
Anand mulai membuat peraturan baru di rumahnya dan semua itu menurut Lia tidak masuk akal.
"Aku akan mengumumkan aturan baru di rumah ini" ucap Anand di hadapan Lia.
"Aturan pertama adalah dilarang menggunakan handphone selama 24 jam, menggunakannya sehari selama 2-3 jam"
"Apa?"
"Setelah saya selesai membacakan aturannya baru kamu bisa berkomentar paham?"
"Iya paham"
Anand melanjutkan membacakan aturan yang keduanya
"Aturan yang kedua adalah di larang keluar rumah di malam hari di atas jam 7 dan sore di atas jam 3, adapun keperluan hanya bisa keluar dengan 30 atau 60 menit lamanya, jika sampai terlambat akan menanggung akibatnya. selanjutnya aturan ketiga yaitu di larang mengundang teman cowok datang ke rumah ini siapapun itu, sampai sini paham?. oh iya satu lagi di larang menerima panggilan telfon dari luar selain orang rumah yang menelfon di luar"
"Saya gak setuju, aturan macam apa seperti itu, saya tidak setuju" tolak Lia peraturan yang di buat oleh Anand.
"Ya sudah kalau kamu gak mau menaati aturan yang saya buat, silahkan meninggalkan tempat ini." ucap Anand dengan mengancam Lia.
"Dasar gila" ucap Lia dengan pergi meninggalkan Anand.
Anand mendengarkan apa yang di katakan oleh Lia untuk dirinya, tapi kali ini ia membiarkannya.
Aturan macam apa itu yang semuanya di larang, kalau gini caranya bisa-bisa aku ikutan seperti dia, jadi nenek tua yang tak mendapatkan pasangan karna aturan sialan itu.
Lia kesal dengan Anand yang seenak jidatnya membuat aturan yang hanya menguntungkan dirinya saja. menurut Lia itu aturan tidak apa-apa buat Anand dan itu cocok untuk Anand yang seperti memiliki kepribadian aneh.
Anand menempelkan aturan di tembok kamar Lia di luar, di dapur. Anand sengaja menempelkan di tempat itu agar Lia tidak melupakan aturan yang ia buat.
****
Seperti biasa Lia menemani bi izah pergi ke pasar, dari belakang mereka di ikuti oleh orang lain. orang lain itu tak lain adalah ibu tirinya Mira dan saudaranya Serina.
Mereka menghalangi jalan Lia agar Lia tidak bisa kemana-mana.
"Waww hidupmu ternyata berubah Lia tapi penampilanmu tetap seperti gembel' ucap Mira tertawa dengan menghina Lia
"Apa yang kalian lakukan ke non Lia" ucap bi izah dengan mencoba membela Lia.
"Kamu manggil dia apa tadi non Lia, gak salah tuh?" ucap Mira dengan tertawa meremehkan Lia.
"Mau kalian apa?"
"Mau kami kamu gak usah ikut campur ini urusanku dengan dia" ucap Mira dengan mendorong bi Izah agar keluar dari pandangan Mira.
Mira menarik rambut Lia dengan keras.
"Kenapa kamu mau melawan Lia?"
"Lepaskan aku, apa yang kalian inginkan sekarang?"
"Aku gak perlu mengatakan apa yang aku inginkan"
Bi Izah berusaha melepaskan tangan Mira yang menarik rambut Lia.
"Lepaskan"
Mengingat bi izah sudah terpaut dengan umur yang sudah tak mudah lagi Mira mendorong bi Izah sampai terjatuh.
"Bi, bi Izah" teriak Lia melihat bi Izah yang terjatuh.
"Apa yang kalian inginkan?" teriak Lia dengan mencoba merontak namun Mira menarik rambut Lia dengan keras.
"Beraninya kamu teriak di depanku"
"Aauu..."
Dengan begitu jahat Mira menginjak tangan bi Izah untuk mengancam Lia. bi Izah berteriak karna kesakitan tangannya di injak.
"Lepaskan bi Izah, dia tidak bersalah Bu"
"Ibu ? kamu memanggilku ibu, ingat aku bukan ibumu" ucap Mira dengan menunjuk kepala Lia sambil mendorong-dorongnya.
