
Anand kembali ke rumahnya dengan di ikuti oleh Zey. Zey tersenyum melihat wajah Anand. ia terus menatap wajah Anand di dalam mobil.
"Apa yang kamu lihat Zey?" tanya Anand
"Benarkah apa yang kamu katakan tadi ke Dirga ?"
"Emang apa yang aku katakan ke Dirga?" tanya Anand ke Zey dengan santai sambil menyetir mobilnya
"Yang kamu katakan ke Dirga tentang Lia"
"Kenapa dengan Lia?"
Zey terlihat mulai kesal dengan sikap Anand yang memutar-mutar pertanyaan yang ia lontarkan.
"Jangan bilang kalau apa yang kamu katakan ke Dirga tadi hanyalah bohong Anand, bahwa Lia adalah wanitamu"
Anand tidak menghiraukan apa yang Zey bicarakan, ia fokus dengan menyetir mobilnya. Anand menghentikan mobilnya dengan mengantar Zey
"Kenapa berhenti? jangan kabur kamu dari pertanyaanku"
"Turunlah, kita sudah sampai di depan rumahmu" ucap anand
"What? jadi ini caramu dengan menghindari pertanyaanku?"
"Turunlah Zey sebelum aku menendangmu keluar"
"Sialan.." umpat Zey kesal dengan turun dari mobil Anand.
"Malam ini kamu lolos Anand, tapi jangan harap besok kamu bisa lolos" ucap Zey dengan mengancam Anand
Anand meninggalkan Zey dengan melajukan mobilnya tanpa menjawab apa yang Zey katakan.
Anand sampai di rumahnya, setelah memarkirkan mobilnya, ia pergi ke dapur untuk mengambil air putih untuk di minumnya. beberapa menit bi Izah pun melewati dapur menuju ke kamarnya di halaman belakang.
"Bi, bagaimana keadaan Lia?" tanya Anand
"Non Lia udah tidur tuan, tapi sebelum tidur non Lia terlihat sedih dan menangis tuan" lapor bi Izah ke anand.
"Baiklah, makasih bi"
Anand pergi menuju ke kamar Lia sebelum ia ke kamarnya, anand membuka pintu kamar dan melihat keadaan Lia. Anand berjalan mendekati tempat tidur ia menatap wajah Lia yang sedang tidur.
Keesokan paginya Anand terkejut melihat Zey yang sudah berada di rumahnya pagi-pagi sekali.
"Sedang apa kamu di sini Zey?"
"Aku datang mau lihat kakak ipar" ucap Zey sambil tersenyum.
"Sejak kapan dia kakak iparmu, emang dia mau jadi kakak iparmu. kalau aku sih" ucap anand menatap Zey lalu menghela nafasnya seolah anand ngeri jika menjadi kakak ipar Zey.
"Memangnya ada apa denganku?"
Lia keluar dari kamarnya berjalan ke arah dapur. ia menatap wajah Zey bergantian dengan wajah Anand.
"Selamat pagi tuan" sapa Lia ke anand sambil menuangkan air putih ke gelas untuk di minumnya.
"Pagi kakak ipar" sapa Zey yang membuat Lia terkejut mendengar apa yang Zey ucapkan sampai air putih yang Lia minum terpanjar keluar.
Sedangkan Anand bersikap seperti biasa tak ada senyuman dan gerakan berlebihan dengan sikapnya seperti itu ia terlihat keren dan cool.
"Ada apa kakak ipar?" tanya Zey dengan mendekati Lia
"Zey, panggil namaku saja gak perlu panggil aku Kakak ipar. jangan bercanda berlebihan Zey"
"Aku gak bercanda koq Lia, kamu tuh emang calon kakak ipar ku"
"Apa? kamu pasti bercanda Zey, apa kamu salah makan pagi ini" ucap Lia
"Aku gak salah makan apa-apa koq, karna aku belum sarapan dari rumah, aku maunya sarapan pagi bersama kakak ipar"
"Zey, pliss berhenti memanggilku dengan sebutan itu"
Anand menatap Zey bergantian dengan Lia, lalu ia berjalan meninggalkan Zey dan Lia. tiba-tiba langkahnya terhenti mendengar apa yang di ucapkan Zey.
"Kakak ipar handphonemu berbunyi sepertinya dari ayank bebebmu"
"Gak penting Zey, itu nomor salah sambung mungkin" ucap Lia dengan mencoba menyembunyikannya karna saat ini Anand belum pergi meninggalkan mereka.
"Tapi dia terus menelfon kakak ipar"
"Itu hanya panggilan iseng Zey"
" ya udah kalau gitu biar aku aja yang angkat telfonnya" ucap Zey dengan mencoba mengambil handphone Lia.
Ketika Lia mencoba merampas handphonennya yang di ambil Zey, tiba-tiba Anand mengambilnya dan melihat nama yang tertera di layar yang bertuliskan Mario.
Anand menatap Lia lalu menolak panggilan itu.
"Handphone ini ku sita" ucap anand dengan pergi membawa handphone Lia.
"Tapi tuan itu"
"Gak apa-apa Zey"
Zey menatap Anand yang berjalan ke arah ruang kerjanya sampai punggungnya tak terlihat lagi.
Aku tau sekarang kamu pasti cemburu, tapi kamu gak mau ketahuan sama kakak ipar kalau kamu memiliki perasaan padanya.
Zey tersenyum senang seperti baru saja menemukan sesuatu yang begitu berharga seperti harta Karun.
