karna dirinya juga memiliki beberapa pengawal. Tempat yang Anand datangi bukanlah tempat sembarangan.
“Jangan memancing saya untuk melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dan menghancurkan hidup anda tuan” ucap Kinar memberika peringatan kepada pemilikk tempat
Namun pemilik tempat malah menantang Kinar sehingga terjadilah baku hantam antara orang-orang yang di bawah Kinar dan juga orang-orang pemilik tempat. Dan sudah terlihat kalau orang-orang pemilik tempat terjatuh terkalahkan oleh orang-orang Kinar.
“Jangan memancing saya buat mematahkan tangan dan kaki anda tuan, agar anda mengatakan di mana paman saya berada” ucap Kinar
Pemilik tempat meminta Kinar mencarinya sendiri, ia masih bersikeras tak memberitahukannya. Bahkan pemilik tempat diam-diam menelfon polisi dan melaporkan kalau tempatnya di serang oleh beberapa gangster yang tak ia kenal.
Kinar memberikan perintah kepada orang-orangnya agar mencari Anand di dalam. 30 m3nit kemudian terdengar di luar suara sirene milik polisi. Semua orang-orang kinar melaporkan kalau mereka tak menemukan Anand.
Kinar menemui polisi yang datang ia memberikan alasannya dirinya datang ke tempat itu, namun salah satu polisi meminta agar Kinar ikut dengan mereka ke kantor, memberikan keterangan di kantor mereka. Beberapa orang Kinar menghalanginya namun Kinar meminta mereka agar tak ikut campur.
“Kalian tak perlu ikut campur, ini urusanku dengan polisi.” Ucap Kinar
Kinar mendekati polisi dan memberikan kartu nama miliknya. Polisi terdiam ketika membaca nama yang ada di kartu nama kinar berikan.
“Baiklah, bisa saya melihat gambar orang yang nona cari ?”
Kinar memberikan gambar Anand. Dan betapa terkejutnya polisi bahwa pria yang di gambar adalah putra dari seorang mafia ternama dan terkenal tak ada ampun pada musuhnya bahkan orang yang berani mengusiknya. Polisi berjalan mendekati pemilik tempat dan bicara baik-baik.
“kami tidak tau keberadaan pria yang ada di foto ini”
“Kalian tidak perlu berpura-pura lagi, demi keselamatan dan tempat kalian, sebelum mereka datang kesini mereka sudah tau lebih dulu kalau pria ini ada di tempat ini”
“Tapi pak polisi” ucap pemilik tempat yang masih bersikeras tidak mengetahuinya dan tidak terima kalau orang-orangnya di hajar.
“Ayolah tuan bukan saatnya kamu berpura-pura” ucap polisi
“Apa anda bekerja sama dengan mereka ? mereka telah memukul orang-orangku”
Kinar mendekati pak polisi dengan pemilik tempat.
“Jika benar paman saya tidak berada di tempat ini, baiklah kami akan pergi tapi dengan perginya kami. Kami tidak bisa menjamin tempat ini akan baik-baik saja” ucap Kinar dengan tatapan tak terbacakan.
Namun ketika Kinar akan meninggalkan tempat itu, ia melihat mobil milik Anand yang berada di tempat tidak jauh dari Bar itu.
“Periksa mobil itu” perintah Kinar
Pemilik tempat menjadi gugup dengan adanya mobil Anand di temukan. Lalu tiba-tiba salah satu orangnya memberikan sebuah handpone dan betapa terkejutnya dia, kalau pria yang ia coba sembunyikan adalah putra dari seorang mafia yaitu Robert. Dengan cepat ia menggeser layar handpone dan ia pun tertekun kalau wanita yang sedang mencari pria itu adalah cucuk dari tuan Robert seorang mafia yang berdarah dingin. Dengan keringan bercucuran ia segera masuk kedalam dan menemui Anand.
Anand yang saat ini terkunci di ruangan gelap dengan keadaan terikat dan di penuhi darah bahkan dirinya terlihat lemah karna mabuk. Terkuak dari kondisi Anand yang tak berdaya. Seseorang telah memukulnya.
Kinar dan beserta orang-orangnya kembali ke Bar dengan menemui pemilik tempat. Pemilik tempat bersujud di hadapannya memohon ampun karna sudah lancang membohongi Kinar. Pemilik tempat pun memberitahu kalau Anand berada di dalam.
Kinar melihat pamannya yang tergeletak tak berdaya di lantai langsung memeluknya. Pemilik tempat berlari mendekati kinar dengan mengatupkan kedua tangannya.
“Maafkan saya Nona, saya hanya melaksanakan perintah”ucap pemilik tempat
. mendengar ucapan pemilik tempat Kinar langsung menatapnya.
“Siapa yang memerintahkanmu melakukan semua ini kepada pamanku?” teriak Kinar
“Maafkan saya Nona, saya tidak mengetahuinya. Saya mendapatkan perintah lewat telfon dengan di berikan imbalan seratus juga asalkan saya..” pemilik tempat menghentikan ucapannya
“Lanjutkan ucapanmu, sebelum aku membunuhmu” ucap Kinar dengan wajah sangat marah
“Asalkan saya membunuhnya Nona” ucap pemilik tempat ketakutan dengan seluruh tubuhnya gemetar
“Bawah dia ke mobil” perintah Kinar dengan meninggalkan tempat itu.