Mafia'S Favorite Girl

Mafia'S Favorite Girl
Bab 11



Keesokan paginya, Lia melakukan semua tugasnya sebagaimana biasa. menyiapkan semua keperluan Anand dengan menyiapkan jus dan makanannya.


Anand keluar dari kamarnya dengan menuju ke meja yang ada di dapur, ia duduk sambil menunggu jusnya di berikan oleh Lia.


Lia meletakan jus dan sepotong sandwich di depan Anand. ketika ia meletakannya mata Lia melirik ke arah tangan Anand lalu pergi meninggalkan Anand.


Anand sengaja menaruh tangannya di atas meja untuk di perlihatkan ke Lia. agar Lia melihat kalau tangannya baik-baik saja.


Anand meminum jusnya dan memakan sandwich nya dengan menatap Lia yang sedang membersihkan tempat yang ia buatkan jus buat Anand.


Pagi itu bi Izah datang dengan pamit ke Lia kalau dirinya pergi ke pasar.


Aku malas ngapa-ngapain hari ini bahkan mau ke pasarpun aku malas.


Ketika Lia berbalik dan melihat Anand sedang menatapnya, membuat Lia kesal karna mengingat sikap Anand semalam. Lia dengan cepat menyusul bi izah.


"Eh kamu mau kemana?" tanya Anand tapi Lia tidak menjawabnya ia terus berlari mengejar bi Izah


Anand menghela nafasnya karna kesal Lia mengabaikannya, dengan cepat ia memakan sandwich dengan wajah yang begitu kesal.


"Bi, bi Izah" panggil Lia dengan berlari


Bi Izah yang mendengar namanya di panggil, ia berbalik dan mendekati Lia.


"Non Lia ada apa, kenapa berlarian seperti itu"


Lia membungkukkan tubuhnya sejajar dengan lututnya, dengan satu tangannya memegang lututnya dan yang satunya di angkat untuk menahan bi Izah agar gak bertanya dulu, Lia mengatur nafasnya agar kembali normal lagi dan bisa menjawab apa yang bi Izah tanyakan padanya.


"Non, non kenapa gak manggil bibi, mungkin non Lia gak kelelahan seperti ini"


"Aku sudah memanggil bibi, tapi bibi gak dengar"


"Maaf non, kalau telinga bibi kurang mendengar maklum udah tua" ucap bi izah dengan tersenyum


"Iya gak apa-apa bi"


Lia dan bi Izah berjalan menuju ke pasar, ketika turun dari becak Lia menggandeng lengan bi Izah layaknya sebagai seorang anak yang takut di tinggal oleh ibunya di pasar.


Semua orang di pasar menyapa Lia dengan penuh senyuman, dengan sikap Lia yang selalu mengoceh tanpa henti membuat pedagang di pasar terhibur dan mengenal Lia.


Seperti biasa Lia membantu bi Izah memilih semua yang akan di beli, dari sayuran, rempah-rempah dan lainnya.


Lia membeli dengan caranya menawar sambil merayu pedagang sehingga membuat pedagang tertawa karna rayuan Lia. dengan merasa terhibur mereka memberikan sesuai tawaran Lia.


Dari kejauhan seseorang terlihat begitu tampan dengan balutan kaos hitam dan di lapisi dengan jaket hitam di lengkapi dengan aksesoris topi dan kacamata untuk menambah ketampanannya. siapa lagi kalau bukan Anand.


Anand mengikuti Lia dan bi Izah kepasar, merasa penasaran apa yang mereka lakukan, dengan melihat apa yang Lia lakukan Anand tak menyadari jika bibirnya terangkat sedikit karna tersenyum, namun senyuman itu menghilang ketika melihat seseorang sedang berjalan mendekati ke arah Lia.


Sedang apa dia di sini, kenapa dia menatap Lia seperti itu dan kenapa dia mendekati Lia. apakah mereka saling kenal.


Anand berbicara sendirian dengan menanyakan apa yang di lakukan pria itu.


"Hay Lia" sapa pria itu dengan berdiri sambil meletakan kedua tangannya di belakang tubuhnya dengan menyilang kan.


"Rio.!!" tunjuk Lia tidak percaya jika mereka bertemu kembali di tempat mereka bertemu pertama kali.


Rio menatap bi Izah dengan menundukan kepalanya sebagai tanda hormatnya pada orang tua.


"Kamu belanja juga di sini?"


"Iya aku sering berbelanja di sini, soalnya kalau di tempat lain mamaku gak mau Lia"


"Wuaa, pasti kamu gak mau ya belanja di sini hanya karna mama kamu makanya kamu kesini"


"Awalnya gitu tapi mamaku sering memaksaku agar menemaninya ke sini, dan akhirnya karna mama. aku udah terbiasa ke tempat ini dan kalau bukan karna mama mungkin aku gak bisa bertemu dengan wanita cantik di sini"


"Ah kamu bisa aja Rio" ucap Lia dengan tersenyum.


Mereka terlihat akrab, sejak kapan Lia kenal Rio. dan apa ini dia terlihat bahagia dengan tersenyum, jelas-jelas di rumah tadi dia gak begitu.


