
"Bagaimana keadaan kamu, udah baikan?" tanya Anand ketika ia melihat Lia yang sedang berada di dapur.
"Sudah tuan" jawab Lia
Anand pergi keluar untuk ke markas menemui anak buahnya untuk membahas senjata yang di curi oleh Dion, musuhnya. Anand yang tidak suka berbasa basi iya langsung mengatakan ke Roy mereka harus mencari cara agar bisa mengambil kembali senjata yang mereka curi.
Roy sebagai tangan kanannya selalu mendapatkan ancaman dan hukuman dari Anand. karna kelalaiannya sendiri dengan pekerjaannya.
Siapapun yang melalukan kesalahan Anand tidak pernah memberikan kesempatan, Anand selalu menghukum mereka dengan memukul, bahkan beberapa kali Anand membunuh pengkhianat di depan Roy dan yang lainnya. Anand merupakan pria yang tidak suka berbelit-belit.
Siang itu rumah Anand kedatangan tamu, mereka melihat-lihat sekeliling rumahnya, tapi hanya bisa di lihat di luar pagar saja, tapi mereka memaksa untuk masuk kedalam rumah. namun ketua keamanan Anand melarang mereka walaupun mereka menyebutkan di rumah itu ada putrinya.
Mira dan Serina memaksa untuk melewati keamanan tapi tidak berhasil sampai akhirnya mereka kembali.
"Wuaa Lia hebat Bu, baru beberapa hari kita mengusirnya sudah mendapatkan tempat tinggal, besar pula rumahnya"
"Paling juga dia sebagai pembantu atau wanita simpanan om-om, gak mungkinlah Lia seperti itu dapat pria yang tampan dan kaya, mimpi kali" ucap Mira ibu tiri Lia.
Siang itu Lia mendapat telfon dari Rio kalau sore nanti Rio mengajaknya keluar untuk nonton. Lia begitu senang sampai akhirnya ia mengiyakan tanpa berfikir panjang.
Sore telah tiba Lia berdandan begitu cantik dengan menunggu Rio menjemputnya, bi Izah ikut bahagia melihat Lia tersenyum sambil menanyakan ke Bi Izah tentang penampilannya.
"Bi, bagaimana penampilan Lia?" tanya Lia sambil memutar-mutarkan tubuhnya
"Non Lia cantik banget, kalau bibi punya putra pasti bibi bakal jodohin non Lia dengan anak bibi"
"Bibi ada-ada aja ngomongnya"
"Beneran non Lia."
Tak lama suara mobil terdengar di depan rumah, Lia bergegas keluar dari rumah dengan berlari kecil karna bahagia Lia tersenyum menatap Rio yang sedang berdiri menunggu Lia untuk membukakan pintu mobil untuk Lia.
Ketika Lia melangkah mendekati mobil, Rio membukakan pintu untuk Lia.
"Silahkan masuk tuan putri" ucap Rio
"makasih tuan" balas Lia bercanda sambil tersenyum
Lia begitu senang bisa keluar rumah, dan ini pertama kalinya ia jalan dengan cowok keluar, menurut Lia. Rio begitu baik tidak ada alasan buat dirinya takut jika Rio melakukan sesuatu padanya itu tidak mungkin.
Setengah tujuh malam Anand sampai di rumahnya, ia pergi ke kamarnya untuk mandi, setelah selesai mandi ia melihat rumah begitu sepi. Anand belum melihat Lia. ia pergi ke dapur mengambil segelas air dan menanyakan Lia ke Bi Izah.
"Bi, kenapa begitu sepi?"
Sepi? bukannya rumah selalu sepi seperti ini, apa tuan Anand menanyakan non Lia tapi malu menanyakannya langsung.
"Non Lia lagi tidak di rumah tuan"
Anand mengalihkan tatapan ke arah bi Izah.
"Kemana dia malam-malam begini?"
"Non Lia pergi keluar tuan"
"Pergi dengan siapa?"
"Dengan tuan Rio"
Anand kaget mendengar siapa yang pergi bersama dengan Lia. Anand ingin menghubungi Lia tapi ia tidak memiliki nomor kontaknya.