Lia menatap wajah Zey yang sedang tersenyum bahagia, Lia menatapnya tepat berdekatan di wajah Zey. sehingga membuat Zey terkejut melihat wajah Lia yang terlihat dekat dengan wajahnya.
"Astaga, Lia kamu mengejutkanku"
"Lah kamu kenapa senyum-senyum seperti orang gila begitu" tanya Lia dengan menatap ruang kerja Anand.
"Gak Lia, kamu jangan berfikir yang aneh-aneh"
"Kamu sama" ucap Lia dengan menunjuk ruang kerja Anand lalu menempelkan jari telunjuknya mengisyaratkan bahwa Zey dan anand memiliki hubungan istimewa.
"Gak Lia, gak mungkin aku suka sama dia, aku masih normal Lia"
"Udahlah Zey, gak apa-apa aku akan merahasiakannya dari orang-orang tenang saja" ucap Lia dengan pergi meninggalkan Zey.
Sedangkan di dalam ruang kerja Anand menatap handphone milik Lia, handphone Lia berdering terus. Anand melihat panggilan dari Mario dan Lia memiliki beberapa pesan dari Mario dan satunya nomor yang tak di ketahui nomornya.
Anand mencoba membacanya namun handphone Lia memiliki kunci pola di layarnya sehingga membuat Anand tidak bisa membaca semua teksnya. Anand yang pengen tau tentang isi pesan dari Mario dan juga nomor tak di ketahui itu membuat Anand emosi sehingga ia mencoba menggambarkan beberapa pola namun yang ia masukan salah. handphone Lia berdering dengan adanya pesan dari Mario terus masuk.
Anand memegang kepalanya dengan menarik rambutnya ketika melihat nama Mario.
"Kamu di mana Lia, aku..." isi pesan Mario yang tidak bisa di baca oleh Anand sepenuhnya semua.
"Sial, apa yang coba kamu katakan ke Lia Mario, jangan harap kamu bisa mendekati Lia" ucap Anand dengan kesal.
Tok..tok..
Anand langsung meletakan handphone Lia ke laci mejanya ketika mendengar ketukan Pintu ruangannya di ketuk seseorang.
"Mau apa kamu kemari?" tanya Anand ketika melihat Zey masuk kedalam ruang kerjanya.
"Ada apa denganmu Anand, koq emosi gitu pas lihat aku"
"Mau apa kamu kemari?"
"Oh iya, aku kemari mau ambil handphone Lia yang kamu sita"
"Apa urusannya denganmu, kenapa kamu yang mengambilnya?"
"Karna itu kesalahanku, coba kali aku gak mengambilnya pasti handphone itu masih ada sama Lia"
"Gak boleh, pokoknya handphone ini ku sita" ucap Anand dengan tegas
Tiba-tiba handphone Lia berdering lagi.
"Itu kan handphone Lia berdering, biar ku panggilkan Lia untuk menjawabnya" ucap Zey dengan keluar berlari memanggil Lia tanpa mendengar apa yang Anand ucapkan
Lia berlari masuk ke dalam ruang kerja Anand.
"Tuan kata Zey handphone saya berdering"
"Iya, tapi sekarang udah gak berdering lagi" jawab Anand dengan mencoba menyembunyikan rasa cemburunya. sebelum handphone Lia berdering lagi Anand mengusir Lia dan Zey keluar dari ruangannya.
"Kalian bisa keluar sekarang, ada sesuatu hal yang harus aku lakukan" ucap Anand.
"Kamu mengusirku juga Anand?"
"Iya kamu dan Lia bisa keluar sekarang sebelum aku menghukum Lia"
Zey yang mendengar ancaman Anand ia menarik tangan Lia.
"Ayo Lia kita keluar sebelum kamu di hukum, kamu tau kan bagaimana pria itu"
"Iya aku tau, pria kesepian, yang iri denganmu Zey" jawab Lia spontan dengan wajah kesalnya karna handphonenya di sita.
Zey terdiam dan terkejut mendengar apa yang di ucapkan Lia, sehingga membuat Zey mencoba menarik Lia keluar setelah melihat wajah Anand yang sudah memerah karna marah dengan apa yang Lia ucapkan.
"Apa yang kamu katakan tadi, ulangi Lia kalau gak ku robek mulutmu"
"Gak Anand, Lia hanya bercanda dengan omongannya kamu gak perlu mendengarnya." ucap Zey dengan mencoba menggendong Lia di punggungnya
"Hey. apa yang kamu lakukan Zey, turunkan aku." teriak Lia yang terkejut Zey tiba-tiba menggendongnya.
Anand melototkan matanya ketika melihat keberanian Zey menggendong Lia, tangan Anand mengepal ingin melayangkan pukulannya ke Zey. namun Zey keburu keluar dari ruangan kerjanya.
"Maafin aku Lia, itu cara satu-satunya agar kamu gak kena hukuman darinya" ucap Zey dengan mencoba menjelaskan maksudnya sambil meminta maaf.
"Gak apa-apa Zey, aku tau kamu menolongku" ucap Lia.
Zey tertawa bahagia dalam hatinya ketika melihat wajah Anand yang berubah saat Zey menggendong Lia.
Maafkan aku Lia, aku tidak bermaksud menjerumuskanmu dalam masalah. tapi ini satu-satunya cara yang bisa ku lakukan agar Anand mengakui perasaannya ke kamu dengan melakukan apa yang Anand tidak sukai untuk memanasi dirinya.