Anand mengepalkan kedua tangannya karna kesal, sehingga membuatnya pergi meninggalkan pasar.


Lia dan Mario saling bertukaran nomor handphone milik mereka, dengan pertemuan kedua itu mereka mulai terlihat akrab dan mulai dekat.


Lia menemani Rio berbelanja kebutuhan mamanya bersama dengan bi Izah. dalam berjalan Rio terus menatap Lia yang mengoceh sepanjang jalan dan menawar sesuatu yang di beli oleh Rio.


Lia berbalik menatap Rio sambil tersenyum dengan bertanya. Rio yang tidak ingin ketahuan ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Bi Izah tersenyum karna ia tau kalau saat ini pria itu memiliki perasaan ke Lia. tapi bi Izah hanya menebaknya saja sebagai seseorang yang pernah merasakan muda dulu pasti tau gimana gerakan tubuh memperagakan orang yang telah jatuh cinta. dan itu tidak bisa di pungkiri karna BI Izah pernah berada di masa mereka sekarang.


Setelah berbelanja semua, Rio menawarkan untuk mengantar Lia dan bi Izah tapi Lia menolaknya.


"Iya"


"ya sudah sekalian aku antar pulang"


"Gak usah nak Rio, nanti merepotkan"


"Gak bi, Rio gak merasa di repotkan"


" Maaf ya Rio bukannya kita gak mau, tapi aku sama bi Izah masih ada yang ingin kami beli di tempat lain, benarkan bi?" ucap Lia sambil memainkan matanya


"Iya nak Rio"


"Ya sudah kalau begitu, tapi lain kali jangan menolak ya" ucap Rio dengan bercanda sambil tersenyum


Lia pun ikut tersenyum dengan apa yang Rio katakan.


"Sampai ketemu lagi Lia"


"iya"


Rio masuk kedalam mobilnya dengan menyalahkan mesin mobilnya, tapi sebelum pergi ia menatap Lia kembali dengan tersenyum lalu ia pergi menghilang.


"Dia tampan dan baik hati ya bi"


"Iya, tapi kenapa non Lia gak mau di antar?"


"Gak ah, bibi kan tau kita ini siapa gak mungkinlah naik mobil semewah itu"


"Iya bener juga non Lia" ucap bi izah lalu mereka tertawa bersama.


*****


Seseorang sedang duduk dengan wajah yang begitu sulit di baca, ia mengganti-ganti Chanel TV, entah sedang menonton atau sedang bermain gak ada yang tau apa yang ada di pikiran pria itu, siapa lagi kalau bukan Anand.


Anand kesal melihat Lia dekat dengan pria yang berada di pasar, bisa tertawa lepas seperti itu di depan orang lain sedangkan di hadapannya Lia tak melakukan seperti itu.


Lia dan bi Izah masuk kedalam rumah dengan Lia membawakan tas belanja.


"Dari mana kamu?" tanya Anand ke Lia dengan mendekatinya.


Lia yang kebingungan dengan pertanyaan Anand yang sudah jelas Anand bisa melihat apa yang di bawakan Lia dari pasar.


Ini orang buta atau apa sih, udah tau bawah tas beginian yang isinya sayur-sayuran berarti dari pasar, gak mungkinlah dari mall atau hotel.


Cretak.. sentilan keras di jidat Lia.


"Aauu sakit" ucap Lia dengan menggosok-gosok tangannya ke jidatnya.


"Kalau saya bertanya jawab bukan melamun"


Dengan kesal Lia meniup rambutnya yang menutup jidatnya. lalu ia mengangkat tas belanja yang ia bawah dengan berisikan sayur-sayuran.


"Ini apa?" tanya Lia dengan mengangkat tas belanja.


"Ini sayuran"


"Jadi kalau ini sayuran berati saya dari mana?"


"Pasar"


"Tuhkan udah tau kenapa lagi di tanya, emang saya bawah yang beginian dari mall dan hotel tuan" ucap Lia dengan kesal karna Anand selalu menyentil jidatnya.


"Maksud yang saya tanyakan itu adalah" ucapan Anand terhenti sedangkan Lia terus menatapnya untuk menunggu lanjutannya.


Kalau sampai aku menanyakan pria yang bertemu dengannya di pasar tadi, nanti aku ketahuan sudah mengikuti mereka ke pasar. dan itu akan membuatnya besar kepala. nanti aku di kira suka sama dia lagi.


"Maksud kamu apa, silahkan lanjutkan"


"Pergi sana mandi, badan kamu bau" ucap Anand mengalihkan pembicaraannya dengan berpura-pura muntah karna bau dan pergi meninggalkan Lia


"Aneh, dasar tuan batu yang aneh"


Bi Izah yang melihat tuannya seperti itu, ia menahan tawa dengan menutup mulutnya dengan tangannya sendiri.


Lia mengangkat tangannya dengan mencium ketek, dan tubuhnya.


"Gak bau koq, mungkin hidungnya lagi bermasalah kali ya" ucap Lia dengan berbalik untuk meletakan tas dan sayuran di tempatnya.


Lia berpamitan ke Bi Izah untuk pergi mandi, karna ia sudah merasa tubuhnya berkeringat dan lengket.