"Sial..." umpat Anand dengan marah
Anand mondar mandir di dalam kamarnya, lalu pergi mengecek keluar untuk memastikan jika Lia sudah pulang, tapi Lia belum pulang juga. Anand pun masuk ke ruang kerjanya tapi ia tidak bisa konsentrasi untuk mengerjakan pekerjaannya karna Lia selalu muncul di pikirannya.
Pukul 8 malam Lia sampai di rumah dengan di antar oleh Rio, tapi Rio hanya mengantarnya saja tidak mampir.
Lia terlihat bahagia masuk kedalam rumah, baginya ini merupakan kenangan yang ia tidak akan lupakan.
Anand berdiri dengan melipatkan kedua tangannya sedangkan Lia tersenyum seperti orang yang sedang di mabuk cinta.
Lia kaget mendengar suara Anand yang berada di belakangnya.
"Kamu dari mana?" tanya Anand dengan wajah yang mulai kesal
"Maaf tuan, saya habis pergi jalan-jalan bersama dengan Rio" jawab Lia dengan tersenyum
"Malam ini kamu di hukum harus membersihkan ruang kerja saya"
"Tapi tuan apa kesalahan saya?" tanya Lia dengan mengejar Anand yang berjalan menuju ke kamarnya.
Dahi milik Lia kejedot pintu kamar Anand ketika Lia mencoba mengejar Anand sebelum pintu kamarnya tertutup tapi pintu itu tertutup mengenai dahinya.
"Dasar tuan batu, apa gak bisa anda membiarkan saya sehari saja tanpa di hukum dan tidak mengganggu saya" teriak Lia di depan pintu kamar Anand
"Dasar pria gila, pria kesepian, pria apalagi ya" ucap Lia yang terhenti "Terserah dah pokonya dia adalah pria paling rese di dunia ini" celoteh Lia sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Anand menelfon Roy untuk mencari tau Lia pergi kemana saja dengan Rio.
Roy keheranan mendengar Anand memerintahkan dirinya untuk menyelidiki wanita padahal selama ini Anand tidak pernah memerintahkan dan menyuruh Roy mencari informasi tentang wanita.
Sejak kapan tuan Anand tertarik dengan masalah wanita, bukankah selama ini dia hanya memikirkan pekerjaan dan senjata-senjatanya, tapi kenapa sekarang malah memerintahkan saya mencari informasi kemana saja Lia pergi sore ini. dan siapa Lia kenapa tuan Anand membutuhkan informasi itu malam ini.
Roy menggelengkan kepalanya menurutnya itu bukanlah urusannya, jika ingin aman turuti semua apa yang tuan Anand perintahkan.
Roy mendapatkan informasi bahwa Lia sore ini pergi bersama Rio nonton, makan, bahkan Rio menyentuh rambut Lia.
Anand yang mendengar itu semua, ia mengepalkan tangannya dan keluar dari kamarnya memanggil Lia.
"Lia...Lia .." teriak Anand berada di ruang keluarga
"Iya tuan" jawab Lia dengan berlari ke arah Anand
Anand menatap wajah Lia, menatap rambut Lia, lalu raut wajahnya berubah menatap Lia.
"Malam ini kamu harus membersihkan rak buku yang ada di ruang kerjaku"
"Bukankah kemarin sudah di bersihkan tuan?"
"Masih terdapat beberapa debu di sana"
Dasar pria jahat...
Lia berjalan menuju kearah ruang kerja Anand, ia mulai membersihkan rak bukunya, Lia mulai terlihat kecapean. tapi wajah Lia yang tadinya kesal sekarang berubah menjadi ceria karna mendapatkan pesan dari Rio.
"Kamu lagi apa Lia?"
"Aku lagi duduk aja sambil main handphone"
"Aku gak mengganggu kamu kan?"
"Gak sama sekali"
Anand yang melihat Lia tersenyum sambil menatap handphonenya, membuat Anand marah.
"Sedang apa kamu?"
"Gak ngapa-ngapain tuan"
"Di saat bekerja gak boleh memegang handphone, jika tidak saya akan menyita handphone milik kamu"
Apa-apaan sih ini orang, ini kan handphone saya, terserah saya dong mau apa.
"Kamu dengar tidak?" bentak Anand
"Iya tuan saya dengar"
Lia melanjutkan pekerjaannya, walaupun handphone miliknya terus berdering ia mengabaikannya karna saat ini Anand menatap Lia dengan tatapan tak terbacakan.