"Aku akan melepaskan dia asalkan kamu mau membawaku ke rumah besar yang kamu tinggali sekarang"
Lia terkejut mendengar apa yang di inginkan oleh Mira. Lia yang tidak ingin berurusan dengan Anand. ia menolaknya.
"Aku gak bisa membawa kalian kesana"
"Kenapa? kamu takut jika aku menggantikan tempatmu di sana?" tanya Serina
"Kalian tidak boleh kesana"
Dengan kesal Mira menginjak tangan bi Izah lebih keras sehingga membuat bi Izah merintih karna kesakitan.
Bi Izah menatap Lia, ia menggelengkan kepalanya agar tidak menuruti keinginan Mira. bi Izah tidak ingin Lia di hukum lagi
"Aku akan membawa kalian kesana tapi lepaskan bi Izah"
"Baiklah" jawab Mira dengan melepaskan bi Izah.
pukul 9 pagi Lia dan bi Izah kembali tanpa berbelanja, mereka mengajak Mira dan Lia kesana. bi Izah dan Lia begitu takut jika ketahuan oleh Anand. mereka tidak tau apa yang akan di lakukan oleh Anand dan semarah apa dia kalau mengetahui ada orang asing masuk ke dalam rumahnya. sejauh ini yang bi Izah tau selain Lia dan Zey tidak ada yang berani datang kesana.
Mira tertawa senang masuk kedalam rumah Anand, ia berjalan menelusuri seluruh ruangan tapi ketika ia ingin masuk kedalam kamar Anand. Lia melarangnya karna ia tau bagaimana sikap Anand.
Mirapun tak memaksakan untuk masuk menurutnya tidak begitu penting. serina sedang duduk sambil menikmati tontonanya. mirapun ikut duduk menonton bersama dengan Serina.
Mereka di rumah itu seperti ratu yang selalu meminta ini itu ke Lia, jika tidak di turuti mereka akan menyiksa bi Izah dan menghancurkan yang ada di rumah itu.
Seharian Anand pun belum kembali, mira dan Serina menikmati apa yang mereka lakukan dengan menyiksa Lia menjadikannya pembantu mereka seharian ini.
Mira dan Serina pulang ke rumah mereka setelah bersenang-senang di rumah orang lain, mereka merasa puas tapi sebelum pergi mereka mengingatkan Lia bahwa mereka akan kembali besoknya lagi.
Lia terdiam mendengar apa yang Mira katakan tapi ia tidak ingin bi Izah terluka karna dirinya. Lia ingin melawan tapi dirinya tidak bisa karna ia tidak ingin orang lain terluka karna dirinya.
Malam itu Lia membersihkan semua dengan bersih sebelum Anand pulang, dan Lia juga mengobati tangan bi Izah yang memerah karna Mira.
"Bibi gak apa-apa?" tanya Lia dengan menyembunyikan kesedihannya
Bi Izah yang memiliki nurani keibuan, ia tau apa yang Lia rasakan hari ini. Lia tidak bisa menyembunyikannya ke Bi Izah sehingga bi izah memeluk Lia.
"Menangis lah, bibi akan selalu ada untukmu. kamu tidak seharusnya mengkhawatirkan bibi dengan membela bibi"
Lia menangis sesegukan mengingat ibunya yang sudah tidak ada lagi,jika ibunya masih hidup Lia yakin hidupnya akan baik-baik saja dan tidak ada lagi yang terluka demi dirinya.
"Maafin Lia bi, gara-gara Lia bibi terkena masalah juga"
"Gak Apa-apa non, bibi sudah menganggap non Lia seperti anak bibi dan sudah jadi tanggung jawab bibi melindungi non Lia dari mereka"
"Maafkan Lia bi"
"Iya, gak usah di pikirin ya. sekarang Lia pergi istrahat nanti kalau tuan Anand pulang biar bibi saja yang melakukan tugas non Lia"
"Tapi tangan bibi lagi terluka, biar nanti Lia aja bi"
"Ya sudah kalau tuan Anand pulang bibi akan memanggil Lia"
"Baik bi"
Lia pergi ke kamarnya untuk istrahat, di bawah selimut Lia menangis mengingat hidupnya yang begitu berantakan.